Kehidupan yang Abadi


Oleh Sarah Siti Maryam, S.Farm

(Pengajar)


Di dunia ini tidak ada yang abadi dan semuanya akan pergi tidak akan kembali untuk selamanya. Jika seekor hewan telah mati, maka ia akan meninggalkan belangnya dan taringnya. Jika seseorang telah meninggal, maka tidak ada yang tersisa kecuali amal saleh, kenangan dan nama. Banyak dari kita yang telah meninggal dunia di usia muda dalam keadaan sehat, cantik, berkarir tinggi dan kaya raya. Seperti yang akhir-akhir ini yang sedang viral atas kecelakaan lalu lintas yang dialami sepasang artis muda sampai merenggut nyawa di tempat itu juga, dan yang dialami artis muda yang mengalami kecelakaan sampai lumpuh total dan akhirnya menghadap Sang Illahi. 

Waktu begitu singkat rasanya baru kemarin kita menjadi anak-anak. Itulah kehidupan, kehidupan kita tidak akan selamanya, tapi akan kembali kepada Sang Pencipta yaitu Allah Swt. Allah adalah yang Maha Menghidupkan dan yang Maha Mematikan atas makhluk-Nya termasuk kita sebagai manusia. Dan Allah juga akan menghisab perbuatan-perbuatan yang telah kita jalani selama di dunia. Sehingga kita sebenarnya hidup untuk selamanya menghadap Sang Illahi (akhirat). Baik-buruk perbuatan kita di dunia akan memengaruhi posisi kita di akhirat. 

Tapi yang mengherankan banyak perilaku orang-orang terutama para remaja yang mengabaikan perkara-perkara yang bisa menjerumuskannya ke akhirat seperti melakukan maksiat kekerasan seksual, tawuran, pesta miras bahkan demi bucin (budak cinta) ia menjual perabotan ibunya sampai menjual genteng. Astagfirullah, miris rasanya dan sangat disayangkan negeri yang mayoritas muslim dan beradab ini ternyata remajanya sedang “sakit”. Penyakit ini diakibatkan karena sistem pergaulan yang mendukung ke pergaulan bebas, tidak adanya hukum yang tegas untuk menangani “kenakalan remaja”, yang ada malah dianggap wajar dan diselesaikan dengan cara damai. Jika ini dibiarkan berlarut-larut penyakit yang ada akan menularkan kepada yang lain dan akhirnya negeri kita tidak punya penerus generasi. 

Begitu meruginya manusia jika menyia-nyiakan waktu yang dipakai untuk hal-hal yang tidak berguna yang akan menjerumuskannya ke dalam keharaman sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-'Ashr ayat 1-3 yang artinya: “Demi masa. Sesungguh, manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”.

Maka dari itu, kita harus kembali kepada aturan Allah dengan cara menerapkan hukum Allah secara kafah/menyeluruh dalam naungan khilafah. Allahlah yang menciptakan kita sebagai makhluk-Nya dan Allah juga yang mengatur makhluk-Nya. Dengan aturan yang Allah buat, kita akan selamat dunia akhirat. Aamiin semoga kita termasuk orang-orang yang tidak merugi.