Pandora Papers|| Surga Kaum Kapitalis

 


Habibah Nafaizh Athaya binti Sulaiman

(Penulis) 

Segelumit berita yang menyeruak baru-baru ini, membuka kembali tabir buruk rupanya sistem Kapitalis dunia.

Bagaimana tidak? Fakta Pandora Papers benar-benar mengobok-obok hati setiap manusia. Merupakan peluang bagi pemilik harta, namun sebagi CELA HINA bagi mereka yang miskin tanggungjawab setelah menyatakan diri sebagai warga negara, penguasa dan pengusaha.


Bukan apa-apa, kita ketahui bersama bahwa, Negara memiliki utang luar biasa yang sulit dituliskan jumlah pastinya, dengan membebankan warga negara membantu penyelesaiannya, Negara kembali mengeluarkan kebijakan yang sungguh apik, NPWP in NIK by KTP (Istilah penulis).

Setelah sebelumnya banyak kebijakan pajak yang bertubrukan kemana-mana.

Mulai dari PPN, pajak pangan, subsidi yang dihilangkan dan beberapa yang mungkin tak perlu disebutkan.


Pengetatan pajak untuk kalangan manusia bernama rakyat Indonesia terus berjalan. Sementara kemiskinan mencekik dimana-mana.

Keburukan sistem hari ini tak dapat lagi terelakkan, terlihat jelas dan sulit untuk disembunyikan.

Negeri yang katanya kaya akan alam.

Perkebunan, lautan bahkan pertambangan.

BUMN pun banyak.

Tapi sayang itu hanya angan.

Setelah terjadi kapitalisasi, swastanisasi, dan gadai aset negeri. Indonesia, diambang bangkrut paling ngeri.


Diperparah dengan keuangan yang dialihakan keluar Negeri untuk menghindari pajak jelas semakin mencekik keadaan.

Ini menjadi alasan mengapa Pengetatan pajak tak berhenti di lakukan, 

Pajak yang semestinya dibayarkan oleh para pengusaha dan korporasi harus ditanggung rakyat kalangan bawah untuk memenuhi pemulihan ekonomi, sementara korupsi tetap berjalan. Padahal gaji mereka sudah tak tanggung jepalang. Cukup membingungkan.


Munculnya pemberitaan Pandora Papers yang memuat ber 'bite' data para pengusaha elit negeri yang menghindar dari pajak dengan nomer seri khusus, dengan menjadikan nama dan profit di belokkan agar terhindar dari sidak pajak, kembali menjadi bukti rill bobroknya sistem hari ini. Data tahun 2016 lalu menyebutkan terdapat paling tidak Minimal 4000 triliun rupiah harta kekayaan WNI yang ada di luar negeri yang hanya dimiliki oleh 6.519 orang (0,000026%) dari 225 juta warga indonesia. So, ini data 2016 lalu, lantas bagaimana dengan tahun ini?


Belumlah kering ingatan rakyat tentang tax amnesty, kini rakyat harus menelan pil pahit dengan fakta pandora papers tersebut.

Menjadikan pengusaha dan penguasa kaya berlenggok di karpet merah tanpa takut pajak, lalu rakyat dengan baju lusuhnya harus menanggung pajak pangan untuk sesuap nasinya?.

Mengerikan sekali bukan?


Kapitalisme, dengan wajah angkuhnya jelas tak mampu memberikan kesejahteraan, sebab ketimpangan demi ketimpangan menjadi bukti yang selama ini dipertontonkan.

Lantas apa lagi yang bisa kita harapkan?


Ini jelas berbeda dengan sistem Islam, yang menjadikan kesejahteraan rakyat bukan sekedar isapan jempol belaka.

Dimana setiap warga negara adalah sama di mata Hukum

Baik ia muslim maupun bukan muslim,

Baik ia penguasa atau pengusaha

Sikaya atau sijelata.

Semua sama tanpa membandingkan strata dan sosial mereka.


Kesejahteraan tak terbengkalai sebab kekayaan negara takkan di swastanisasi, sebab negara tak memiliki hak priorigatif atas hal itu, kekayaan negara adalah kekayaan rakyat yang harus dikelola dan disalurkan kepada rakyat.

Maka tidak ada lagi migas milik siapa, batu bara milik siapa dan emas milik siapa. Sebab itu adalah milik rakyat semuanya.


Pengelolaan kekayaan negara yang apik takkan melahirkan utang yang membumbung, sehingga pajak tidak diperlukan kecuali pada situasi genting dan sangat diperlukan. Sehingga iklim bisnis bagi para pengusaha dan ekonomi negara akan progresif. 


Setiap pengusaha takkan kocar kacir mencari pandora pandora lain untuk menyembunyikan kekayaannya. Jelas, ini akan lebih mengamankan situasi, dimana pengusaha takkan lagi takut bisnisnya dimakan pajak, imbasnya? Jelas ini akan memberikan kontribusi rill untuk sehatnya pertumbuhan ekonomi.


Lantas apalagi yang membuat kita rela terpasung sistem kapitalis hari ini?

Sudah tak ada lagi zona nyaman, sebab telah lama hilang zona aman. Terkungkung dan teraniaya dengan sistem dunia paling kelam. 

Inilah saatnya kita bangkit dan mencoba sistem baru bernama islam.

Tidakkah mencoba tak mengapa? Suka alhamdulillah! Menyerah? Harus coba lagi


Pantang menyerah.


اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ﴿۵۰

'Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?'


Allohu alam