Squid Games dan Realita Kehidupan Kapitalistik


Oleh Shita Ummu Bisyarah 


Jagad dunia maya mulai dari youtube, twitter hingga instagram ramai membincangkan serial drama korea yang baru-baru ini streaming di Netflik berjudul Squid Game. Baru saja beberapa hari tayang, film ini sudah menduduki puncak chart 10 teratas global Netflix sejak jumat, 24 September 2021. Kini film ini menjadi film Netflix yang paling populer.

Squid Game bercerita tentang orang-orang yang terlilit hutang, miskin, menderita dari kalangan kelas bawah yang memasuki permainan masa kecil untuk bertahan hidup yang berisiko tinggi di pulau terpencil. Bahkan siapa saja yang gagal dalam games ini akan tereliminasi dengan cara dieksekusi mati. Namun hadiah yang dijanjikan untuk pemenang game ini tidaklah sedikit, jumlahnya 45,6 miliar Won alias 549,2 miliar Rupiah. Jumlah yang sangat fantastis yang membuat mereka rela membunuh satu sama lain dalam permainan itu.

Secara tidak langsung, film ini sangat menggambarkan kondisi masyarakat kita hari ini. Dimana masyarakat kelas bawah yang jumlahnya banyak berjuang hidup memeras keringat bahkan rela mempertaruhkan nyawa demi sesuap nasi. Bahkan lilitan hutang adalah hal yang menjamur di tengah masyarakat kelas bawah. Persis seperti apa yang digambarkan pada film tersebut. Dilansir dari Badan Pusat Statistika di Indonesia sendiri pada Maret 2020, tingkat ketimpangan penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini Ratio sebesar 0,381. Angka ini selalu meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan dilansir dari CNBC Indonesia, banyak kajian ekonomi dengan melihat tren indeks gini Indonesia ini diprediksi bahwa Indonesia bisa bubar pada tahun 2030. Hal ini dikarenakan ketimpangan yang sangat tinggi.

Ketimpangan yang tinggi ini tak hanya terjadi di Indonesia. Menurut kajian dari World Bank dari 139 negara yang dikaji, 10 besar negara dengan angka ketimpangan yang tertinggi berasal dari negara-negara di Amerika dan Afrika. Indonesia sendiri berada di peringkat ke-62. Begitulah kondisi wajah dunia kita dimana jumlah orang miskin menjadi mayoritas penduduk bumi yang dicerminkan dengan nilai ketimpangan yang tinggi.

Gambaran kehidupan ini memang sengaja dimuat oleh sutradara film tersebut. Sutradara Hwang Dong-hyuk berkata kepada Variety, "Saya ingin menulis cerita yang merupakan alegori atau fabel tentang masyarakat kapitalis modern. Sesuatu yang menggambarkan persaingan ekstrem, agak seperti persaingan hidup yang ekstrem".

Wajah kehidupan hari ini menunjukkan pada kita bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan harus dibenahi. Jelas ini semua bukan karena individu yang malas bekerja, individu yang bodoh atau tak punya ide untuk berwirausaha. Karena jika ini hanyalah problem individu, mengapa angka kemiskinan setinggi itu? Karena jika dilogika dengan akal sehat maka tak masuk akal jika karena individu yang malas akan menciptakan kemiskinan yang menjamur. Jelas ini semua adalah suatu problem yang sistemis. Berasal dari penerapan sistem yang meniscayakan semua ini.

Bila kita telaah bagaimana sistem kapitalisme menata kehidupan dunia, maka akan kita lihat bahwa asas dan tolok ukur perbuatan dari sistem inilah yang meniscayakan segala kerusakan ini. Asas kapitalisme adalah sekularisme, yakni pemisahan antara agama dengan kehidupan. Aturan-aturan dibuat atas dasar manfaat, alhasil untung rugi adalah hal yang dipertimbangkan paling utama dalam melakukan suatu hal. Konsep seperti ini jelas meniscayakan orang-orang bermodal besar yang mendominasi, karena kekuatan dolar mereka membuat siapapun bertekuk lutut. Alhasil aturan-aturan akan selalu berpihak pada para pemilik modal. Sedangkan kaum marjinal hanyalah ajang tontonan mereka layaknya permainan Squid Game di dunia nyata.

Hal ini berbeda jauh dengan paradigma berpikir dalam sistem Islam. Islam memiliki sistem pendistribusian harta yang tercakup dalam sistem ekonomi Islam secara rinci. Konsep kepemilikan dalam Islam meniscayakan harta terdistribusi secara adil dan merata, yakni kepemilikan umum, kepemilikan negara dan kepemilikan individu. Negara adalah pihak yang menjaga dan melindungi ketiga jenis kepemilikan itu sesuai dengan hukum syariah.

Kepemilikan umum adalah harta yang mencakup hajat hidup orang banyak yang tidak mungkin dimiliki individu. Seperti danau, sungai, hutan, jalan, masjid, laut dan sebagainya, termasuk yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:

اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءٌ فِيْ ثَلاَثٍ: فِيْ الْمَاءِ، وَالْكَلأَِ، وَالنَّارِ

"Kaum muslim berserikat dalam tiga jenis harta: air, padang gembalaan dan api."

Negara adalah pihak yang mengelola harta ini dan kemudian mendistribusikannya kepada masyarakat secara adil dan merata.

Adapun kepemilikan negara adalah harta yang hak pengelolaannya berada di tangan negara sesuai dengan ijtihad khalifah, seperti harta kharâj, fai', serta harta orang yang tidak memiliki ahli waris dan sebagainya, dengan syarat syariah memang tidak menentukan arah pengelolaannya. Khalifah mengelola kepemilikan negara sesuai dengan ijtihad dan pandangannya dalam menggali hukum syara di berbagai urusan rakyat dan negara. Semisal untuk menciptakan keseimbangan finansial di tengah masyarakat sehingga harta itu tidak hanya beredar di tangan orang-orang kaya saja (QS. 59: 7).

Sedangkan kepemilikan individu adalah harta yang dikelola oleh individu. Kepemilikan individu itu dilindungi oleh negara dan tidak boleh dilanggar. Tidak ada seorang pun yang boleh merampasnya, bahkan termasuk negara sekalipun. Nasionalisasi, yaitu penguasaan negara terhadap kepemilikan individu, merupakan bentuk perampasan dan merupakan dosa besar.

Tentunya dengan sistem pendistribuasian harta yang ciamik disokong oleh sistem lain yang sahih serta paradigma yang benar dalam memandang kehidupan. Maka tak akan ada lagi ajang Squid Game di dunia nyata ini. Wallahualambissawab.