Politik Bagai Industri dalam Demokrasi


Oleh Mita Nur Annisa

(Pemerhati Sosial)


Demokrasi merupakan sistem yang bertombak pada materi dan condong pada kepentingan oligarki,  sehingga sudah jelas akan menjadi sebuah industri demokrasi. Jadi wajar saja apabila di dalamnya merujuk pada asas materi, yakni sistem politik yang dipenuhi dengan transaksi oleh para elite kepentingan, mengejar  kedudukan, dan mewujudkan hasrat dari perwakilan oligarki.

Seperti yang dilansir oleh Beritasatu.com (19/09/2021), Wakil Ketua DPD Sultan Najamudin menyoroti anggaran fantastis Pemilu 2024. Menurut Sultan, biaya pemilu ke depannya pasti akan terus meningkat. Hal tersebut merupakan jebakan dari sistem demokrasi liberal.

“Biaya pemilu ke depannya pasti akan makin meningkat. Ini jebakan demokrasi liberal yang harus kita hindari. Sudah saatnya kita kembali pada mekanisme demokrasi Pancasila yang lebih berkualitas dan ekonomis,” kata Sultan dalam keterangannya, Minggu (19/9/2021).

Oleh karena itu, Sultan menyarankan agar dilakukan restorasi demokrasi dengan memperbaiki sistem pemilu dan ketatanegaraan sejak dari hulunya, yakni konstitusi. Menurut Sultan, Indonesia membutuhkan amendemen UUD 1945 secara lebih menyeluruh.

 “Sangat penting bagi kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi prinsip musyawarah mufakat untuk meninjau kembali sistem pemilu yang boros dan cenderung menyebabkan kerentanan sosial seperti ini. Pemilu langsung sudah seperti industri dalam demokrasi kita,” kata Sultan.

Diketahui, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengusulkan anggaran sebesar Rp86 triliun untuk membiayai penyelenggaraan Pemilu 2024. Untuk pilkada, anggaran yang diusulkan mencapai Rp26,2 triliun.

Sungguh harga yang sangat fantastis. Politik demokrasi yang berbiaya sangat mahal dan menelan anggaran yang begitu besar, nyatanya tidak sebanding dengan hasilnya. Sebab, sistem ini nihil keberhasilan dalam mengatasi setiap problem rakyatnya. Acuh dalam mendengarkan aspirasi rakyat, tak perduli jeritan bahkan tangisan. Tersebab kebijakan yang tak berpihak pada rakyat.

Dalam demokrasi, politiknya menganut kebebasan individu. Sistem yang menuhankan manusia sebagai pengatur kehidupan, dengan mengutamakan peran pemilik modal, maka kekuasaan akan dipegang oleh mereka yang memiliki uang atau memberikan asas manfaat. Sehingga akan tampak jelas bahwa yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin.

Maka wajar saja apabila pemimpin yang lahir dalam sistem tersebut hanya terfokus pada diri sendiri, sibuk memperkaya diri, serta minim akan empati terhadap rakyat. Terlihat bagaimana banyaknya para koruptor yang lahir. Alhasil pemilu hanya sebagai ajang adu kekuatan bahkan unjuk gigi para cukong dan oligarki sang pemilik modal, hingga berujung pada yang menang itulah sang penguasa.

Berbeda dengan Islam, yang memiliki sistem politik yang unggul. Dalam mekanisme pemilihan pun tak perlu dengan biaya yang fantastis serta terjamin amanahnya seorang pemimpin. Sebab memiliki latar belakang akidah dan ketakwaan terhadap Allah Swt.

Pemimpin bertakwa akan menyadari posisinya sebagai pengurus rakyat, dalam hadis riwayat Muslim dan Ahmad disebutkan, “Iman (Khalifah) adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya." Dan Ketakwaan pada Allah melahirkan pemimpin yang mempunyai rasa takut melanggar perintah-Nya. Sehingga terhindar dari pemimpin-pemimpin korupsi.

Dalam sistem politik Islam syarat menjadi khalifah, wali atau amil terdiri dari dua. Pertama, syarat in’iqad yakni Islam, Laki-laki, balig, berakal, adil (tidak fasik), merdeka, dan mampu. Kedua, syarat afdaliyyah (keutamaan) di antaranya seorang mujtahid, ahli di bidang kemiliteran dan sebagainya. Syarat afdaliyyah ini tidak wajib, tapi lebih utama jika dimiliki oleh pemimpin. 

Dengan sistem Islam (khilafah), serta syariah Islam (sistem ekonomi, sosial, kesehatan pendidikan, sanksi, dan hukum) terintegrasi dengan baik dengan penerapan secara menyeluruh (kafah), demikian akan mewujudkan pemimpin dan umat dengan peradaban tertinggi dalam QS. Ali Imran ayat 110, Allah menyebut mereka khaira ummah, “Umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia”.

Wallahu ‘alam bissawab.