Melawan Absurditas Konsep Moderasi Beragama


Oleh Ummu Azka


Isu moderasi beragama menjadi populer belakangan ini. Bukan tanpa sebab, konsep tersebut sudah masuk dalam draft Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2020-2024. Artinya, pemerintah akan terus menggenjot konsep moderasi beragama agar terserap oleh khalayak dalam hal ini masyarakat, melalui berbagai kesempatan. 

Kementrian agama (Kemenag) sebagai corong sosialisasi bagi program moderasi beragama melalui Menteri Agama mengatakan bahwa pentingnya toleransi dan moderasi dalam memperkuat negara bangsa. Secara substansi, moderasi dan toleransi mengajak umat beragama agar berada di jalur tengah atau moderat. Dengan mengambil jalan tengah diharapkan semua umat beragama bisa bersatu, duduk bersama dan melakukan yang terbaik untuk bangsa.

Hal ini disampaikan Menag saat menjadi pembicara dalam gelaran Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP) Angkatan 9 Sekolah Pemimpin Muda Indonesia secara daring. Webinar ini diikuti ratusan peserta yang berasal dari tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pimpinan organisasi kepemudaan.

"Kita akui ada fakta dalam kehidupan sehari-hari ini, ada orang yang memaknai agama itu di satu sisi sangat ekstrem dengan tidak mentolelir orang yang berbeda keyakinan agama dengannya. Bahkan dengan jamak, kita temukan orang dengan mudah mengatakan bahwa orang yang berbeda dengannya itu dianggap musuh dan oleh karena itu harus diperangi secara ideologi dan politik. Di sisi lain, ada juga sekelompok orang yang skeptis dengan agama dan merasa tidak perlu lagi ada agama. Kelompok ini memandang agama sebagai jalan buntu daripada jalan keluar," kata Menag, Kamis (7/10/2021).

Pernyataan Menteri Agama terkait moderasi beragama terdengar seperti sebuah langkah tepat untuk menyatukan elemen bangsa. Diksi yang diambil untuk menyampaikan maksud moderasi beragama sekilas tampak baik dan akomodatif. 

Namun kemudian, wajah asli konsep moderasi beragama bisa terlihat jelas saat kita membaca buku terbitan kemenag yang berjudul Moderasi Beragama. Buku setebal (berapa halaman) memuat konsep moderasi beragama dari hulu ke hilir. Pada halaman 47 tepatnya masuk dalam bab Pandangan konseptual moderasi beragama terungkap bahwa terdapat dikotomi yang jelas dibuat terkait pemahaman ekstrem kiri dan ekstrem kanan. 

Narasi yang dipakai untuk menggambarkan keduanya cukup provokatif, misalnya dalam menjabarkan kaum yang disebut ekstrem kanan mereka menyebut bahwa orang-orang dengan pandangan ekstrem kanan merupakan pihak yang memahami agama secara konservatif. Mereka mengartikan dalil secara tekstual tanpa mengerti paham konstektual. Kaum ekstrem kanan pula disebutkan memiliki karakter memaksa dan menyalahkan orang lain yang berbeda pemahaman. 

Jika dibaca dengan seksama, penjelasan di atas diwarnai dengan narasi yang menjebak disertai diksi yang merusak pemahaman kaum muslimin. Lebih ironis lagi karena tuduhan radikal ditujukan pada mereka yang bergerak di atas landasan amar makruf nahi mungkar dan berupaya melaksanakan syariat Islam dalam tataran yang komprehensif.

Bahkan lebih jauh lagi, paparan konsep moderasi beragama bisa dimaknai sebagai sikap intoleransi pemerintah terhadap gerakan Islam yang menginginkan kebangkitan. 

Dikotomi yang sengaja dibuat dalam penjelasan konseptual moderasi beragama akan membuat masyarakat bingung dalam memaknai ajaran Islam. Bahkan hal tersebut akan membuat perpecahan di kalangan kaum muslimin. Umat akan merasa bahwa menjalankan amar makruf nahi mungkar adalah bagian dari radikal dan ekstrimis. Umat Islam akan merasa bahwa dalam beragama cukup melibatkan diri pada tataran ruhiyah tanpa peduli urusan muamalah sesuai syariat. 

Jika demikian lambat namun pasti Islam tercabut dari jiwa-jiwa pemeluknya dan digantikan dengan konsep hidup ala barat. Inilah bentuk penggiringan sempurna kepada kaum muslimin agar mereka semakin jauh dari agamanya. Memahami agama secara dangkal dan menganggap aturan agama sebagai tabu dan candu. 

Umat Islam yang terbius dengan konsep ini menjadi seperti kerbau dicocok hidungnya. Mereka akan menurut sesuai perintah tuannya, berjalan kemana saja dan melakukan arahan tuannya. Goal sejati dari imperialisme di kalangan umat Islam bisa tercapai dengan sempurna. 

Sampai di sini jelas sudah jika moderasi beragama merupakan konsep absurd bagi persatuan dan kesatuan bangsa, dan berbahaya bagi umat Islam di manapun mereka berada. 

Lawan Moderasi Beragama dengan Dakwah

Moderasi beragama menjadi konsep sempalan yang mutlak harus ditolak oleh umat Islam. Kehadirannya seperti benalu yang akan menggerogoti akidah umat Islam hingga perlahan namun pasti terkikis. 

Untuk itu perlu sebuah upaya konkret agar konsep moderasi beragama dipahami sebagai sebuah friksi bukan solusi. Tak ada langkah tepat memahamkan umat selain dengan terus berdakwah menyuarakan Islam kafah. Menjelaskan kepada khalayak bahwa Islam merupakan ajaran komprehensif meliputi akidah dan syariat. Akidah sebagai pondasi awal untuk meyakini Allah sebagai Pencipta dan Pengatur kehidupan. 

Sementara syariat berisi panduan bagi manusia dalam menjalani seluruh aspek kehidupan. Terikatnya seorang muslim dengan syariat kafah merupakan konsekuensi dari akidah. Pemahaman yang utuh tersebut akan menjadikan umat mengerti bahwa tak ada pilihan lain yang akan mengantarkannya kepada kebahagiaan hakiki selain menjalani hidup sesuai dengan aturan Sang Pemilik Semesta. 

Upaya menangkal pemikiran fasad merupakan bagian dari aktivitas amar makruf nahi mungkar yang Allah syariatkan. Seperti yang tertuang dalam QS Ali Imran ayat 104: "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung".