Negeri-Negeri Muslim Butuh Junnah


Oleh Sri Yana


Sudah diketahui bahwa Indonesia merupakan negara berdasarkan hukum yang artinya kehidupan negaranya diatur dengan hukum. Ada dua hal yang diupayakan pemerintah agar dapat melaksanakan hukum dengan baik, yaitu perlindungan hukum dan penegakkan hukum. 

Menurut Philipus M. Hajdon, perlindungan hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak asasi manusia yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum.

Dalam buku Penegakan Hukum dan Kesadaran Masyarakat (2015) karya Laurensius Arliman, dijelaskan bahwa penegakan hukum merupakan proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.(kompas.com, 20/10/2021).

Apakah perlindungan dan penegakan hukum di Indonesia sudah baik? Kenyataannya Indonesia dan negara-negara dunia belum merasakan perlindungan dan penegakan hukum secara adil. Dikarenakan masih bercokolnya sistem kapitalisme di dunia. Jadi hukum bisa dibeli dengan uang. Bahkan di mana yang memiliki uanglah yang menguasai di segala bidang kehidupan. Makanya tak dipungkiri dunia ini semakin sulit bagi orang-orang kecil. Semakin sulit kehidupannya dalam hal ekonomi saja, misalnya kelaparan, pendidikan hanya untuk orang-orang kaya. 

Memang benar bahwa penegakan dimulai dari aparatur negaranya terlebih dahulu. Karena merekalah yang memberikan contoh. Bagaimana jika aparatur negaranya pun tidak bisa menegakkan hukum dengan baik. Pasti bawahannya juga akan mengikuti seperti halnya atasannya.

Penegakkan hukum memang sudah lama semakin kacau. Sebagaimana yang dirasakan muslim di berbagai negeri mengalami penindasan dan diskriminasi, bahkan dimusuhi dan tidak diakui sebagai warga negara. Sebagaimana yang dialami muslim Uighur di Cina, Rohingya di Myanmar. Kaum muslim di negeri lain terhalangi memberi pertolongan karena terjerat ide nasionalisme yang mematikan. Karena sekat-sekat tersebut membuat sekitar 50 negara terkotak-kotak. Sehingga tak ada satu pun negara yang bisa membantunya tanpa kekuatan dari negara khilafah. Keadaannya negara Barat dan dunia Internasional terus memburu dan mengeksploitasi melalui beragam cara dan lembaga. Sehingga Islam selalu dalam kondisi terpojok.

Oleh karenanya Ketua LBH Pelita Umat Chandra Purna Irawan, S.H., M.H.  menuturkan, agenda International Muslim Lawyer Conference (IMLC) ini bertujuan mencari solusi perlindungan m terhadap kaum muslim dan ajaran-ajaran Islam.

“Agenda pada hari ini mencari solusi bagaimana perlindungan hukum kepada kaum muslim dan ajaran-ajaran Islam dari potensi kriminalisasi dan perlindungan hukum terhadap kaum muslimin yang mengalami penjajahan dan pengusiran seperti yang terjadi di beberapa negara,” tuturnya dalam opening speech International Muslim Lawyer Conference, Ahad (3/10/2021) di kanal YouTube Al Waqiyah TV.

Semoga agenda IMLC yang ingin mencari solusi terhadap penjajahan dan diskriminasi dapat segera terselesaikan. Tidak lain hanya dengan penerapan Khilafah Islamiyyah min hajjin nubuwwah.

Karena mendirikan Khilafah Islam merupakan kewajiban syariah. Tentu ada metode yang diambil dari sunnah Nabi saw. dalam mendirikan Negara Islam. Metode tersebut tercermin dalam tiga tahapan: (1) pengkaderan (at-tatsqîf); (2) interaksi dengan umat (at-tafâ’ul), termasuk di dalamnya adalah pencarian dukungan dan pertolongan (thalab an-nushrah); (3) penerimaan kekuasaan dari pemilik kekuasaan (istilâm al-hukmi). Sunnah Nabi saw menunjukkan atas tiga tahapan tersebut dalam mendirikan Negara Islam di Madinah. Dengan demikian kita wajib mengikuti metode yang tercermin dalam tiga tahapan tersebut. (Al waie.id).

Sebagaimana firman Allah sebagai berikut:

ثُمَّ اَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ تَقْتُلُوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُوْنَ فَرِيْقًا مِّنْكُمْ مِّنْ دِيَارِهِمْۖ تَظٰهَرُوْنَ عَلَيْهِمْ بِالْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۗ وَاِنْ يَّأْتُوْكُمْ اُسٰرٰى تُفٰدُوْهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ اِخْرَاجُهُمْ ۗ اَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍۚ  فَمَا جَزَاۤءُ مَنْ يَّفْعَلُ ذٰلِكَ مِنْكُمْ اِلَّا خِزْيٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚوَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يُرَدُّوْنَ اِلٰٓى  اَشَدِّ الْعَذَابِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْن. 

Artinya: "Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (sesamamu), dan mengusir segolongan dari kamu dari kampung halamannya. Kamu saling membantu (menghadapi) mereka dalam kejahatan dan permusuhan. Dan jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal kamu dilarang mengusir mereka. Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. al-Baqarah: 85).

Dari ayat tersebut kita yakin dengan janji Allah dalam mengerjakan kebajikan akan mendapatkan surganya Allah Swt. Sebagian kita hanya bisa berusaha untuk kembali menegakkan khilafah. Dengan adanya khilafah umat Islam akan terlindungi dari penindasan dan diskriminasi. Karena khilafah merupakan institusi yang mengatur umat dengan syariat Islam.

Waallahu a'lam bissawab.