Pesona Kekayaan Blok Wabu Menjadi Rebutan, Akankah Membawa Kesejahteraan?


Oleh Ummi Nissa

Penulis dan Member Komunitas Muslimah Rindu Surga

Kapitalisasi tambang berawal dari liberalisasi ekonomi di segala bidang. Bagi siapapun baik investor dalam ataupun luar negeri yang memiliki kemampuan modal berhak untuk mendapatkan tender pengelolaan kekayaan alam.


Zamrud khatulistiwa merupakan julukan yang disematkan untuk negeri Indonesia. Selain karena letak geografisnya yang berada di bawah garis ekuator (khatulistiwa) juga menggambarkan kekayaan yang melimpah ibarat batu zamrud. Betapa luar biasanya sumber daya alam yang terkandung di bumi pertiwi. Baik yang ada di daratan berupa hutan, di lautan dengan aneka ragam hayati, juga yang terpendam dalam perut bumi. Salah satu dari potensi alam yang besar tersimpan di bumi Papua, yakni gunung emas Grasberg. Dimana selama ini telah  dikelola oleh PT Freport Indonesia. 

Belakangan diketahui, kandungan emas yang terpendam di Papua ternyata  tidak hanya Grasberg. Ada pula Blok Wabu yang memiliki  pesona kekayaan yang juga  potensial. Dilansir dari kumparan.com (22/9/2021), wilayah ini berada di Kabupaten Intan Jaya Papua. Dimana memiliki potensi sumber daya sebanyak 8,1 troy ounce. Kini blok tersebut sudah bukan lagi  wilayah Freeport. Sebab telah dikembalikan kepada pemerintah secara resmi saat penandatanganan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPTK) pasa 21 September 2018.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia,Tony Wenas, menegaskan bahwa Freeport melepaskan Blok Wabu bukan karena wilayah tersebut tidak menarik. Tetapi pihaknya memilih untuk fokus pada sumber daya emas Grasberg. Sehingga kini mereka tidak memiliki kepentingan lagi di sana.

Lokasi blok Wabu sebenarnya tidak jauh dari area tambang milik Freeport. Awalnya banyak masyarakat yang tidak mengetahui terkait blok Wabu yang memendam kekayaan emas dengan jumlah Fantastis. Namun setelah ramai pemberitaan di media terkait hal ini, maka terungkap potensi yang terpendam di wilayah tersebut.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, Blok Wabu memendam potensi sumer daya 117,26 ton bijih emas dengan rata-rata kadar 2,16 gram per ton dan 1,76 gram per ton perak. Hal ini setara dengan US$14 miliar atau mencapai 300 triliun rupiah dengan asumsi harga emas US$1.750 per troy ounce.

Adapun kandungan setiap satu ton material bijih terdapat logam emas sebesar 2,16 gram. Nilai ini lebih besar dibanding logam emas material bijih Grasbreg Freeport yang menyimpan 0,8 gram emas.

Dengan potensi yang demikian besar tidak heran jika wilayah ini menjadi rebutan para pengusaha baik lokal maupun internasional untuk berinvestasi. 

Sesungguhnya penguasaan pihak swasta atas aset milik negara bukan suatu hal yang baru. Hal ini dipengaruhi penerapan sistem ekonomi kapitalis yang mengungkung negeri ini. Terbukti dari adanya kontrak karya dengan PT Freeport sejak 1991 di era orde baru. Dengan demikian sudah puluhan tahun gunung emas Papua dikuasai  pihak asing. 

Pemerintah hanya mendapatkan sebagian kecilnya saja dari hasil penambangan emas yang melimpah. Sementara sebagian besar keuntungan dinikmati oleh pengusaha dari pihak luar. Padahal gunung emas tersebut sejatinya milik rakyat, tetapi rakyat tidak dapat menikmati hasil kekayaan ini.

Begitu pula blok Wabu yang kini dilepas Freeport tetap beraroma kapitalis. Sampai saat ini pemerintah belum menetapkan siapa yang akan mengelola tambang di wilayah ini. 

Kapitalisasi tambang berawal dari liberalisasi ekonomi di segala bidang. Bagi siapapun baik investor dalam ataupun luar negeri yang memiliki kemampuan modal berhak untuk mendapatkan tender pengelolaan kekayaan alam. Meskipun sumber daya alam tersebut terkategori sebagai harta milik umum.

Sementara negara hanya berperan sebagai regulator atau fasilitator. Pemerintah bertugas mengetok palu UU dan membuat regulasi yang lebih memihak para kapitalis. Oleh sebab itu adanya kongkalikong antara pengusaha dan penguasa hal yang biasa terjadi di alam demokrasi kapitalis.

Kondisi ini berbeda dengan aturan Islam. Dimana kekayaan alam adalah bagian dari harta milik umum. Sementara terkait kepemilikannya, tidak boleh menyerahkan pengelolaan harta yang terkategori milik umum ini kepada segelintir orang, baik individu, swasta, ataupun asing. Sehingga negara yang wajib mengelola dan hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Hal ini berdasarkan pada sabda Nabi saw.: 

“Kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput, dan api.” (HR Ibnu Majah). 

Terkait tiga hal yang disebutkan dalam hadist diatas, merupakan harta yang terkategori milik umum. Ketiganya dilarang untuk dimonopoli oleh pribadi. Karena sifatnya yang dibutuhkan oleh banyak orang dan memiliki kandungan kekayaan yang tidak terbatas. Termasuk didalamnya tambang.

Dalam Islam tambang yang jumlahnya sangat besar, seperti emas, perak, tambaga, besi, timah, batubara,  minyak bumi, gas dan sebagainya semuanya merupakan tambang yang termasuk harta milik umum sebagaimana pegertian dalam hadist di atas.

Oleh karenanya, pengelolaan tambang emas seperti Freeport dan Blok Wabu tidak selayaknya dikelola secara pribadi. Seandainya tambang emas Freeport dan Blok Wabu dikelola berdasarkan pedoman syariat Islam, tentu hasilnya cukup untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, tidak hanya Papua. Bahkan dapat digunakan untuk membayar utang negara.

Dari satu gunung emas saja sesungguhnya akan mampu menjamin kesejahteraan, apalagi jika ditambah dengan kekayaan alam lainnya seperti hutan, laut, dan tambang lainnya. Betapa luar biasanya bila negeri yang mendapat julukan zamrud khatulistiwa ini benar-benar mau menerapkan syariat Islam secara sempurna. 

Dikala itu kesejahteraan rakyat bukan lagi sebatas mimpi. Anugerah Allah Swt. berupa kekayaan alam termasuk tambang emas ini dapat menjadi berkah bagi alam, manusia, dan kehidupan. Sebagaimana firman Allah Swt.:

“Seandainya saja penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al- Araf: 96) 

Wallahualam bissawab.