Sekuler Demokrasi Menyuburkan Penganiayaan, Persekusi, dan Kriminalisasi pada Ulama


Oleh Maretika Handrayani, S.P

(Aktivis Dakwah Islam)


Miris dan tragis. Dua kata yang menunjukkan nasib para ulama dan umat Islam di negeri mayoritas muslim ini. 

Kembali terjadi peristiwa penusukan Ustadz di Batam (News.detik.com, 25/9/2021). Hal ini menunjukkan bahwa sistem demokrasi hari ini telah gagal memberikan rasa aman khususnya pada ulama

Penyerangan, persekusi, kriminalisasi pada ulama yang menjadi fenomena belakangan ini adalah hasil dari penerapan sistem sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Sekularisme telah melahirkan individu yang krisis iman dan tak menghormati para ulama. Ulama hanya diberi tempat saat mengisi forum dengan tausiyah yang menyenangkan, akan tetapi para ulama yang kritis dan lurus yang menyeru untuk tunduk pada hukum-hukum Allah tak sedikit yang dipersekusi, dibubarkan pengajiannya dan diperlakukan dengan tindakan tak beradab lainnya. 

Buah pahit sekularisme telah menciptakan islamofobia yang melahirkan fitnah dan kebencian pada ajaran Islam dan para penyerunya. Berbagai upaya dilakukan untuk menghalang-halangi manusia dari Islam. Islamofobia sesungguhnya adalah grand design untuk menjegal laju perjuangan ideologis penerapan Islam kafah.

Berbeda dengan sistem Islam dalam institusi Khilafah Islamiyah yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan pemerintahan dan syari’at Islam sebagai aturan dan tolok ukur dalam kehidupan. Ulama adalah sosok yang paham agama yang sangat dibutuhkan dan menjadikan rujukan dalam menjalankan pemerintahan kekhilafahan. Sebagaimana ungkapan Imam Ghazali dalam mendudukkan agama dan kekuasaan seperti saudara kembar, demikian strategisnya posisi ulama.

“Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar; agama merupakan pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang”.

Islam menempatkan para ulama pada posisi penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

“Sungguh ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambil ilmu itu, maka ia telah mendapatkan bagian terbanyak (dari warisan para nabi).” (HR Tirmidzi (2682).

Para Imam Tafsir menyebutkan para ulama sebagai penyampai Al-Qur’an, yang menjelaskan kandungan Al-Qur’an dan menyelesaikan problem masyarakat dengan Islam. 

Maka Islam mengharamkan berbuat aniaya pada ulama. Islam mewajibkan untuk memuliakan ulama.

Sejarah emas kegemilangan Islam telah menunjukkan bagaimana dekatnya khalifah dengan ulama, di antaranya disebutkan al-Qadhi Iyadh tentang Khalifah Harun al-Rasyid, “Ia (Harun al-Rasyid) berjalan bersama dua orang anaknya al-Amin dan al-Makmun, untuk mendengar kajian al-Muwaththa yang disampaikan Imam malik rahimahullah. Ada pula di masa Khilafah Bani Umayah, ulama bernama Atha’ bin Abi Rabah menghadap pada Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Khalifah mendudukkan Atha’ bin Abi Rabah di sebelah singgasana sang khalifah untuk memberikan nasehat pada khalifah.

Kejahatan terhadap para ulama harus dihentikan. Solusinya tidak cukup hanya berhenti pada mewaspadai eksistensi kelompok komunis saja, akan tetapi lebih dari itu perjuangan harus diarahkan pada hadirnya sistem Islam yang mampu memberikan rasa aman dan penjagaan terhadap agama dan jiwa umat. Allahu a’lam bissawab.