Menyikapi Ajang Miss Queen Indonesia 2021


Penulis Dwi Susanti

(Praktisi Pendidikan)


Kemenangan Millen Cyrus dalam ajang kontes kecantikan Miss Queen Indonesia 2021 yang digelar di Bali September lalu menuai beragam komentar dari warganet. Ada yang memberikan dukungan dan ucapan selamat, akan tetapi tidak sedikit yang berkomentar negatif dan bernada cibiran menanggapi kemenangan Millen dalam ajang tersebut. Pasalnya Miss Queen ini merupakan kontes kecantikan bagi wanita transgender. Kontes ini sangat tidak layak diselenggarakan di Indonesia, mengingat Indonesia merupakan negeri muslim terbesar di dunia, yang tentunya dalam hukumnya melarang acara semacam ini dilangsungkan.

Bahkan Majelis Ulama Indonesia melalui Prof Utang selaku Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian MUI mengatakan, “Ajang-ajang seperti Miss Queen transgender mestinya tidak boleh diadakan di Indonesia. Karena negara kita berasaskan Pancasila yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama, sesuai sila pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa.” (detiknews, 4/10/2021).

Namun, meski MUI sudah angkat bicara dan menyatakan ajang semacam ini tidak dibolehkan, MUI tetap tidak memiliki kekuatan secara fisik untuk menghentikan acara semacam ini. Padahal acara semacam ini sangat berbahaya dan berpengaruh buruk pada generasi negeri ini. Karena semakin memberikan ruang dan kesempatan bagi para pemilik perilaku menyimpang untuk tampil eksis di tengah masyarakat. Apalagi banyak warganet yang mendukung pemenang untuk tampil di ajang Internasional di Thailand.

Sayangnya, negara sebagai otoritas tertinggi tidak melarang bahkan terkesan melakukan pembiaran dan tidak berupaya menutup semua pintu penyebaran ide dan perilaku menyimpang (l9bt) karena mengadopsi ide kebebasan dan HAM yang liberal. Lalu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai seorang muslim menyikapi hal ini?

Transgender dalam Pandangan Islam

Allah Swt. menciptakan manusia dengan dua jenis yang berbeda yaitu laki-laki dan perempuan. Di mana keduanya diciptakan dengan tujuan yang sama yaitu untuk beribadah kepada Allah Swt. Agar aktivitas ibadah yang dilakukan tersebut berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah Swt. maka diberikanlah seperangkat aturan yang disebut dengan syariat. Nah dalam hukum syariat ini dijelaskan tentang hal apa saja yang wajib dilakukan oleh seorang muslim, yang dianjurkan, yang dibolehkan, yang harus dihindari bahkan dilarang untuk dilakukan. 

Dalam Islam hanya ada 2 pengakuan terhadap jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Hukum syariat pun juga hanya memberikan tuntunan bagi laki-laki dan perempuan, bagaimana mereka harus beribadah tidak ada selain itu. Haram hukumnya laki-laki yang berpakaian dan berperilaku seperti perempuan dan sebaliknya.

Bahkan dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Abas, menyatakan bahwa Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.

Lalu bagaimana dengan transgender? Transgender merupakan istilah yang diberikan kepada seseorang yang terlahir sebagai laki-laki tulen dan kemudian merubah kelaminnya melalui operasi menjadi perempuan. 

Berdasarkan hadis dan pemahaman di atas, maka perilaku transgender ini hukumnya haram dalam Islam dan pelakunya dilaknat oleh Allah dan Rasulnya. Bahkan Rasulullah memerintahkan kepada kaum muslim untuk mengusir para pelaku dari kampung mereka. Apalagi jika mereka telah melakukan perbuatan nabi Luth, maka layak bagi pelaku perilaku menyimpang ini dibunuh dengan berbagai cara sesuai ijtihad khalifah/penguasa misal dijatuhkan dari tebing yang sangat tinggi.

Adapun seseorang yang terlahir banci atau dengan 2 jenis kelamin, yang dalam Islam diistilahkan dengan khunsa, maka perlu dilihat/ditentukan statusnya. Hal ini penting dilakukan untuk pemberlakuan hukum bagi dia misalnya dalam waris, perwalian, dan sebagainya. Pembuktian status ini bisa dengan pemeriksaan secara medis dengan memperhatikan organ vital mana yang berfungsi baik dalam seorang khunsa tadi. Jika organ laki-laki yang dominan, maka dia ditetapkan sebagai laki-laki. Namun jika organ perempuannya yang lebih dominan misal memiliki rahim, hormon perempuan yang lebih banyak, maka ditetapkan sebagai perempuan. 

Untuk mendukung penentuan jenis kelamin seorang khunsa setelah melalui pemeriksaan dokter boleh disertai operasi pengangkatan/penghilangan jenis kelamin yang tidak berfungsi. Penetapan jenis kelamin ini dikuatkan dengan dokumen yang dikeluarkan oleh pengadilan. Sehingga menjadi jelas dia seorang laki-laki atau perempuan.

Sikap Muslim terhadap Transgender

Sebagai seorang muslim tentu kita sangat memahami bahwa setiap perilaku kita wajib terikat dengan hukum syariat. Karena sejatinya tugas kita di dunia ini hanya untuk beribadah. Suatu saat nanti kita akan kembali kepada Allah dengan mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita. Untuk itu tentu kita harus sangat berhati-hati dalam bersikap, jangan sampai kita melanggar larangan Allah yang menyebabkan kita harus mengalami siksa api neraka di akhirat kelak.

Terkait dengan transgender ataupun perilaku menyimpang lainnya, tentu kita tidak boleh mendukung dan mengapresiasi hal ini. Termasuk mendukung ajang-ajang untuk penyaluran bakat para pelaku menyimpang. Karena sejatinya itu adalah penyakit yang bisa menular kepada masyarakat lainnya. Kita harus mampu meluruskan mereka dari perilaku menyimpang bukan justru mendukung yang akan menjerumuskan mereka pada aktivitas yang salah. Apalagi biasanya setelah menjadi transgender aktivitas seksual mereka juga menjadi menyimpang. Mereka akan menjadi penyuka sesama jenis (laki-laki) yang jelas-jelas hukumnya haram dan dapat mengundang azab Allah bagi negeri ini. 

Kita wajib selalu waspada terhadap segala kampanye lgbt ini melalui berbagai media TV, medsos dan lain-lain. Kita harus menyadarkan seluruh masyarakat akan bahayanya dan dampaknya bagi generasi muda kita. Tolak segala aktivitas yang menyuarakan pengakuan terhadap perilaku menyimpang. Karena sikap kita menunjukkan ada di pihak mana kita berada.

Dalam kehidupan kapitalis ini kita harus semakin mempertebal keimanan dan ketakwaan kita, saling amar makruf nahi mungkar terhadap sesama. Agar kita selalu dilindungi dan mampu menghindarkan diri dan keluarga dari arus negatif kehidupan saat ini. 

Allahu a’lam bissawab.