Usut Tuntas Kasus Penyerangan Simbol Agama


Oleh Ummu Azka


September menjadi bulan yang tak biasa bagi pemuka agama Islam. Lebih dari setahun lalu di bulan yang sama, publik dikejutkan dengan penyerangan terhadap ulama Syekh Ali Jaber (Alm). Kini kejadian serupa kembali terulang dengan maraknya penyerangan orang tak dikenal kepada ustadz, imam masjid, dan juga simbol agama Islam. 

Pertama, pembakaran mimbar masjid raya Makassar pada dini hari tanggal 25/9/2021 oleh seorang pemuda tak dikenal. Mimbar tersebut dirusak menggunakan sejadah yang sebelumnya dibakar lantas dilemparkan ke arah mimbar. Pembakaran itu akhirnya mengenai beberapa Al-Qur'an yang berada di sekitar mimbar tersebut. 

Polrestabes Makassar sudah bertindak dan menangkap pemuda pelaku perusakan berinisial KB. Kapolrestabes Makassar Kombes Witnu Urip Laksana telah mengamankan barang bukti berupa sisa sejadah yang dibakar untuk merusak mimbar. Selain itu kepolisian mengamankan satu botol berisi minyak tanah yang digunakan sebagai bahan bakar dalam aksi perusakan tersebut. 

Hingga kini motif pelaku merusak mimbar diketahui karena sakit hati kepada pengurus masjid. 

Kejadian berikutnya adalah penyerangan seorang tak dikenal kepada seorang ustadz di Batam pada hari Senin 20/9/2021. Ustadz muda bernama Abu Syahid Chanioago tersebut diserang dalam keadaan menyampaikan ceramah di masjid. Melihat pelaku yang hendak menyerang, Ustadz Abu Syahid berlari ke arah jamaah. Dari sisi jamaah terlihat beberapa ibu-ibu yang kesal melihat pelaku lantas menyerang pelaku dengan peralatan seadanya di dalam masjid. Untuk menghindari penganiayaan berlebihan, pelaku telah diamankan oleh kepolisian untuk tindak lanjut pemeriksaaan. 

Penyerangan terhadap muslim dan simbol agama Islam menghadirkan banyak spekulasi publik. Dari mulai waktu kejadian yang semuanya terjadi pada bulan September membuahkan sejumlah kecurigaan terkait hadir kembalinya komunis di negeri ini. Peristiwa G 30 S/PKI menjadi alarm bersama bahwa partai komunis pernah menancapkan eksistensinya dalam merusak tatanan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. 

Opini inilah yang santer di lapangan terlebih dari pengalaman kasus sebelumnya, pelaku penyerangan terhadap ustadz berakhir di kepolisian dengan cap orang gila. Jika demikian, maka kasusnya dipastikan menguap dan selesai begitu saja. 

Masyarakat yang kesal hanya bisa melayangkan komentar tanpa bisa berbuat lebih, karena bagaimana pun negara sebagai pembuat kebijakan adalah pihak yang paling berwenang dalam hal ini. 

Karenanya saat kejadian serupa terulang kembali, maka masyarakat sangat berharap negara melalui aparat berwenang bisa serius menyingkap pemain sesungguhnya di balik penyerangan para tokoh agama dan penyerangan simbol agama. 

Keseriusan negara mengusut tuntas kasus ini menjadi bukti bahwa penguasa memuliakan agama. Sebaliknya abainya negara terhadap setiap kasus penistaan agama Islam hanya akan membenarkan asumsi yang berkembang bahwa hubungan penguasa dengan ideologi sayap kiri (komunis) kini makin harmonis. Wallahu a'lam bissawab.