Pengrusakan Masjid dan Penyerangan Tokoh Agama


Oleh Nurfia

(Aktivis Dakwah Kampus)


Kegagalan Negara dalam membangun penghormatan terhadap tokoh agama dan tempat ibadah terkhusus masjid kian mengkhawatirkan. Serangan brutal yang menimpa tokoh agama menunjukkan bahwa peran negara nihil menjamin keamanan. Tokoh agama menjadi sasaran penyerangan. Dakwah santun diserang fisik, dakwah tegas diserang secara verbal. Negara juga lemah dan lepas tangan dalam melindungi tokoh agama dan tempat ibadah dari aksi kriminal.

Dilasir dari KOMPAS.TV, Aksi pengrusakan masjid serta kekerasan kepada ustaz terjadi di beberapa daerah. Sebuah mimbar Masjid Raya di Makassar Sulawesi Selatan dibakar oleh orang yang tidak dikenal. Peristiwa inipun sempat terekam CCTV. Api membakar mimbar masjid dan menghanguskan bagian belakang mimbar.

Menanggapi persoalan tersebut sejumlah pihak angkat bicara. Salah satunya dari Anggota DPR RI Habib Aboe Bakar Alhabsyi meminta pada semua pihak untuk tidak meremehkan kasus penyerangan kepada para ustaz dan pengrusakan masjid  sebagaimana yang terjadi beberapa waktu lalu, lanjut dia, perlunya langkah preventif yang dilakukan untuk mengantisipasi jangan sampai kasus tersebut terulang kembali.

Tentu berbagai kasus yang terjadi tersebut harus ditangani oleh aparat negara secara serius, seksama dan transparan. Di sini tentu masyarakat menunggu keseriusan pemerintah dalam menangani berbagai kasus penyerangan ini. 

Negara Wajib Menjamin Keamanan

Salah satu tugas negara adalah memberikan jaminan rasa aman kepada rakyatnya, siapapun mereka. Apalagi bila yang harus dijaga keamanannya adalah tokoh agama. Serangan terhadap tokoh agama menunjukkan bahwa jaminan rasa aman di negeri ini masih mahal. Aparat pun malah terkesan meremehkan berbagai peristiwa tersebut. Seharusnya kasus penyerangan terhadap tokoh agama maupun masjid tidak dibiarkan berlarut-larut. Jika dibiarkan, kepercayaan masyarakat kepada negara lambat laun akan pudar. Masyarakat akan mempertanyakan kinerja aparat Keamanan  yang cenderung lamban dalam menangani kasus ini. Pemerintah pun harus melakukan upaya pencegahan dan perlindungan atas pemuka agama dan tempat ibadah serta mengawasinya.

Inilah fakta sesungguhnya sistem pemerintahan demokrasi yang berasas pada sekularisme. Maraknya persekusi yang dialami umat dan tokoh agama beberapa tahun terakhir, juga mengindikasikan virus Islamofobia sudah tersebar di kalangan umat Islam. Tujuannya jelas ingin menciptakan ketakutan terhadap Islam. Targetnya tentu saja agar umat alergi terhadap ajaran agamanya sendiri. Narasi radikal digambarkan sebagai sesuatu yang horor, menakutkan, dan keras. 

Semua upaya ini mengerucut pada satu hal, yakni menikam Islam dengan gambaran terburuk, bertujuan menghalangi penerapan syariat Islam di muka bumi. 

Mereka ingin menghambat arus perubahan yang membangkitkan kesadaran pemikiran dan perasaan umat. Mereka tidak ingin dunia beralih kepada Islam yang mengakibatkan hegemoni kapitalisme akan tergusur. Mereka tak menginginkan khilafah tegak sebagai kekuatan baru di pentas dunia.

Di bawah sistem demokrasi sekuler, keamanan para tokoh agama tak terjamin. Padahal peran mereka begitu besar bagi umat ini. Muruahnya harus terjaga, keamanannya harus terlindungi. Mereka memiliki peran penting dalam mendidik dan membina umat. 

Islam Menjamin Keamanan Warga Negaranya

Dalam lintas sejarah, jaminan Islam terhadap umat manusia telah terbukti. Islam menjamin hak individu untuk memeluk agama yang diyakini. Islam pun menjamin hak berbicara bagi setiap warga negara. Dalam Islam, negara berkewajiban menjaga dan melindungi rakyatnya, lebih-lebih kepada para Da’i. Sebab, mereka dimuliakan karena keilmuannya dan kedudukannya sebagai pelita yang menerangi umat.

Penjagaan itu terealisasi dalam perangkat sistem uqubat (sanksi) dalam Islam. Tegaknya sistem sanksi dalam Islam memiliki dua fungsi, yakni sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa). Zawâjir (pencegah) berarti dapat mencegah manusia dari tindak kejahatan. Sanksi dalam Islam juga berfungsi sebagai jawâbir (penebus) dikarenakan ’uqubat dapat menebus sanksi akhirat. Sanksi akhirat bagi seorang muslim akan gugur oleh sanksi yang dijatuhkan negara ketika di dunia. Dalam Islam, penerapan hukum Islam memiliki tujuan yang terintegrasi. Yakni, memelihara agama (hifdzud diin), memelihara jiwa (hifdzun nafs), memelihara keturunan (hifdzun nasl), memelihara harta (hifdzul maal), dan memelihara akal (hifdzul aql).

Tujuan ini dapat terterapkan tatkala sistem sanksi Islam dilaksanakan khilafah yang menerapkan Islam secara kafah. Dengan begitu, jiwa dan muruah tokoh agama maupun tempat ibadah (Masjid) serta warga negara terjaga. Hal itu hanya bisa terwujud dalam habitat yang tepat dan benar, yaitu dalam sistem khilafah. Selamanya umat Islam tidak akan pernah aman dan tenang bila berada di habitat yang salah dan keliru seperti sistem demokrasi sekuler yang despotik.

Wallah alam bissawab.