Kisah Layangan Putus yang Menyerang Syariat


Oleh Iis Cahyati

(Komunitas Ibu Peduli Generasi)


Layangan Putus adalah salah satu serial drama yang lagi banyak digandrungi oleh semua kalangan, di dalamnya menceritakan tentang prahara rumah tangga. Diambil dari kisah nyata seseorang yang ditulis lewat akun pribadinya. Karena kisah ini menarik perhatian para netizen, maka produsen pun tertarik untuk membuat kisah ini lalu dikemas menjadi drama series yang dibintangi oleh para aktor dan artis. Walhasil kisah ini menjadi idola. 

Layangan putus mengisahkan tentang prahara rumah tangga yang bubar lantaran sang suami diam-diam menikahi perempuan lain. Kecurigaan tersebut baru diketahui setelah sang suami menghilang selama dua belas hari serta tidak bisa dihubungi. Kecurigaan itu membuat sang istri ingin membuka hp suaminya. Dan diketahui bahwa faktanya sang suami telah melakukan poligami yang menikah lagi dengan perempuan lain. 

Namun ketika tontonan tak lagi menjadi hiburan, tak sedikit di antara mereka yang tidak merasa puas. Berbagai macam ekspresi mereka lakukan sampai ada beberapa netizen yang membuat video tik tok, untuk memerankan adegan yang sama mirip dengan peran idolanya. Bahkan ada pula respon yang lain, akibat darinya ada yang membuat mereka tidak ingin menikah karena takut dipoligami serta ada juga perasaan curiga yang begitu besar terhadap pasangannya. Seperti yang dilansir dari pikiranrakyat.com (3/01/2022). Seorang pria jadi korban drama layangan putus, ketika pergi ke bengkel untuk memperbaiki truknya diikuti oleh istrinya karena takut dipoligami.

Banyaknya warga yang antusias terhadap drama ini, membuat poligami menjadi mangsa empuk untuk menghantam syariat Islam. Kisah ini tentu saja menjadi bahan gorengan yang renyah di kalangan pembenci syariat Islam, untuk menyudutkan Islam terkait aturan poligami. 

Seorang muslim harusnya bijak dalam mengambil sikap, dan berpikir cemerlang atas segala hal. Bahwa memang poligami itu berat ketika dilakukan, dengan cara yang tidak benar. Dan kekecewaan terhadap orang yang melakukan poligami. Namun, di sini kita tidak boleh menjadi membenci pada syariat Islam, itu namanya kekecewaan yang membabi buta yang akan dimurkai oleh Allah Swt. Isu poligami ini akan terus digoreng dan dicari-cari kesalahan untuk mendiskreditkan Islam.

Padahal kedudukan poligami itu adalah syariat dan solusi, seperti bagaimana para istri yang tidak dapat memberikan keturunaan. Istri yang sakit dan tidak dapat melayani suami, para janda yang meninggal akibat jihad. Jadi bukan sekadar nafsu belaka.

Semoga kisah layangan putus ini menjadi bahan renungan untuk kita semua, bahwa poligami itu ada aturannya. Jangan hanya sekadar main jalan saja dengan istri baru, sedang istri pertama ditinggalkan. Harusnya walaupun poligami itu sah tanpa izin istri pertama, janganlah melakukan dengan sembunyi-sembunyi ajarkan dulu ilmu kepada istri, ajak dan rangkullah istri dalam memahami syariat Islam yang mulia ini dengan seksama.

Jika istri mengizinkan dan ikhlas dipoligami, alhamdulillah. Tetapi jika menolak dan memilih bercerai, maka untuk suami berpoligami tahanlah dulu jangan memaksa. Bukankah mempertahankan rumah tangga itu wajib dibandingkan dengan poligami yang hukumnya mubah. Jangan merusak citra poligami itu buruk di mata orang-orang yang sebagian besar adalah kaum hawa, dan menjadi incaran kaum feminis untuk menjelekkan Islam.

Karena itu, bila khawatir tidak mampu berbuat adil maka seorang lelaki hendaknya menikah dengan jumlah istri yang mampu dipenuhi keadilannya. Jika tidak mampu berbuat adil dalam poligami, hendaknya mencukupkan diri dengan satu istri. Sebab keadilan ini hukumnya adalah wajib.

Allah Swt. berfirman yang artinya, “Bila kalian khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim perempuan, maka nikahilah dari perempuan-perempuan yang kalian sukai, dua, tiga atau empat. Lalu bila kalian khawatir tidak adil (dalam memberi nafkah dan membagi hari di antara mereka), maka nikahilah satu orang perempuan saja atau nikahilah budak perempuan yang kalian miliki. Yang demikian itu lebih dekat pada tidak berbuat aniaya.” (QS. An-Nisa' [4]:3).

Wallahualam bissawab.