Negara Lindungi Kaum "Pelangi", Ingin Kerusakan Apa Lagi?


Oleh Zulhilda Nurwulan

(Relawan Opini Kendari)


Negeri yang malang, tampaknya penduduk bumi pertiwi mulai hilang akal. Ide transgender dan kampanye L98T makin menguak ke permukaan. alih-alih bersembunyi, kaum "pelangi" malah makin berani berlenggok di hadapan publik. Parahnya, eksistensi kaum "pelangi" di bumi pertiwi mendapat perlindungan dari negara. Berbagai even miring yang diselenggarakan secara bebas oleh kaum "pelangi" ini di wilayah Indonesia menjadi bukti bahwa negara mendukung dan menjaga keberadaan mereka dalam ruangan publik. Even "Miss Queen 2021" ajang kontes kecantikan bagi transgender yang diselenggarakan di Bali beberapa waktu lalu membuktikan bahwa negara memang tak ambil pusing dengan masalah transgender dan L98T. 

Ide sekularisme yang sudah mewabah di bumi pertiwi makin melanggengkan keberadaan kaum "pelangi". Di samping itu, melalui ide pluralisme yang kini berkembang di masyarakat, kaum "pelangi" berharap agar diterima sebagai bagian dari masyarakat. Memang  benar, Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak keberagaman mulai dari budaya, agama hingga suku bangsa dan bahasa. Namun, keberagaman ini bukan berarti negara harus membenarkan keberadaan kaum "pelangi" untuk disamakan dengan masyarakat pada umumnya. 

Adanya aktivitas kaum "pelangi" di lingkungan masyarakat bisa mendatangkan bencana bahkan azab jika hal ini dibiarkan terus terjadi. Keberadaan kaum"pelangi" yang menolak sunatullah adalah bentuk kemaksiatan. Sikap masyarakat yang terkesan cuek terhadap keadaan ini juga bisa mendatangkan bencana. Sejatinya, azab dan musibah tidak hanya menimpa orang-orang yang melakukan maksiat melainkan juga orang-orang yang tidak mencegah maksiat itu terjadi. 

Seperti dilansir dari Liputan6.com, sebuah kota di kota kuno Romawi bernama Kota Pompeii hancur akibat letusan Vesuvius pada tahun 79 Masehi. Ekskavasi yang diawali pada akhir Abad ke-16 menemukan jasad-jasad manusia yang berubah jadi 'batu'. Kala itu, ditemukan lanskap kota bangunan, simbol-simbol misterius, rumah-rumah mewah para bangsawan, roti yang masih tergeletak dalam oven, juga tempat pelacuran yang dipenuhi fresko erotis serta patung-patung mesum. Dari sinilah kemudian Pompeii dijuluki 'kota maksiat'. 

Dari kejadian di atas, seyogyanya bisa disimpulkan bahwa suatu wilayah bisa hancur akibat perbuatan dosa dan maksiat yang merajalela di tengah-tengah masyarakat serta hilangnya kesadaran baik individu maupun kelompok masyarakat untuk berbenah diri. Oleh karena itu, adalah kewajiban bagi negara untuk mengontrol gerak masyarakat yang melenceng dari ajaran agama mengingat Indonesia merupakan salah satu negeri mayoritas muslim.

Perangi Kaum "Pelangi", Berantas Sekularisme

Pelangi, sebutan yang tak seindah kedengarannya sejak kaum melambai mulai menjadikan pelangi sebagai simbol orientasi seksual mereka yang warna-warni, sungguh menggelikan. Parahnya, Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim malah mendukung keberadaan kaum melambai ini bahkan memberikan ruang untuk bersuara. Indonesia tergolong salah satu penganut paham sekuler yang sudah merusak citra baik bumi pertiwi yang terkenal santun dan berakhlak mulia. Tegaknya hukum-hukum sekuler di bumi pertiwi ini menambah rentetan bencana yang mengorbankan banyak jiwa kaum muslimin akibat sikap cuek mereka terhadap kemaksiatan.

Di samping itu, dalam kacamata politik pelestarian gender masuk dalam program Suistanable Development Goals (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) berskala global. Sebagaimana dalam buku Pedoman Rencana Aksi Nasional yang menyebutkan bahwa salah satu tujuan dari Suistanable Development Goals yang mencakup 17 tujuan salah satunya adalah kesetaraan gender. 

Dari sini, sangat jelas bahwa eksistensi kaum "pelangi" di Indonesia tidak terlepas dari dukungan pemerintah. Di sisi lain, ide kesetaraan gender merupakan program global di bawah lindungan lembaga internasional, PBB. Oleh karena itu, adalah suatu kewajaran jika pemerintah berlepas tangan dari perkara kaum melambai ini. Dengan demikian, berharap keadilan dari pemerintahan sekuler adalah mimpi buruk. Sehingga, masyarakat harus bersatu untuk memerangi berbagai kemaksiatan yang merajalela dengan selalu menyuarakan kebenaran, menentang kebijakan-kebijakan salah arah, membuka kedok-kedok kotor penguasa sekuler, mengedukasi masyarakat tentang bobroknya rezim sekuler, dan mengarahkan masyarakat untuk berfikir lebih cerdas dalam menentukan hukum.

Islam, Solusi Tuntas Berantas Kaum "Pelangi"

Islam adalah agama yang mulia, tinggi dan penuh hikmah. Islam sangat membenci penyimpangan dan juga aktivitas menyimpang, contohnya aktivitas L98T dan transgender. Aktivitas semacam ini dikutuk oleh Allah Swt. karena seyogyanya telah menyimpang dari ajaran Islam pun telah menolak sunatullah. 

Dalam Al-Qur'an sangat jelas mengabarkan tentang hukuman bagi pelaku penyimpangan ini. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Hud ayat 82-83:

"Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah-tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan negeri itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim."

Perilaku L98T dan transgender di masa lalu disamakan dengan aktivitas kaum sodom. Sehingga, siapa saja kaum yang melakukan aktivitas semacam ini tentu akan mendapat balasan yang sama layaknya kaum sodom di masa lalu. Seperti ynag dijelaskan dalam sebuah hadis:

"Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, Rasulullah saw. bersabda: Allah melaknat manusia yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth." (HR. Ahmad).

Dengan demikian, wajib bagi umat muslim memerangi aktivitas penyimpangan kaum "pelangi" untuk menjaga diri dari azab Allah Swt. Sejatinya, azab tidak hanya diturunkan bagi pelaku maksiat di suatu negeri melainkan juga akan menimpa orang-orang mukmin yang mendiami negeri tersebut, akan tetapi berdiam diri dari aktivitas maksiat tersebut. 

Secara tegas, Islam mberikan hukuman bagi para pelaku L98T dan transgender dengan hukuman yang keras bahkan kebolehan untuk membunuh para pelakunya. 

"Siapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan homo seperti kelakuan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan objeknya." (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Namun, hukuman semacam ini tidak mungkin tegak dalam sistem sekuler yang menuhankan materi dan meninggalkan hukum Allah. Dengan demikian, hanya Islam yang mampu menghapus berbagai bentuk kemaksiatan dengan hukum yang berasal dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah. Hanya Islam yang memiliki hukuman yang memberi efek jera bagi pelaku kemaksiatan. Wallahu a'lam bissawab.