Ulama dan Penguasa, Utopis Bisa Harmonis


Oleh Lilis Lina Nastuti

Ummu Bagja Mekalhaq


Dilansir dari JurnalSoreang (30/9/2021), Ketua Umum MUI Kabupaten Bandung Yayan Haduna Hudaya mengatakan bahwa ada dua golongan yang harus harmonis yaitu ulama dan penguasa. Jika kedua golongan ini akur, maka akan tercipta masyarakat sejahtera.

Perlu diketahui bahwa kesejahteraan masyarakat bukan didapatkan dari harmonisnya hubungan ulama dan penguasa. Kesejahteraan masyarakat akan terasa manakala penguasa bisa memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. 

Namun dalam sistem kapitalis ini yang terjadi justru sebaliknya, penguasalah yang memperlakukan masyarakat sebagai sasaran wajib pajak, hingga semua kebutuhan tidak terlepas dari tuntutan pajak. Semua kebutuhan hidup tidak ada yang gratis, mulai dari air, listrik, gas, sembako, dan masih banyak lagi tarikan pajak yang dibebankan kepada masyarakat, termasuk pendidikan sekolah pun akan kena pajak. 

Atas kondisi tersebut, ada sekelompok orang yang amar makruf nayi mungkar. Yakni ulama pilihan, ulama hanif yang benar-benar memiliki ilmu membumi, bukan ulama abal-abal yang mudah tergiur dunia dan kekuasaan rakus dengan jabatan. Atas kekuatan dorongan iman ulama pilihan itu menuntut penguasa zalim.

Ketika ulama mengingatkan penguasa, bukan respon baik yang didapat, tapi intimidasi ulama dapatkan, kalau kondisinya seperti ini, akankah ulama dan penguasa harmonis?

Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 104, "Hendaklah ada di antara kalian segolongan orang yang amar makruf nayi mungkar." 

Ulama sebagai pewaris para nabi, dalam kesehariannya mempraktikkan dan menyampaikan ilmu kepada umat, apa yang terdapat dalam Al-Qur'an dan hadis. 

Nah, jika ulama benar-benar 100℅ menyampaikan ayat Al-Qur'an misal terkait haramnya khamr ataupun sejenisnya, maka tidak semua orang suka termasuk penguasa. 

Buktinya saat ada perda yang berkaitan pelarangan khamr di daerah tertentu, justru dikritisi karena perda tersebut berbau syariah. 

Jelaslah terasa utopis ketika ada pernyataan ulama dan penguasa harus akur demi rakyat makmur. Kenyataannya tidak bisa akur, karena aturan yang diterapkan selalu berseberangan. 

Padahal, Islam mengatur semua tentang kehidupan berkaitan dengan alam manusia dan kehidupan. Ada aturannya, termasuk posisi ulama dan penguasa bisa saja akur kalau sistem Islam diterapkan. 

Kalau ingin rakyat sejahtera satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah harus ada keberanian ulama untuk menyadarkan umat dengan akidah Islam, jadikan Islam sebagai satu-satunya aturan hidup. Posisi ulama membina umat, memberi nasihat petunjuk dari gelap menuju cahaya. Posisi ulama hendaklah dihormati oleh penguasa, karena ketinggian dan kemuliaan ilmu yang dimilikinya.

Sabda Rasul, "Sesungguhnya Allah mencintai penguasa yang mendatangi ulama. Dan membenci ulama yang mendatangi penguasa." 

Karena, jika ulama mendatangi penguasa maka yang diinginkannya urusan dunia. Sebaliknya, jika penguasa yang mendatangi ulama maka yang diinginkannya aturan akhirat. Sejatinya ulama dan penguasa itu menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, jika yang diterapkan sistem Islam. 

Akhirnya, kita bisa mendapatkan kehidupan yang sejahtera sesuai negeri yang baldatun thoyyibatun warobbun ghafurur. (QS. Saba: 15). Tapi hal ini bisa dicapai saat tegak khilafah. Dalam khilafah, seorang penguasa sangat memperhatikan umat. 

Dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok, seorang khalifah akan mendistribusikan bahan makanan tepat sasaran, kepada orang orang yang sangat membutuhkannya. 

Jelaslah kesejahteraan akan didapatkan manakala ulama membimbing umat memberi nasehat yang jelas. Memegang kokoh Al-Qur'an sebagai aturan hidup. Ulama pun, tidak takut oleh penguasa selama yang disampaikan adalah dari Al-Qur'an dan hadis. 

Jangan takut oleh penguasa selama dalam ketaatan kepada Allah. Ulama yang benar tidak takut menyampaikan kebenaran. Sampaikanlah yang hak itu hak, jangan campur adukan dengan yang batil (QS. al-Baqarah: 42).

Hanya ulama yang lurus yang akan mendapatkan kesejahteraan hidup, meskipun dicaci dan diintimidasi tapi kokoh memegang Islam kafah, bukan Islam moderat yang sering memodifikasi ayat, memaksakan ayat Al-Qur'an agar ikut kepada zaman. 

Tapi utopis, ulama bisa harmonis dengan penguasa, manakala ulama dijadikan alat kekuasaan oleh negara. Manakala ulama dijadikan pajangan politik agar dapatkan simpatik umat. 

Jauh dari kata harmonis dan sejahtera manakala penguasa tidak mau mengokohkan imannya dengan menuntut ilmu mendatangi ulama. Malah sebaliknya, ulama yang mendatangi penguasa. Maka makin utopis tercipta ulama dan penguasa harmonis. 

Jika benar-benar ingin harmonis antara ulama dan penguasa, maka harusnya penguasa mendatangi ulama untuk belajar agama. Ketika paham agama Islam, maka penguasa akan mengatur rakyatnya dengan dasar agama Islam. 

Kisah Imam Bukhari dan Sufyan ats-Tsauri. Suatu hari penguasa setempat mengutus seseorang untuk memanggil pakar hadis tersebut. Ajari aku kitab-kitabmu. Aku ingin mendengar hadis darimu. 

Imam Bukhari berkata kepada utusan itu. Katakan padanya aku tidak ingin menghina ilmu, aku tidak akan mendatangi pintu penguasa. 

Bila ia memerlukan penjelasan dari kitab, maka hendaklah mendatangi majelis dan rumahku. Begitulah mulianya seorang ulama, jika ia ulama lurus tidak mendewakan dunia, tidak menghamba kepada dunia apalagi hubbuddunya. 

Ulama lurus yakin tidak tertarik dengan pangkat jabatan yang pasti bisa melenakan saat aturan yang dipraktikkannya bukan aturan Islam. 

Jadi, bisa saja ulama itu memimpin umat dan bisa juga menyejahterakan umat, manakala ulama lurus yang bertanggung jawab dunia akhirat kepada rakyat yang dipimpinnya. Karena ia menyadari bahwa setiap amanah akan dipertanggungjawabkannya.

Jika ingin ulama dan penguasa harmonis tiada lain yang harus dilakukan yaitu: ulama harus mampu mencerdaskan dan menyadarkan Umat dengan Islam kafah agar umat sadar bahwa hanya Islam kafah yang benar-benar akan mewujudkan kesejahteraan hakiki. 

Saatnya umat sadar satu satu jalan sejahtera hanya dengan khilafah, karena khilafah sebuah sistem yang akan mengatur manusia sesuai Al-Qur'an dan Sunah. 

Yakinilah satu-satunya cara yang akan ditempuh oleh ulama berjuang membela Islam kafah agar Daulah Khilafah tegak. Yang akan menjadikan umat sejahtera mulia dunia akhirat.