Miss Queen, Prestasi atau Aib?


Oleh Yulia Putbuha


Belum lama ini komunitas trans gender menunjukkan eksistensinya dengan terlaksananya kontes kecantikan miss queen. Ajang tersebut berlangsung di Bali dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Kontes dimenangkan oleh Millen Cyrus sebagai juara Miss Queen Indonesia 2021. Keponakan Ashanty ini pun siap bertanding di kancah Internasional yang akan diadakan di Thailand 2022 mendatang. (Okzone.com, 01/10/2021).

Tujuan diadakannya acara ini tak lain adalah bagian dari kampanye LGBT. Seperti yang diketahui saat ini komunitas LGBT semakin masif menampakkan jati dirinya dan masyarakat pun semakin toleran terhadap kerusakan ini. Bahkan warganet memberi dukungan pada pemenang untuk tampil di ajang sejenis di tingkat global.

Tentu saja hal ini sangat mengkhawatirkan, sebab jika negara membiarkan dan tidak menutup semua pintu penyebaran ide dan perilaku LGBT, maka negeri ini akan menjadi negeri yang rusak dan bobrok.

Lesbian, Gay, Bisex, dan Trans gendre (LGBT) bukanlah takdir dari Tuhan dan bukan pula diciptakan alami oleh Tuhan sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang pendukung dan penggiat LGBT. LGBT adalah perilaku yang menyimpang dari fitrah manusia, merusak, haram dan menjijikkan. Oleh sebab itu, perlu ketegasan negara dalam menghadapi permasalahan ini.

Indonesia sebagai negeri yang mayoritas muslim, semestinya lebih mengedepankan norma agama untuk dijadikan sebagai rujukan. Bukan kebebasan dan HAM liberal yang diadopsi dari Barat yang sudah jelas merusak dan juga jelas dampak buruknya.

Adanya LGBT tidak bisa ditoleransi apalagi disambut dengan tangan terbuka, karena eksisnya komunitas ini bukan hanya merusak, tetapi bisa mengundang azab Allah Swt. seperti halnya pada kaum nabi Luth. Allah Swt. meluluhlantakkan kaum Sodom dengan hujan batu. Allah Swt. pun merendahkan pelaku penyimpangan ini serendah-rendahnya makhluk, sebab hewan pun enggan melakukannya.

Namun, yang terjadi saat ini mereka malah didukung, seolah apa yang para LGBT lakukan merupakan prestasi bukan aib. Itulah wujud dari kebebasan yang digaungkan Barat, mereka sengaja mengkampanyekan LGBT di negeri yang mayoritas muslim untuk merusak nalar kaum muslim dan menjauhkan kaum muslim dari hukum-hukum Allah.

Padahal, Islam sebagai aturan yang lengkap dan sempurna menjadikan Al-Qur'an dan Sunah sebagai sumber hukum untuk seluruh permasalahan manusia, termasuk memandang LGBT. Dalam Islam ditegaskan pelaku LGBT adalah haram dan sesuatu yang haram harus ditinggalkan. Namun eksistensi LGBT saat ini sulit dibendung, sebab permasalahan LGBT saat ini telah menjadi problem sistemis, maka harus diselesaikan oleh negara.

Negara bisa melakukan beberapa langkah untuk memberantas dan mencegah LGBT. Langkah pertama adalah negara harus menanamkan nilai-nilai Islam pada setiap individu masyarakat dengan menguatkan iman dan takwa dan memahamkan norma-norma dan pemikiran Islam.

Dengan demikian, maka rakyat akan memfilter pengaruh buruk dari pemikiran-pemikiran dan budaya asing. Rakyat mampu membentengi diri dengan nilai-nilai Islam yang tertanam dalam dirinya, sehingga rakyat tidak didominasi oleh sikap hedonis dan mengutamakan hawa nafsu. 

Kedua, negara akan menyetop segala bentuk penyebaran pornografi dan pornoaksi. Selain itu, negara akan menyensor media yang menayangkan pemikiran dan budaya yang rusak. Negara juga akan memberi kemudahan bagi siapa saja yang siap menikah, sehingga kebutuhan biologis akan tersalurkan sesuai dengan fitrahnya.

Itulah cara Islam mencegah terjadinya pelaku LGBT. Namun, jika masih ada yang melakukan maka negara akan memberi hukuman yang berat bagi pelaku, bahkan ada ulama yang berpendapat bahwa hukuman bagi pelaku LGBT adalah hukum mati. Dengan hukuman yang begitu berat, maka bagi siapa saja yang akan melakukan penyimpangan akan berpikir berulang kali.

Begitu rinci Islam mengatur dan aturan dalam Islam adalah aturan yang mampu memberikan solusi yang tuntas. Namun, aturan itu akan sulit diterapkan dalam sistem saat ini dan satu-satunya jalan untuk menerapkan aturan Islam adalah dengan menerapkannya lewat sebuah sistem Islam yang diterapkan oleh negara.