Bahagia dengan Islam


Oleh Ulfah, S.T. 


Semua orang pasti ingin hidupnya bahagia dan jauh dari banyak masalah. Sehingga banyak cara yang kadang orang lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan yang diinginkannya tanpa mempedulikan halal dan haram. Bahagia yang terkadang kita definisikan dengan rasa senang, tentram dan jauh dari banyak masalah serta tercapainya segalah keinginan, bisa makan enak, punya pasangan yang setia, punya kulit yang cantik dan masih banyak lagi definisi bahagia yang kita punya, karena bahagia menurut setiap orang itu berbeda-beda. 

Berbeda dengan Islam, menempatkan bahwa bahagia adalah ketika seorang mukmin saleh yang selalu taat akan menunaikan hak-hak Tuhannya dan memenuhi hak-hak akan makhluk lainnya dengan berpedoman kepada syariat, baik lahir maupun batin. 

Jadi sebagai seorang muslim, alangkah baiknya jika kebahagian yang ingin kita raih dilandaskan pada syariat dengan memperhatikan halal dan haram dalam timbangan syariat, agar aktivitas yang kita lakukan senantiasa meraih berkah dan mengantarkan kita kepada kebaikan dunia dan akhirat. 

Juga sebagai seorang muslimah hendaknya kita tetap memelihara kesucian dan meningkatkan kualitas diri dengan ketaatan kepada Allah Swt. Di mana kita harus mengendalikan diri kita dari berbagai macam aktivitas yang dapat melalaikan kita dari kenikmatan akan ketaatan. 

Pada sistem sekularisme yang menjadi asas kehidupan saat ini banyak kita temukan aktivitas yang kadang membuat seorang muslimah itu lalai terutama yang berkaitan dengan fashion dan gaya hidup yang jauh dari Islam. Seperti menggunakan outfit kekinian yang jauh dari kata syar'i, budaya hidup hedonisme yang berlebih-lebihan, mengkoleksi barang (sepatu, baju, tas, dan lain-lain) padahal sebenarnya tidak terlalu urgent untuk digunakan. Sehingga kadang dari kita yang merasa masih serba kekurangan menjadi kurang bersyukur dan menjadi insecure lantas dengan mudahnya melakukan berbagai macam cara untuk menyamai gaya hidup orang lain. Padahal jelas dalam Islam segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini akan dimintai pertanggungjawabannya. Sesuai dengan firman Allah Swt.: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al-Isra` : 36).

Namun, yang terjadi saat ini banyak kita jumpai wanita-wanita yang cenderung mendefinisikan bahagia dengan kebebasan yang ditawarkan sistem sekularisme seperti fashion dan gaya hidup hedonisme. 

Hal ini disebabkan karena muslimah tidak mau belajar Islam kafah ditambah dengan tidak mempunyai circle yang mampu menasehati ketika melakukan kelalaian, maka muslimah akan dengan mudahnya terlena dengan nikmat dunia.

Oleh karena itu, jadilah wanita yang senantiasa mau hidup bahagia ketika terikat pada hukum syara dengan cara terus mengkaji Islam kafah. Sebab dengan mengakaji Islam kafah, maka kita akan mengetahui untuk apa sebenarnya kita diciptakan dan tujuan kita hidup itu apa, sehingga apabila datang masalah kepada kita yang membuat kita sedih, kecewa, cemas dan lain sebagainya yang membuat kita kehilangan keceriaan dan merasa seolah-olah makhluk paling menderita di muka bumi.

Atau bahkan ketika ditawari dengan nikmat dunia yang cenderung melalaikan, maka dengan mudah kita dapat mengendalikan diri untuk tetap menjauhi segalah macam larangan Allah Swt. serta dengan mudah dapat menjalankan perintahnya. 

Tetaplah yakin bahwasannya kebahagiaan yang sebenarnya itu adalah ketika kita memiliki nikmat iman dan Islam di dalam hati kita serta mampu menjalankan segala aktivitas dengan harapan aktivitas kita dapat mendatangkan keberkahan dunia dan akhirat. Teruslah meningkatkan kualitas diri sebagai seorang muslimah dengan belajar, karena kelak wanita adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya. Wallahualam bissawab[]