Liberalisme Melahirkan Generasi Rusak dan Merusak

 


Oleh  Daliyem 

Miris melihat fakta yang terjadi para pemuja liberalis (kebebasan). Mereka dengan berani terang-terangan menampakkan jati diri mereka sebagai makhluk terkutuk


Millen Cyrus menyabet juara Miss Queen Indonesia 2021 yang siap bertanding ke Thailand. Keponakan Ashanty ini pun senang dan terharu saat mahkota Miss Queen dipasang di kepalanya. Ajang khusus untuk Transpuan tersebut diikuti Millen Cyrus dengan serius. Bahkan, karena sebelumnya Millen pernah di-blacklist, ia memperbaiki diri dan berhasil menjadi juara pertama.


Momen haru sangat terasa saat mahkota Miss Queen Indonesia disematkan di kepalanya. Saking paniknya, mahkota sempat hampir terjatuh namun untungnya masih tersangkut di rambut dan berhasil diperbaiki segera.


Miris melihat fakta yang terjadi para pemuja liberalis (kebebasan). Mereka dengan berani terang-terangan menampakkan jati diri mereka sebagai makhluk terkutuk. Perbuatan yang pernah dilakukan oleh umat Nabi Luth ini bukannya membuat mereka merenung dan bermuhasabah namun secara menggila menampilkan event-event yang menjijikkan.


Kerusakan ini telah nampak namun seakan terjadi pembiaran tanpa ada lembaga apa pun di negara ini yang mampu mendidik bahkan memberi sangsi tegas. Bahaya yang ditimbulkan bukan hanya cerita ketika mereka dalam aktivitas kehidupannya tidak jelas jenis kelaminnya. Bahkan ketika mereka menyalurkan kasih sayang yang memang secara fitrahnya Allah Swt. ciptakan pada diri manusia. Maka yang ada hubungan kasih sayang yang menyimpang.


Penyimpangan ini dapat menimbulkan penyakit mematikan yaitu HIV-AIDS yang tidak ada obatnya karena virus ini adalah azab yang telah Allah Swt. datangkan sebagaimana kaum Luth yang  telah Allah Swt. musnahkan. Selain itu potensi memusnahkan bagi pertumbuhan generasi yang akan datang tidak akan ada lagi karena hubungan sejenis tentu tidak akan memperoleh keturunan.


Sungguh sangat disayangkan. Pembiaran terhadap kebebasan bertingkah laku sesungguhnya buah dari sistem demokrasi yang telah memberikan perlindungan atas nama Hak Asasi Manusia ( HAM). Jadi adalah suatu kewajaran jika sistem demokrasi kapitalis yang banyak di puja-puja justru akan memberikan dampak buruk bagi agama dan negara. Jelas-jelas sistem demokrasi adalah sebuah aturan yang dibuat berdasarkan akal manusia  yang terbatas.


Harusnya negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam sudah selayaknya menerapkan aturan kehidupan berdasarkan Sang Penciptanya. Sistem Islam yang telah ada dan pernah berjaya selama 14 abad telah menjamin keberlangsungan jiwa, kehormatan bahkan nasab akan terjaga.


Dalam sistem Islam sudah pasti hukum-hukum Islam secara sempurna akan diterapkan oleh negara hingga mampu menjadikan hukum Allah Swt. sebagai penebus hukuman di dunia dan di akhirat. Hukum tersebut tentunya akan mampu menjadikan efek jera baik bagi pelaku maupun orang lain.


Allah Swt. berfirman:

"Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukannya di bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu. Kami curahkan hujan yang lebat untuk mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan generasi yang lain setelah generasi mereka." (QS. Al-An'am [6]: 6).


Dari sini mulai jelas kita butuh aturan kehidupan sebagai aturan yang mengikat manusia untuk hanya taat kepada Allah Swt. Menjalankan setiap aktivitas yang telah Nabi Muhammad saw. contohkan. Jelas-jelas Allah akan menurunkan balasan bagi orang-orang yang mengerjakan dengan balasan surga yang mengalir dibawanya sungai-sungai. Allah Swt. akan membinasakan siapapun yang dengan berani menolak syariat-Nya.


Sungguh hanya dengan syariah Islam secara kafah yang ditetapkan oleh negara yang akan melahirkan generasi faqih fiddin. Generasi yang akan melahirkan para ulama dan para ilmuan yang akan menjadikan negeri ini baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,


Wallahu a'lam bishawab