Moderasi Kian Digencarkan, Ada Apa Gerangan?

 


Oleh Anis Fitriatul Jannah 

(Aktivis Muslimah)


Nampaknya ide moderasi tidak pernah usang, belakangan ini malah kian digencarkan. Tidak tanggung-tanggung, Kemendikbud dan Kemenag sampai menyusun kurikulum moderasi beragama untuk dunia pendidikan. Tidak lain sasarannya adalah para tenaga pendidik dan peserta didik. Sedangkan tujuan ide moderasi ini adalah untuk mencegah atau mengurangi tiga dosa besar yang ada dalam dunia pendidikan, salah satunya adalah intoleransi, sedangkan dua lainnya perundungan dan kekerasan seksual. 


Selain itu, penggelontoran anggaran moderasi beragama lintas direktorat jenderal tahun ini mencapai Rp3,2 triliun. Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto mengungkapkan hal itu pada malam peluncuran Aksi Moderasi Beragama yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) secara daring dan luring. (republika.id/posts/20756/dpr-anggaran-moderasi-beragama-naik-jadi-rp-32-t)


Jika diperhatikan dari tingginya penggelontoran dana, seolah-olah topik moderasi itu sangat genting untuk dibahas. Padahal, terlihat nyata bahwa program-program moderasi beragama merupakan cerminan akidah kapitalisme sekularisme. Dengan kata lain, agama hanya boleh diterapkan dalam ranah individu saja, bukan dalam bermasyarakat dan bernegara.


Kendati demikian, ide moderasi ini bukanlah hal baru. Ide ini merupakan kelanjutan dari statement "terorisme" yang sudah tak laku. Derasnya arus ide moderasi tak lain untuk merusak akidah ummat Islam itu sendiri. Karena sejatinya, ide moderasi merupakan gagasan kafir barat untuk menghadang Islam kafah.


Dalam hal ini, yang menjadi sasaran utama pengarusan ide moderasi adalah kaum milenial (generasi muda) melalui jalur di setiap jenjang pendidikan. Mereka telah dididik sejak dini agar memiliki paham 'moderat' yang tak lain ujung-ujungnya mengarah pada paham pluralisme dan sinkretisme, yang jelas-jelas kedua ide ini merupakan ide batil. 


Pluralisme merupakan paham yang menganggap bahwa semua agama sama di mata Tuhan. Inilah paham yang tak masuk akal, bahkan setiap penganut agama pun akan menolaknya jika mereka paham terhadap agamanya sendiri. Bagi seorang muslim, keyakinan terhadap kebenaran agamanya hendaknya 100%. Allah berfirman bahwasanya hanya Islamlah agama yang benar dan diridai. Seharusnya kita sebagai muslim meyakini dengan sepenuh hati bahwa agama Islam adalah yang benar.


Adapun sinkretisme adalah paham yang memadukan atau mencampuradukkan beberapa kepercayaan. Padahal telah jelas bahwasanya antara yang hak dan batil tidak akan pernah menjadi satu, bagai air dengan minyak.


Atas dasar inilah kita sebagai muslim hendaknya wajib menolak paham moderasi. Karena paham ini hanya akan menjauhkan generasi dari Islam kafah. Sebaliknya, Allah telah berfirman bahwasanya umat Islam harus berislam secara kafah (totalitas), sebagaimana firman-Nya:



يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَآ فَّةً  ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ  ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ


"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." (TQS. Al-Baqarah Ayat 208).


Dari sini kita pahami bahwa tidak ada istilah 'moderat' dalam beragama. Karena jika hal itu terjadi, maka akan menyebabkan kerancuan antara kebenaran dan kebatilan, sehingga muncul istilah 'abu-abu'. Padahal dalam Islam tidak ada yang 'abu-abu', karena antara hitam dan putih telah jelas perbedaannya. Sebagai generasi millenial, mari ber-Islam secara totalitas, dan bangga ber-Islam kafah. Moderasi beragama hanya akan menghambat penerapan Islam kafah.