Negara-Negara Muslim Butuh Perisai!


Oleh Rismawati, S.Pd.

(Member AMK)


Bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, peribahasa ini cocok untuk menunjukkan kondisi kaum muslim hari ini. Benar adanya, kaum muslim memang sangat banyak namun bagai buih di lautan. Mereka di sekat-sekat oleh berbagai negara hingga mereka tak saling mengenal bahkan tak mampu saling menolong satu sama lain.

Kita mungkin takkan pernah lupa bagaimana kejamnya negara Israel membombardir negara kaum muslim di Palestina. Bagaimana kejamnya Cina menyiksa kaum muslim di Uighur dan kita juga tak kan pernah lupa, bagaimana kaum muslim di Rohingya terusir dari negaranya sendiri. Namun, seluruh dunia seolah menutup mata atas apa yang terjadi kepada saudara muslim kita di belahan dunia yang lain.

Karena itu, baru-baru ini ketua LBH Pelita Umat atas nama Chandra Purna Irawan telah melakukan agenda IMLC (Internasional Muslim Lawyer Conference) yang bertujuan untuk menemukan solusi perlindungan hukum kaum muslim dan ajarannya. Ahad, 3/10/2021 beliau menuturkan lewat Channel YouTube Al Waqiah TV bahwa agenda IMLC dilakukan semata-mata karena munculnya keresahan dalam jiwa terhadap penindasan, kriminalisasi dan pengusiran yang dialami oleh berbagai negara muslim yang ada di seantero dunia. Menurut beliau agenda IMLC ini telah menghadirkan berbagai pakar hukum dan pengacara dari berbagai negara untuk membahas problematika yang menerpa oleh umat Islam saat ini. (Mediaumat.news, 03/10/2021).

Memang ironis, keadaan kaum muslim hari ini sangat memprihatinkan. Walau di setiap negara memiliki jumlah penduduk muslim yang banyak, namun mereka tak mampu berbuat apa-apa dalam sistem demokrasi yang di belakangnya berdiri para kaum kufur yang memusuhi Islam. Karena itu, kaum muslim sangat membutuhkan perisai untuk melindunginya agar mereka tak lagi dikriminalisasi dan tak lagi terusir dari negaranya sendiri. 

Dalam sistem demokrasi memang kaum muslim tak mudah melangkahkan kakinya untuk menolong saudarinya yang lain. Karena mereka disekat oleh negara bahkan terhalang oleh sistem kufur. Alhasil, mereka hanya bisa meneteskan air mata kepedihan saat melihat saudara-saudaranya disiksa oleh kaum kuffar, sebab kaum muslim itu seperti satu tubuh jika tubuh yang lain disakiti maka yang lain pun akan merasakan sakitnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رواه مسلم)

Dari An-Nu’man bin Bisyir dia berkata, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Muslim No. 4685).

Hadis di atas menjelaskan kepada kita bahwa betapa pentingnya harus saling menjaga satu sama lain. Karena Allah dan Rasul-Nya telah menegaskan bahwa kaum muslim seluruhnya bersaudara. Maka dari itu, mereka harus saling melindungi walau harus berkorban nyawa demi melindungi saudara dan agamanya. 

Namun, mampukah kaum muslim mendapatkan perlindungan untuk dirinya dan agamanya dalam sistem demokrasi?

Sebagaimana yang kita saksikan selama ini, rasanya mustahil mengharap perlindungan dalam sistem yang disetir oleh Amerika Serikat yang notabenenya adalah pembenci Islam. Oleh karena itu, kaum muslim butuh perisai berupa institusi yang dijalankan oleh Daulah Islam. Sebab, hanya Daulah Islam yang berani mengerahkan seluruh tentaranya untuk menolong kaum muslim yang tertindas dan terusir di negaranya sendiri. Wallahu a’lam bissawab.