Menjamurnya Pengemis, Butuh Solusi Sistemik


Oleh Sinta Nur Safitri Ramli

(Mahasiswa USN Kolaka)


Dilansir dari Telisik.id, Bulan suci Ramadan masih terbilang jauh. Akan tetapi, mulai banyak ditemui rombangan pengemis di tengah Kota Bau-bau. Ironisnya, para pengemis yang kerap beraksi di setiap simpang traffic Light (lampu merah) kebanyakan adalah anak-anak yang terbilang bocah.

Seperti halnya ditemui dua pengemis yang kerap nongkrong di simpang empat lampu merah, jalan Betoambari, lorong PK yang setiap harinya, kedua anak itu terlihat duduk di taman jalan menunggu para dermawan yang berbelas kasih kepada mereka.

Kegagalan Kapitalisme Melindungi Anak

Sejatinya, perlindungan anak adalah persoalan yang sangat penting demi mewujudkan sumber daya manusia yang unggul. Namun sayangnya, perlindungan anak hanya angan-angan kosong.

Meluasnya kesenjangan sosial antara kaya dan miskin dalam sistem demokrasi sangat begitu terlihat. Faktanya, hampir di setiap tempat baik di ibu kota atau pun daerah sangat mudah ditemukan pengemis dan gelandangan.

Dalam sistem demokrasi masyarakat sangat sulit mempercayai para penjabat yang katanya sedang menjalankan tugasnya untuk mengayomi rakyatnya. Seringnya mereka mendapat “janji pahit” dari setiap kebijakan yang mereka tetapkan untuk rakyat. Alih-alih memberantas kemiskinan dan menyejahterakan, faktanya angka penggangguran kian meningkat yang menyebabkan pengemis dan gelandangan juga bertambah.

Melihat banyak fakta yang terjadi, tampak jelas bahwa solusi yang sudah dilaksanakan juga belum mampu mencegah dan memberantas persoalan yang menimpa anak di Indonesia. Persoalan jelas sangat membutuhkan solusi yang menyentuh akar masalah. Hanya saja, solusi tidak akan pernah ditemukaan selama kapitalisme menjadi sistem yang mengatur hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya.

Selama kapitalisme ini diberlakukan, selamanya juga persoalan anak akan terus terjadi dan bertambah parah. Alih-alih memberantas, mencegah pun tidak akan mampu. Bukan hanya permasalahan yang menimpa anak saja, kapitalisme justru menumbuhsuburkan berbagai permasalahan kehidupan. Kapitalisme juga akan menjadikan anak sebagai komoditas yang dapat dieksploitasi demi keuntungan materi. Kapitalisme ini tidak akan benar-benar berpihak kepada kepentingan anak, karena yang diutamakannya adalah hanya keuntungan materi.

Selain itu, hal yang paling utama adalah hadirnya peran negara dalam menjamin setiap kebutuhan rakyat. Sebab salah satu faktor yang menyebabkan anak-anak mengemis adalah biaya hidup yang tak memadai terlebih lagi di kondisi pandemi seperti saat ini, mengakibatkan minimnya lapangan pekerjaan dan jumlah pengangguran yang terus meningkat. Alhasil anak-anak turut terlibat mencari nafkah meskipun dengan cara mengemis.

Anak Terlindungi dalam Sistem Islam

Islam adalah satu-satunya harapan dalam mewujudkan anak yang bahagia dan sejahtera. Dalam Islam, anak merupakan salah satu amanah yang harus dijaga, anak adalah calon pemimpin bangsa depan, aset bangsa yang sangat berharga. Oleh karena itu, harus dapat tumbuh dan berkembang optimal agar menjadi generasi penerus yang mumpuni. 

Islam mewajibkan keluarga untuk melindungi anaknya dan masyarakat memberikan lingkungan yang baik untuk mengantarkan anak-anak menjadi generasi yang bertakwa dan beriman, serta mampu untuk melindungi dan menjaga setiap anak dan mengurusnya dengan baik yang sesuai dengan aturan Allah. Regulasi untuk mengurus anak senantiasa berasaskan akidah Islam dan merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam hal ini Islam menekankan kewajiban sosial, mendorong sesama muslim untuk mengembangkan sikap peduli dan tolong menolong terhadap saudaranya yang ditimpa kesulitan. Orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir diingatkan oleh Rasulullah saw. untuk berjiwa pemurah dan gemar memberikan bantuan kepada muslim.

“Siapa saja yang melepaskan kesusahan seorang muslim di dunia, Allah akan melepaskan kesusahan dari dia pada hari kiamat. Siapa yang memudahkan seorang muslim yang sedang kesulitan, maka Allah mudahkan kesulitannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).

Setiap muslim harus selalu ingat bahwa di dalam harta mereka terdapat hak orang lain, yakni orang yang meminta-minta karena kebutuhan dan mereka terhalang mendapatkan harta. Oleh karena itulah, sudah semestinya seorang muslim tidak ragu mengeluarkan sebagian hartanya untuk menolong sesama.

Allah Swt. berfirman, "Pada harta-harta ada hak-hak untuk orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang tidak dapat bagian." (QS. Adz-Dzariyat [51] : 19).

Dengan demikian menyadari hakikat kepedulian sesama muslim, tak lepas pula dari peran negara yang semestinya mewujudkan semuanya. Sebab, tanpa peran negara akan seperti solusi tambal sulam, yang akan kembali mengulang kejadian yang serupa. Maka dari itu, hendaknya semua dapat terwujud dalam penerapan sistem Islam yang mengimplementasikan segala peraturan yang Allah Swt. perintahkan. Wallahualam.