Vaksin Booster Tak Bisa Hentikan Sebaran Varian Baru

 


Oleh : Yuni Nisawati

Pegiat Literasi


Geger ‘Deltacron’, temuan ilmuan Sipras yang mengklaim ‘Deltacron’ adalah varian baru Corona gabungan Delta dan Omicron, tentunya kabar penemuan ‘Deltacron’ ini makin membuat khawatir. Namun, faktanya ini hanya rumor yang tidak ada dokumentasi ilmiah yang menguatkan keberadaannya. Hal ini terjadi karena ada tanda genetik mirip Omicron berada di dalam genom varian Delta. (health.detik.com, 10/01/2022)


Pemerintah memutuskan vaksinasi dosis ketiga atau vaksin booster dimulai 12 Januari 2022. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah akan mengumumkan vaksin booster diberikan secara gratis atau berbayar akan diputuskan usai rapat terbatas bersama dengan Presiden Joko Widodo. Namun, Menteri Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya menyebutkan, vaksin booster akan diberikan secara gratis dan berbayar yaitu 100 juta masyarakat golongan bawah yang akan mendapatkan vaksin booster gratis. (nasional.kompas.com, 06/01/2022).


Varian baru Corona sudah masuk ke Indonesia. Hal ini terjadi karena banyak yang melakukan liburan ke luar negeri, yang kemudian positif Corona varian baru yaitu Omicron ketika kembali ke tanah air. Kasus-kasus Covid yang tidak ada habisnya, yang terus memunculkan varian-varian baru. Ini yang membuat ekonomi semakin terpuruk. Selain itu pemerintah terus menggembar-gemborkan vaksin untuk penanggulangannya. Namun, sudah 2 tahun masalah Corona tidak terselesaikan. Membuat rakyat semakin tercekik dengan masalah ekonomi. 


Vaksin dijadikan bisnis untuk meraup keuntungan. Bisnis vaksin terus berjalan untuk mendapatkan sebuah keuntungan. Permainan dari berbagai pihak demi kepentingan pribadi. Banyak rumor-rumor yang sengaja dihembuskan seperti halnya munculnya varian Deltacron yang sampai sekarang tidak ada dokumentasi secara ilmiah yang menguatkan keberadaan Deltacron. Rumor-rumor semacam ini bisa membuat kepanikan di masyarakat, yang kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk mendapatkan keuntungan.


Banyak yang memanipulasi data, keadaan untuk mendapatkan keuntungan di sistem kapitalis. Sehingga banyak rakyat yang menjadi korban hanya untuk kepentingan pribadi para penguasa. Karena memang di sistem kapitalis siapa yang memiliki uang dan kekuasaan dialah yang berkuasa. Sehingga mereka dengan bebas memainkan media, data, dan lain sebagainya untuk mendapatkan keuntungan–keuntungan yang mereka inginkan. Seperti halnya media yang terus menggembar-gemborkan Corona. Banyak rakyat yang akhirnya mau untuk divaksin. Bahkan dengan kekuasaan, mereka memaksa rakyat untuk vaksin dengan cara mempersulit segala administrasi. Bisnis vaksin pun sukses. 


Selain hal itu, pemerintah yang cenderung setengah–setengah dalam menangani Covid membuat masalah Covid tak kunjung selesai. Corona pun tak kunjung hilang dan ekonomi semakin tak karuan. Ditambah dengan masyarakat yang masi suka bepergian keluar dan ke dalam negeri. Menambah daftar masalah Corona. Berbeda dengan Sistem Islam yang telah teruji pada zaman Umar r.a. Dimana semua rakyat tidak diperkenankan untuk ke tempat atau daerah lain. Baik daerah yang terdampak wabah ke daerah yang aman, atau daerah yang aman ke daerah yang terdampak wabah. Dan setiap kebutuhan rakyat seluruhnya ditanggung oleh pemerinta di masa itu. Sehingga, wabah tersebut dapat terselesaikan dalam kurun waktu kurang lebih 9 bulan. Sistem Islam adalah Sistem terbaik dari Allah SWT untuk menyelesaiakan segala permasalahan hidup. 


"Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari).