Ulama dianiaya, Simbol Agama dirusak, dimana Peran Negara dalam Melindungi Keamanan dan Keyakinan Rakyat?


Oleh Yuliyati Sambas

Pegiat Literasi Komunitas Penulis Bela Islam AMK


Negeri ini telah mengalami rawan atas keamanan. Terlebih bagi para pemuka agama Islam. Mereka yang semestinya mendapat pemuliaan karena kiprahnya membimbing umat, justru kini berada di posisi yang mengkhawatirkan terkait keamanannya.


Ulama dianiaya, Simbol Agama Islam dirusak

Selama beberapa tahun terakhir ramai diberitakan media, hal miris dan mengiris hati. Para ustaz (asatiz) dan ulama menjadi target penganiayaan bahkan percobaan pembunuhan. Kabar terbaru datang secara beruntun mulai dari kasus pembacokan pada seorang ustaz di Bekasi Jawa Barat, 21 September 2021; penembakan yang mengakibatkan wafatnya Ustaz Marwan di Tangerang, 18 September 2021; dan pemukulan pada Ustaz Abu Syahid Chaniago di Batam ketika beliau mengisi kajian taklim ibu-ibu di Masjid Baitusyakur, 20 September 2021. Masih lekat di ingatan peristiwa pilu menimpa Syekh Ali Jaber. Beliau mendapat tusukan benda tajam ketika sedang menjalankan safari dakwah ke Bandar Lampung di bulan yang sama tahun 2020 lalu. Juga tragedi yang menimpa Ustaz Prawoto, Komando Brigade Persis di Bandung Jawa Barat pada tahun 2018 yang meregang nyawa setelah dianiaya oleh pelaku yang dinyatakan ODGJ (orang dalam gangguan jiwa). (okezone.com, 22/9/2021)

Semua memiliki kemiripan kasus: hampir seluruhnya terjadi di bulan September; dilakukan oleh orang yang dinyatakan depresi, ODGJ atau pengangguran; dan targetnya adalah para ustaz, ulama juga tokoh agama Islam. Maka jangan heran ketika masyarakat menduga bahwa sederet kasus kejahatan itu by design. Bahkan seorang petinggi Muhammadiyah, Sekretaris Umum Pengurus Pusat (Sekum PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti bercuit di twitternya bahwa peristiwa-peristiwa tersebut patut diduga datang dari pihak-pihak yang sedang bermain api (detik.com, 23/9/2021).

Tidak berhenti hanya pada diri pemuka agamanya. Ternyata simbol dari agama mayoritas di negeri ini pun tidak terlewat mendapat perusakan. Kasus pembakaran mimbar masjid yang terjadi di Masjid Raya Makassar, Sulawesi Selatan adalah contohnya.


Terkikisnya Penghormatan terhadap Ulama dan Simbol Agama

Sungguh pada hari ini demikian tampak bahwa simbol agama (Islam) dan tokoh-tokohnya (ulama dan para asatiz) tak medapatkan posisi sebagaimana mestinya. Penghormatan dan pemuliaan masyarakat kepada mereka seolah mulai terkikis dewasa ini. 

Jika ditelisik, kita bisa menemukan beberapa alasan yang mendasari mengapa kasus-kasus beringas dan kurang ajar individu-individu masyarakat akhir-akhir ini terjadi bahkan berulang. 

Pertama, kesulitan hidup kian mendera rakyat. Banyak yang mengatakan ‘hari gini nyari duit dengan jalan haram saja sulit, apalagi yang halal’. Maka ketika ada “jalan rezeki” menjadi eksekutor pelaku penganiayaan dari pihak yang hendak membayarnya, benaknya seolah berkata ‘it’s oke’. 

Kedua, watak sekuler kian berkembang. Jikapun agama masih dianut, tapi tidak utuh, melainkan hanya diberi porsi semata untuk urusan ibadah mahdhah dan lingkup domestik saja. Bermunculanlah pribadi-pribadi yang mengotak-kotakkan mana ranah agama, mana ranah dunia dimana agama tak boleh hadir di dalamnya. Tidak sedikit yang menjelma menjadi seseorang yang tak begitu peduli dengan agama. Karena toh agama hanya urusan pribadi, urusan dirinya dengan Tuhan. Sakralitas agama kian memudar. Dalam kondisi seperti ini istilah “fanatik” terhadap agama itu seolah sesuatu yang wajib dihindari. Keimanan yang menjadi benteng dari perilaku amoral pun kian tercerabut.

Ketiga, prinsip individualistik di tengah masyarakat menjadikan satu sama lain tak merasa berkewajiban untuk saling mengingatkan ke arah kebaikan. Ketika ustaz, ulama dan pengemban dakwah melakukan amar makruf nahi mungkar dipandang sebelah mata sebagai aktivitas sok suci, bau surga, usil dan seterusnya.

Keempat, adanya dugaan bahwa perilaku vandalisme itu dipicu oleh bangkitnya gerakan komunisme. Sosiolog sekaligus Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta, Musni Umar, mengungkap ada motif politik berupa dorongan pemahaman komunisme yang mendasari maraknya fenomena penganiayaan terhadap tokoh agama tersebut. Di samping juga terselip motif ekonomi yang serba sulit hingga adanya motif berupa upaya pengalihan dari isu yang tengah merebak (poskota.com, 23/9/2021).


Gagalnya Negara Menciptakan Suasana Penghormatan terhadap Ulama dan Simbol Agama

Dari semua alasan di atas kian mengonfirmasi bahwa negara telah gagal membangun penghormatan terhadap tokoh agama dan simbol agama. Rakyat pun tak teredukasi untuk memuliakan ulama dan mensakralkan agama sebagaimana mestinya. Hal itu disebabkan karena negeri dengan umat muslim terbesar sedunia ini memeluk prinsip kapitalisme. Satu ideologi yang menjadikan peraihan materi dan hal-hal yang bersifat duniawi sebagai tujuan hidup. Merebaknya pemikiran sekuler, liberal bahkan vandalis menjadi keniscayaan. 

Hawa kebebasan yang dijaga di alam kapitalisme memungkinkan berkembangnya prinsip komunisme sekalipun, meski katanya ideologi ini dilarang berkembang.  

Negara pun seolah berlepas tangan dalam melindungi tokoh agama dan tempat ibadah dari aksi kriminal. Aparat baru akan bertindak ketika telah terjadi kriminalitas di tengah masyarakat. Maka tak heran berulangnya kasus terus terjadi.


Islam Memosisikan Ulama dan Simbol Agama demikian Mulia

Sejatinya kasus-kasus kriminal yang terus berulang itu wajib dihentikan. Terlebih ketika objek sasarannya adalah pemuka dan simbol agama yang sudah semestinya mendapat pemuliaan dari umat. 

Islam sendiri memosisikan para ulama sebagai sosok mulia warasatul anbiya (penerus para nabi). Karena melalui lisan dan aktivitas merekalah ajaran agama yang dapat menyelamatkan umat menjalani kehidupan ini tersampaikan. Sungguh tak layak jika sosok-sosok mulia itu disakiti baik secara verbal terlebih mengarah pada fisik. Adab terhadap ulama menjadi satu hal yang diutamakan ada pada diri setiap individu umat.

Islam juga mewajibkan negara dalam hal ini pemimpin menjadi garda terdepan dalam membina keimanan dan ketakwaan rakyat yang kokoh. Kemurnian akidah dan pemahaman akan aturan agama (syariat) demikian dijunjung tinggi. Beragam pemikiran sesat dan kufur yang berasal dari asing tidak akan dibiarkan berkembang. Sekulerisme, liberalisme, vandalisme hingga kapitalisme dibuang jauh-jauh dari benak masyarakat. 

Bersamaan dengan itu, negara pun wajib bertindak sebagai raa’in (pengurus) atas setiap urusan rakyat. Kesejahteraan menjadi satu ranah yang wajib diciptakan menggunakan mekanisme syariat. Kecukupan sandang, pangan, papan menjadi fokus tugas pemimpin. Juga kemudahan rakyat dalam mengakses kebutuhan kolektif berupa kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Dengan ini maka tak akan bermunculan orang-orang yang melakukan aktivitas kriminal demi memenuhi kebutuhan perut.

Jikapun kriminalitas tetap terjadi, maka negara telah memiliki seperangkat aturan sanksi yang tegas dan tak pandang bulu. Sistem sanksi berdasarkan syariat berfungsi sebagai jawazir (pemberi efek jera) dan jawabir (penebus atas dosa si pelaku kejahatan). Dengan dua fungsi tersebut kita akan dapati di sepanjang sejarah Islam ketika diterapkan secara sempurna (kafah), angka kriminalitas dapat ditekan sedemikian rendahnya dan terjauhkan dari kasus yang berulang.

Namun demikian, solusi tersebut hanya bisa dijalankan sempurna jika umat mau menerapkan syariat secara utuh (kafah). Diterapkan dalam bingkai institusi yang diwariskan oleh Baginda Rasulullah saw, yakni Daulah Khilafah Rasyidah. Dengannya, para ulama dan simbol agama berada pada posisi yang seharusnya. Masyarakat pun tenang, aman, damai, adil dan sejahtera. Negara dengan prinsip baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur pun bisa teraih. 

Wallahu a'lam.