Solusi Koruptor yang Merajalela

 


Oleh : Yuni Nisawati


Berikut adalah deretan kepala daerah yang terjerat korupsi di 2021. Sepanjang tahun 2021, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menangani berbagai kasus korupsi yang melibatkan para pejabat kepala daerah yang meliputi gubernur dan bupati/walikota. 1. Mantan Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, 2. Mantan Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat, 3. Mantan Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari, 4. Mantan Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza, 5. Mantan Bupati Kuantan Singingi Andi Putra, 6. Mantan Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono. (suara.com, 25/2/2021).


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan terus bekerja memberantas tindak pidana korupsi. Pada tahun 2021 ini, KPK mengaku sudah menangani 101 perkara korupsi dengan menjerat 116 tersangka hingga November 2021. Menurut Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri penanganan perkara korupsi yang ditangani lembaga anti rasuah pada tahun ini lebih banyak dari tahun 2020, KPK menangani 91 perkara dengan 110 tersangka. (m.liputan6.com, 26/12/2021)


Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak pejabat yang terjerat korupsi. Bahkan ada beberapa yang secara terang-terangan bahwa korupsi adalah wajib. Karena banyaknya pejabat yang melakukan tidak korupsi, membuat masyarakat enggan percaya dengan para pejabat negara. Bahkan masyarakat selalu mempertanyakan kinerja para pejabat. Tidak hanya itu, banyak masyarakat yang cenderung masa bodoh dengan para pejabat. Karena terlalu banyak ulah para pejabat yang membuat masyarakat semakin tidak mempercayai kinerja-kinerja para pejabat. Mereka hanya mencari keuntungan bagi diri mereka sendiri tanpa memperdulikan kondisi dari rakyat.


Tidak heran dengan adanya pejabat yang korupsi. Bahkan setelah tertangkap pun mereka masih mendapatkan fasilitas-fasilitas seperti menginap di hotel berbintang 5. Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum. Karena mereka memiliki uang dan kekuasaan, sehingga mendapatkan fasilitas mewah. Itulah kejamnya sistem kapitalisme, tidak ada keadilan didalamnya. Siapa yang kaya dan berkuasa, ialah yang memegang kekuasaan. Tidak heran hukuman mati untuk para koruptor, praktiknya nihil.


Sistem kapitalis menawarkan kebebasan yang kekuasaan tertinggi dipegang oleh orang-orang yang memiliki jabatan dan uang. Jadi jangan heran apabila hukum tajam kebawah dan tumpul keatas. Banyak ketidakadilan terjadi di dalam sistem kapitalisme. Karena itulah banyak dari mereka yang melakukan segala cara agar tetap berkuasa dengan mempertahankan sistem kapitalisme dan memerangi orang-orang yang berbeda pendapat dan pikiran dengan mereka. Salah satunya dengan cara memfitnah dan terus menyerang umat islam. Menyerang orang-orang yang paham bahwa sistem kapitalis adalah sistem yang rusak dan tak layak pakai.


Itu yang harus kita sadari dan ketahui bahwa sistem kapitalis adalah sistem yang seharusnya tidak dipakai. Sistem Islam yang sempurnalah yang seharusnya diterapkan. Karena tidak adanya keadilan, hukum yang tebang pilih, tidak adanya kepedulian terhadap rakyat, di sistem kapitalis ini. Sistem Islam yang memberikan keadilan tanpa tebang pilih. Seperti potong tangan untuk para pencuri siapapun itu, namun dengan syarat hasil curian bernilai sesuai syarak. Begitulah seharusnya penerapan sanksi yang tegas. Sehingga tidak ada yang akan mengulangi perbuatan tersebut. Karena itu, sistem Islam yang sempurna dari Allah yang seharusnya kita pelajari dan terapkan untuk keadilan dan kesejahteraan rakyat.


“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Maidah: 38). 


Wallahualam bissawab.