Ngeri! Penyebab Liberalisasi, L967 Semakin Menjadi-Jadi

 





Oleh Aan Anisah

L967 bukan pilihan bagi orang normal, tapi pilihan bagi orang abnormal. L967 adalah sebuah penyimpangan dari fitrah manusia



Membicarakan persoalan L967 di Indonesia seolah tak pernah ada habisnya. Bahkan dijadikan ajang dan suatu kebanggaan bagi Indonesia. Ironisnya lagi kampanye gerakan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) ini sudah semakin nyata. Melalui dunia maya hingga ke kalangan akademisi, para aktivis itu mempropagandakan agar diterima di tengah-tengah msayarakat.


Namun sangat disayangkan sikap pemerintah seakan bungkam menghadapi persoalan ini dan pemerintah Indonesia juga tak mampu mengatasi semua dampak buruk dari perilaku menyimpang ini. Tak mampu mengerem, apalagi menghentikan korban-korban berjatuhan. 


L697 telah berkembang menjadi gaya hidup. Dengan demikian Menurut kaum liberal, menjadikan lesbian, gay, biseks maupun transgender adalah sebuah pilihan sebagai bagian dari hak asasi. Kalau pun kemudian muncul masalah, maka itu dianggap karena kurangnya pengaturan baik dari masyarakat maupun negara. Bukan karena salahnya pilihan mereka. 


Ini jelas pandangan yang salah. L967 bukan pilihan bagi orang normal, tapi pilihan bagi orang abnormal. L967 adalah sebuah penyimpangan dari fitrah manusia.


Ada pun larangan di dalam Islam untuk tidak menyerupai sifat  seorang laki-laki menjadi perempuan, begitu pula sebaliknya seorang perempuan tidak boleh menyerupai laki-laki. Larangan menyerupai ini, yang disebut sebagai tasyabbuh (menyerupai), mencakup segala kekhasan suatu jenis kelamin, seperti gaya berbicara, berjalan, bahkan berpakaian.


Dari Ibnu Abbas ra., dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari, no. 5885; Abu Dawud, no. 4097; Tirmidzi, no. 2991) 


Dari Abu Hurairah ra., “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan, begitu pula perempuan yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Ahmad, no. 8309; Abu Dawud, no. 4098; Nasai dalam Sunan al-Kubra, no. 9253. Disahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth).


Inilah salah satu fakta rusaknya sistem kapitalis liberal yang di mana segala bentuk penyimpangan perilaku dan seksual yang ada, lahir akibat liberalisme sekuler. Kebebasan berperilaku yang menjadi ciri dari liberalisme, memang menimbulkan banyak mudarat ketimbang maslahat.


Liberalisme memberi ‘hak’ manusia berbuat sesuai kehendak hawa nafsunya, bukan kehendak Sang Pencipta manusia. Oleh karena itu, perilaku L967 adalah haram dalam pandangan Islam. Pelakunya dilaknat dan layak mendapat sanksi sesuai syariat Islam. 


Rasul saw. bersabda: “Dilaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (homoseksual).” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad dari Ibnu Abbas).


Maka solusi L697 ini tidak cukup hanya dengan dicegah dan diberantas, ataupun membebankan hanya kepada para orang tua untuk membentengi anak-anak mereka dari perilaku ini. s/Sementara pelaku dan pemicunya  bebas berseliweran di sekeliling mereka. Problem L967 adalah problem sistemis, menyangkut banyak faktor yang saling terkait satu sama lain, butuh solusi sistemis pula. 


Di sinilah, peran negara menjadi sangat penting. Negara harus mengganti sistem ideologi Kapitalisme yang di adopsinya saat ini. Sebab, L967 adalah buah liberalisme yang di hasilkan oleh ideologi kapitalis. Selama ideologi Kapitalis masih dipakai dalam sistem kehidupan bermasyarakat maupun bernegara, mustahil problem ini bisa selesai dan tak muncul kembali. 


Sebagai gantinya, negara seharusnya mengadopsi sistem Islam yang akan menerapkan syariat Islam secara sempurna. Syariat yang berasal dari Allah Swt. melalui daulah khilafah alamin haji'nubuwah syariah Islam akan bisa diterapkan dengan diperjuangan dan ditegakan di muka bumi ini.


Wallahu a'lam bishawwab