Miss Queen Terselenggara, LGBT Kian Merajalela?

 


Oleh Faizah Khoirunnisa' Azzahro


Pembiaran kontes transgender tersebut dapat memberi angin segar bagi kelompok LGBT menunjukkan eksistensinya.


Sebuah ironi, negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, namun membiarkan penyelenggaraan Miss Queen Indonesia 2021, yang sarat akan kampanye LGBT. Kontes kecantikan ala transgender tersebut berlangsung di Bali. Pemenangnya akan melaju mewakili Indonesia di Miss Internasional Queen 2022 di Thailand. (www.makassar.terkini.id, 02-10-2021)


Beragam komentar terlontar baik yang pro maupun kontra. Pihak kontra didominasi oleh kalangan agamis, sementara yang pro bisa dipastikan pelaku LGBT itu sendiri ataupun para sekuleris liberal.


Negara Abai, Masyarakat Dalam Bahaya


Sangat disayangkan, karena tidak terlihat upaya pemerintahan untuk mencegah pagelaran yang merusak moral bangsa. Secara konstitusi pun, ide dan praktik LGBT tidak sesuai dengan Pancasila dan nilai luhur serta budaya bangsa. Lagi-lagi dengan menggunakan alasan kebebasan berekspresi yang membebek paham demokrasi sekuler ala Barat, acara-acara yang merusak seperti ini dibiarkan terselenggara.


Pembiaran kontes transgender tersebut dapat memberi angin segar bagi kelompok LGBT menunjukkan eksistensinya melalui berbagai cara. Sekalipun ada pertentangan, hal itu hanya ramai sesaat setelah itu tidak ada upaya yang jelas dan tersistematis untuk menghalau ide rusak nan merusak itu.


Hanya menjalankan perintah, rezim sekuler di negeri ini telah tersandera agenda politik Barat sehingga kampanye LGBT yang menjadi program internasional bisa lolos begitu saja. 


Fakta menunjukkan bahwa jumlah pelaku dan simpatisan LGBT di Indonesia, sangat mengkhawatirkan. Mereka aktif dan terang-terangan membentuk grup-grup maupun fanbase di media sosial. Sebagai sebuah gerakan, LGBT akan terus memperbanyak jumlah pengikutnya. Yang disasar dan rentan terpengaruh tentu saja para remaja yang tengah mencari jati diri. Tanpa benteng iman yang kokoh, LGBT dengan sangat halus masuk melalui acara-acara hiburan seperti musik, film dan komik.


Bisa dibayangkan bagaimana kualitas peradaban di masa depan, jika generasi hari ini dirusak sedemikian rupa oleh sistem kehidupannya yang tidak bermisi menjaga moral dan akhlak. 


Ide LGBT, hanyalah satu dari sekian banyak hal merusak yang diproduksi oleh sistem kapitalis sekuler yang diterapkan saat ini. Ideologi yang lahir dari hawa nafsu manusia, mustahil mewujudkan kebaikan dan keluhuran bagi peradaban.


Sistem Islam Menjaga Moral


Dalam Islam banyak nash-nash yang terang benderang melarang LGBT karena menyalahi fitrah dan merupakan perbuatan fakhisyah. Kisah kaum sodom di era Nabi Luth, yang juga diceritakan dalam Al-Qur'an, menjadi pelajaran bagi kita bahwa Allah tak segan menurunkan adzabnya secara merata jika dalam suatu negeri, masyarakatnya membiarkan perbuatan keji tersebut.

Sebagai muslim, kita diperintahkan untuk melakukan aktivitas dakwah, yakni mengajak pada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar. Aktivitas dakwah inilah yang menjadikan kaum muslimin memiliki gelar sebagai umat terbaik. 

Sebagai agenda kufur yang memiliki bekingan internasional, LGBT tidak bisa dilawan jika hanya mengandalkan individu. Diperlukan sebuah jama'ah dakwah yang mengajak pada penerapan sistem dan ideologi yang bisa berhadapan apple to apple dengan ideologi kapitalisme sekuler yang menjadi induk ide LGBT. 


Islam-lah satu-satunya sistem dan ideologi yang dengan lantang menyatakan perlawan kepada segala bentuk kekufuran, termasuk LGBT. Bukan untuk menindas, aturan Allah SWT bertujuan untuk mewujudkan rahmat bagi semesta alam. Jika manusia dibiarkan bebas menuruti hawa nafsunya, akan berujung pada kehancuran, sebab manusia tak tahu hakikat baik-buruk, benar-salah, karena keterbatasannya.


Islam memiliki aturan holistik, yang bersifat preventif dan kuratif. Tak hanya memberi sanksi tegas dan menjerakan kepada pelaku LGBT, dari hulu, Islam telah mengkondisikan agar setiap individu memiliki benteng keimanan. Secara pergaulan, syariat Islam mengatur batasan aurat kepada lawan jenis maupun sesama jenis. Sejak dini pun, kaum muslimin dilarang untuk tidur dalam satu selimut meskipun dari gender yang sama. 


Dibalik semua perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta'ala, pasti ada kebaikan untuk setiap hamban-Nya. Hanya saja semua itu tergantung kemauan manusia untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah ataukah tidak. Di setiap pilihan tentu ada konsekuensi dibaliknya. Memilih taat akan berujung keberkahan, memilih maksiat akan berujung kerusakan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

(QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)