Warganet Terpapar Konten Medsos Selama Pandemi

 


Oleh Ummi Nissa

Penulis dan Member Komunitas Muslimah Rindu Surga

Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya regulasi yang jelas terhadap batasan konten negatif, yang tidak boleh diproduksi dan diedarkan. Terkadang justru membatasi terhadap konten islami sebab dianggap radikal, sementara konten yang mengadung unsur pornografi, atau tidak berfaedah tetap dibiarkan.


Hampir dua tahun negeri Indonesia berada dalam kepungan pandemi Covid-19. Hal ini berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, ekonomi, tak terkecuali interaksi  sosial masyarakat.

 

Dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan dari rumah, terjadi migrasi kegiatan dari dunia nyata ke  dunia maya. 

Penggunanan teknologi digital menjadi sarana yang mempermudah aktivitas di masa pandemi. Akan tetapi dengan masifnya pemanfaatan teknologi ini banyak warganet yang terpapar konten negatif.

 

Sebagaimana yang disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika Jonny G Plate, dalam Word Economic Forum (WEF) Global Coalition on Digital Safety Inaugural Meeting 2021. Ia mengatakan konten negatif marak tersebar di internet akibatnya menyesatkan masyarakat selama pandemi.


Menurutnya, pemerintah telah berupaya untuk mencegah penyebaran konten “hoaks”, mis-informasi, dis-informasi, serta mal-informasi. Misalnya, kominfo telah bekerjasama dengan 108 komunitas, akademisi, lembaga pemerintah hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk memberikan literasi digital kepada masyarakat. Dengan harapan agar masyarakat dapat memahami informasi yang akurat. (viva.co.id, 22/9/2021)


Meskipun telah ada upaya yang dilakukan untuk meredam penyebaran konten negatif, tetapi pada faktanya tetap saja konten ini banyak beredar. Hal ini disebabkan karena  upaya pencegahan tidak dilandasi pada ketakwaan. Nilai-nilai agama disandera dalam urusan kehidupan termasuk untuk aktivitas di media sosial. Paham liberal (kebebasan) menjadi standar dalam bertingkah laku baik di dunia maya maupun di dunia nyata.


Kondisi ini mengacu pada penerapan aturan kehidupan yang berdasarkan sistem kehidupan yang sekuler kapitalis. Dalam aturan ini kebebasan individu menjadi hal yang diagungkan, salah satunya kebebasan dalam berekspesi dan berekonomi. Sehingga bagi para pembuat konten bebas mengekspresikan apa pun baik yang dirasakan, atau yang dipikirkan. Mereka memproduksi karyanya selama diterima oleh para warganet. Sekalipun informasi yang dibagikan tidak bermanfaat atau bahkan tidak akurat (hoaks) yang dapat menyesatkan.


Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya regulasi yang jelas terhadap batasan konten negatif, yang tidak boleh diproduksi dan diedarkan. Terkadang justru membatasi terhadap konten Islami sebab dianggap radikal, sementara konten yang mengadung unsur pornografi, atau tidak berfaedah tetap dibiarkan.


Ditambah lagi adanya kebebasan berekonomi, dimana keuntungan materi menjadi tujuan dalam segala aktivitas termasuk membuat konten. Semakin banyak followers maka semakin besar pula nilai materi yang didapat. Oleh karena itu wajar jika faktanya konten yang tidak mendidik terus diproduksi dan di-share seluas-luasnya. Karena dengan itu akan mendatangkan pundi-pundi rupiah.


Apalagi dalam kondisi pandemi dimana banyak orang yang sepi job dan pendapatan menurun. Ketika ada peluang untuk meraup keuntungan melalui teknologi digital, maka tidak heran banyak yang memanfaatkan kesempatan ini. Tanpa berpikir panjang apakah buah karyanya dapat memberi informasi yang bermanfaat atau justru sebaliknya memberikan informasi yang meyesatkan. 


Dalam rangka mencegah munculnya beragam konten yang membawa pengaruh negatif, maka dibutuhkan sistem aturan yang kompeherensif yang dapat mengatur seluruh urusan kehidupan. Baik interaksi manusia di dunia maya maupun di dunia nyata.


Semua ini hanya akan didapatkan dari aturan Islam. Sebab Islam merupakan agama yang sempurna. Mengatur manusia dalam seluruh aspek kehidupan dengan landasan keimanan.

Pemanfaatan teknologi informasi dalam Islam ditujukan agar media di dalam negeri dapat menyebarkan informasi yang mendidik, sehingga mengokohkan suasana keimanan, mendorong masyarakat lebih cerdas dan bertakwa. Sementara ke luar negeri sebagai sarana untuk menyampaikan informasi yang Islami dalam rangka dakwah penyebaran Islam.


Dengan demikian teknologi informasi dapat menjadi sarana yang dapat menjelaskan tuntunan kehidupan yang berdasarkan aturan Islam. Di samping itu, media sosial juga dapat menjadi sarana informasi, edukasi persuasi, serta hak berekspresi publik dalam rangka amar makruf nahi mungkar dan muhasabah lil hukam (mengoreksi penguasa).

Maka landasan keimanan dan ketakwaan menjadi rem bagi pengguna media sosial. Mereka akan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi ini dengan bijak, hanya untuk menyebarkan informasi yang benar dan akurat. Sebagaimana firman Allah Swt.:


“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang paling baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. (QS. Al-Israa: 53)


Selain itu dengan landasan keimanan, masyarakat juga akan menjadi kontrol sosial untuk  memilah dan memilih informasi yang akurat. Sehingga mereka tidak terjebak dalam menyebarkan berita bohong, atau mis-informasi ataupun konten yang dianggap negatif.


Sementara negara memiliki peran strategis dalam rangka membuat regulasi yang jelas. Merinci batasan konten-konten informasi yang dibolehkan dan yang dilarang. Aturan ini mengacu pada syariat yang digali dari sumber yang sahih yakni Al-Qur’an dan as-sunah.


Selanjutnya, negara juga akan mengawasi setiap informasi, konten-konten yang tersebar ke masyarakat dengan mengangkat orang-orang yang kompeten di bidangnya. Negara menjadi filter informasi sehingga yang tersebar adalah berita yang akurat dan konten positif. 

Semua upaya tersebut harus didukung oleh sistem politik yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan. 


Hanya dengan sistem Islam yang sempurna, warga masyarakat dapat terhindar dari penyebaran informasi yang tidak akurat baik hoaks, mis-informasi, dis-informasi, ataupun konten negatif.


Wallahualam bissawab.