Krisis Energi Listrik dan Solusinya

 


Oleh Surahmi

(pemerhati persoalan publik)


Energi listrik merupakan hal yang sangat mendesak dalam kehidupan manusia. Apalagi di era digital sekarang ini. Listrik Sangat berdampak besar bagi kehidupan manusia dalam memenuhi segala keperluan hidupnya. Kehidupan manusia menjadi lebih mudah dengan adanya listrik. Namun krisis energi listrik tengah mengancam Indonesia. Hal ini diakibatkan pasokan batubara sebagai pembangkit listrik di PLN sedang mengalami defisit. Diperkirakan ketersediaan batu bara berada di bawah batas aman paling tidak 15 hari berikutnya. Akibat kurangnya pasokan batu bara ini dapat berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PT PLN (Persero), mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali dan sekitarnya.


Melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pemerintah belakangan telah mengeluarkan kebijakan pelarangan ekspor batubara bagi perusahaan produsen batubara. Hasil riset dari lembaga penelitian Institute for Essential Services Reform (IESR) menerangkan bahwa faktor yang paling mendasar adalah  krisis batubara bagi PLN. Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa mengungkapkan terjadi ketidakefektifan dalam memenuhi kewajiban pasokan atau Domestic Market Obligation (DMO) yang ditarget sebesar 25% dari produsen batubara. Hal ini menjadi sebab utamanya.


Lebih jauh pemerintah dalam hal ini Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang disampaikan oleh Erick Thohir, memberikan ketetapan dalam menghadapi krisis batubara yang menerpa PT PLN (Persero) haruslah melalui perubahan di PT PLN, mulai dari restrukturisasi direksi, merencanakan pembuatan subholding Power Plant atau Pembangkit dan mendorong keberlanjutan modifikasi energi baru terbarukan (EBT) yang sejalan dengan komitmen zero emission 2060. (okezone.com, 4/1) 


Bila kita telaah lebih jauh faktor mendasar penyebab kelangkaan bukan menipisnya eksplorasi Batubara. Akan tetapi pengelolaan batu bara oleh swasta, telah memberi peluang bagi ekspor batu bara. Hal ini dikarenakan adanya disparitas harga dalam negeri dan luar negeri. Pola pikir kapitalisme yang tersistematis telah menjadikan keuntungan materi sebagai orientasi utama. Bukan lagi prinsip pelayanan. Perombakan manajemen PLN dan peta jalan menuju energi bukan solusi, tetapi diperlukan penyelesaian mendasarnya.


Dalam Islam Rasulullah saw. Telah bersabda: "Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara yaitu rumput, air dan api". (HR. Abu Dawud dan Ahmad). 


Hadist tersebut mengingatkan kepada kaum muslimin bahwa manusia berserikat atau berhak atas air, padang rumput, dan api. Ketiga hal tersebut  tidak boleh dimiliki oleh individu. Api di sini meliputi segenap sumber energi yang menguasai hajat hidup orang banyak. Termasuk di dalamnya listrik. Apapun yang berkenaan dengan listrik haruslah dikelola oleh negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Bahkan tarifnya haruslah terjangkau oleh rakyat atau bahkan tanpa kompensasi sama sekali. Hal ini untuk menunjang kesejahteraan rakyat.