Mengucapkan Selamat Natal sebagai Bentuk Toleransi, Bolehkah?

 



Oleh Nazwa Hasna Humaira

Pelajar dan Aktivis Dakwah


Di setiap bulan Desember dengan adanya perayaan khusus bagi umat kristiani yang disebut dengan Hari Raya Natal, beberapa tahun terakhir telah mencuat perdebatan mengenai hukum mengucapkan selamat Natal kepada umat kristiani. Ada yang mengatakan boleh dan yang lainnya mengatakan tidak boleh/haram.


Indonesia terkenal dengan negeri dengan keanekaragaman budayanya, begitu pun dengan keanekaragaman masing-masing pemeluk agamanya. Sehingga, pemerintah menjunjung tinggi toleransi antar agama dalam masyarakatnya. Dengan maksud agar menumbuhkan rasa saling menghargai dan menghormati diantara mereka, walaupun berbeda keyakinan.


Mengutip dalam bahasa arab, ucapan selamat mengandung makna tahni'ah. Berasal dari kata hanna'a yang artinya membahagiakan. Maka, dapat disimpulkan arti dari ucapan selamat ialah ikut serta dalam kegembiraannya dan menampakkan kegembiraannya. Sehingga, bila mengucapkan selamat atas suatu hal kepada orang lain, sama saja seperti mengikutsertakan diri dalam kebahagiaannya. Seperti halnya mengucapkan selamat atas perayaan Natal yang merupakan perayaan atas kelahiran Tuhan Yesus Kritus di alam dunia. 


Dari sini sudah jelas, saat kaum muslim mengucapkan selamat Natal berarti ia memiliki harapan kesejahteraan dan keberuntungan untuk kaum kristiani dengan kelahiran Tuhan Yesus Kristus, lalu ikut bergembira dan senang atas kelahiran Tuhan Yesus Kristus, juga pengakuan dan keridhaan terhadap kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Padahal mengucapkan selamat natal sangat dikecam oleh Allah Swt. dan akan menimbulkan kemurkaanNya. Allah Swt. berfirman:


"Sungguh kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah seorang dari yang tiga. Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Lalu mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (TQS al-Maidah [5]: 73-74).


Dengan adanya ayat di atas sangat jelas bahwa mengucapkan selamat hari Raya Natal kepada umat kristiani bertentangan dengan akidah Islam dan mengundang murka Allah. Maka, sebagai umat muslim sudah seharusnya menghindari perkataan selamat mengenai natal ini. Bila mengatakannya karena dalih  sebagai bentuk toleransi, sama saja hal tersebut masuk ke dalam golongan mereka (kafir). Rasulullah saw. bersabda:


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Siapa saja yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka" (HR Abu Dawud dan Ahmad).


Dalam sistem kapitalisme dan sekularisme ini, toleransi antar agama telah mengalami pergeseran makna yang sangat besar seperti, mengucapkan selamat Hari Raya Natal ataupun perayaan agama lain. Mereka berpikir berdasarkan ide pluralisme, yakni menyebut semua agama benar atau jangan merasa paling benar, sesama umat beragama harus saling menunjukkan perhatiannya dengan ucapan selamat atau merayakan hari istimewa kepada umat lainnya. Hal ini bisa meningkatkan rasa persatuan umat beragama di Indonesia.


Akan tetapi, dalam Islam hal seperti itu sudah jelas dilarang. Sebab, toleransi yang sebenarnya adalah  saling menghargai, menghormati, dan berbuat baik tanpa menyimpang dari arahan syariat. Dalam masalah toleransi, Islam adalah agama paling toleran. Agama sempurna yang memiliki aturan bagaimana cara menghargai tanpa melanggar rambu agama. Bahkan dengan aturan ini umat yang satu dan lainnya merasa aman dan tenteram dalam jaminan negara Islam. Oleh karenanya larangan mengucapkan natal sama dengan larangan untuk menyerupai kebiasaan kuffar. Hukumnya haram.


Keharaman mengucapkan Selamat Natal telah menjadi ijmak (disepakati) para ulama. Bahkan para ulama menyatakan, orang yang mengucapkan selamat hari raya kepada orang kafir layak dijatuhi hukuman ta’zîr.  Yaitu, hukuman yang dijatuhkan atas dasar kebijaksanaan hakim karena tidak terdapat dalam Al-Qur'an dan hadis. Ta'zir ini diberikan kepada para pelaku dosa yang sesuai dengan jenis pelanggarannya. Ia tidak dimaksudkan sebagai pembalasan melainkan sebagai penyadaran diri.


Ta'zir terdapat dalam 2 bentuk, yaitu: Pertama,  melalui perkataan. Seperti, mencegah, mencela, dan menasihati. Kedua, melalui perbuatan. Seperti, memukul, mencambuk, menahan dalam penjara, mengikat, dan hukuman mati. Pemimpin Islam pun akan menanamkan akidah Islam yang kuat kepada umatnya, agar mereka dapat senantiasa menjaga dirinya dari hal yang menyimpang di luar aturan Islam.


Ia akan memberikan tenaga pendidik yang layak bagi umatnya untuk mempelajari ilmu tauhid, adab, akhlak, dan lain sebagainya. Dengan begitu, kaum muslim akan mampu membedakan antara yang hak dan batil. Seperti halnya mengenai masalah toleransi terhadap agama lain.


Maka, hanya sistem Islam lah yang mampu membuka pikiran umat dengan benar terhadap permasalahan mengenai toleransi ini. Apa saja masalah dalam kehidupan dapat dituntaskan dengan berpedoman kepada Al-Qur'an dan Hadis yang mampu memberikan jawaban yang pasti untuk dapat menyelesaikan masalah yang menimpa umatnya.


Wallahu a'lam bi ash-Shawwab