Moderasi Beragama, Wacana atau Bencana?


Oleh Echi Aulia

(Penulis, Aktivis dakwah, Member AMK)


Kehadirannya tak kasat mata. Dampaknya sangat nyata. Ia diam-diam menyelinap ke relung jiwa umat yang belum memahami Islam secara keseluruhan. Moderasi beragama, sebuah istilah baru yang sedang dijajakan di tengah masyarakat. Ya, dengan dalih menghargai perbedaan dan toleransi, moderasi beragama dibiarkan tumbuh subur di negeri ini.

Baru-baru ini, seorang publik figur yang sudah tidak asing lagi namanya di telinga masyarakat. Cinta Laura tengah menjadi sorotan media. Namanya mendadak trending usai pidatonya di acara Aksi Moderasi Beragama beberapa waktu lalu, yang diadakan di Kementerian Agama RI. Pidatonya tersebut disaksikan oleh beberapa menteri di antaranya, Menteri agama Gus Yaqut, Menteri Kemendikbud Nadim Makarim dan Menteri Dalam Negeri Tito Kanarvian.

Dalam pidatonya tersebut Cinta mengatakan sungguh sebuah kehormatan baginya bisa diundang mewakili generasi muda Indonesia dalam mengekspresikan opini mengenai moderasi beragama. Mari menghargai perbedaan dan kuatkan toleransi sambungnya.

Sang Menteri Agama, nyaris menitikkan air mata mendengar pidato Cinta Laura yang menurutnya sangat menyentuh. Ia mengatakan kalau bukan karena malu dengan istri, mungkin ia sudah menangis. Ia juga mengakui sebelum duduk di kursi Kementerian, pidato tentang moderasi agama tersebut sering ia pidatokan. (Viva.co.id, 27/9/2021).

Sebelum kita berdecak kagum dengan pidato tersebut. Hendaknya terlebih dahulu kita pahami pada hakikatnya istilah moderasi, pluralisme dan radikalisme merupakan istilah yang berasal dari epistemologi Barat. Anehnya, propaganda narasi beragama tersebut cenderung menyasar agama Islam. Semisal Islam moderat, Islam radikal, Islam Nusantara, Islam modern. Padahal, kenyataannya semua istilah itu tidak pernah ditemukan dalam ajaran Islam.

Arus moderasi beragama sejatinya adalah mencampuradukkan kebenaran Islam dengan ajaran agama lain. Karena toleransi yang digagas Barat merupakan paham pluralisme, yang menganggap semua agama benar. Ini jelas berkaitan dengan masalah tauhid dan akidah seorang muslim. Bukankah ini sebuah bencana?

Padahal tanpa embel-embel moderat Islam sudah menjadi agama paling toleran. Bahkan membawa rahmat bagi seluruh alam. Paling memberi ruang terhadap agama lain.

Namun, sayangnya paham demokrasi sekuler yang diterapkan saat ini justru menuduh Islam anti dengan keragaman dan radikal. Ironisnya lagi, demi menangkal paham keagamaan ektrem dan radikalisme, Kementerian Agama semakin menggalakkan konsep moderasi beragama ini ke tengah masyarakat, khususnya generasi muda yang akan jadi penerus bangunan bangsa ini nantinya.

Islam yang sudah sempurna ajarannya ini tentu lebih paham bagaimana mengelola bangsa dan individu masyarakatnya. Yaitu dengan menerapkan hukum-hukum yang telah Allah tetapkan. Di antaranya sebatas mana toleransi umat Islam terhadap umat agama lain. Tapi tidak sampai kebablasan atau membuat akidah seorang muslim menjadi goyah. Bagaimana menghargai perbedaan, semua itu sudah ada dalam ajaran agama Islam.

Jika kita berbicara tentang toleransi beragama, sebenarnya sudah ada sejak zaman Rasulullah saw. Bahkan itu sudah terbangun dengan indah, di mana pemeluk Islam, Yahudi dan Kristen hidup rukun dan berdampingan dalam ketenangan. Begitupun di Mesir umat Islam hidup rukun ratusan tahun sejak masa Khulafaur Rasyidin. Di India, sepanjang kekuasaan Bani Umayyah, Abbasiyah dan Ustmaniyah, Muslim dan Hindu selalu hidup rukun selama ratusan tahun. MasyaAllah.

Dengan demikian, sudah waktunya kita sadar bahwa moderasi beragama hanyalah topeng untuk menghalangi penerapan Islam secara kafah. Racun itu telah menyusup dalam setiap lini kehidupan tak terkecuali aspek pendidikan dan budaya.

Oleh karena itu, mari terus berjuang untuk mengembalikan kemurnian ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Yaitu dengan cara menerapkan syariat Islam secara keseluruhan dalam bingkai Daulah Islamiyah.

Wallahu a'lam bissawab.