Krisis Air Bersih Butuh Solusi Hakiki


Oleh  Ummu Abror

Pengajar


Air adalah salah satu kebutuhan asasi bagi manusia, keberadaannya menjadi hal penting yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena jika air sulit untuk didapatkan maka masyarakat dipastikan akan mengalami kesulitan.

Seperti yang terjadi di sebagian wilayah di Kabupaten Bandung, musim kemarau yang mulai terjadi membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih. Namun tidak demikian yang terjadi di daerah Cibiru Tonggoh yang masyarakatnya memiliki tradisi menghambur-hamburkan air. 

Tradisi itu dikenal dengan perang air atau perang cai. Sebagaimana dilansir dari Merdeka.com pada (2/9/2021), menurut pemangku adat setempat ritual ini dilakukan untuk mengingatkan warga agar selalu kompak dalam mempertahankan privatisasi sumber mata air dari pihak lain. Hal ini juga bisa menjadi pengingat akan anugerah Yang Maha Kuasa karena telah memberi kenikmatan alam.

Persoalan krisis air bersih selalu saja terjadi dari tahun ke tahun. Masyarakat sering terbebani dengan mahalnya air bersih perpipaan. Miris memang, padahal negeri ini memiliki potensi sumber daya air berlimpah dan teknologi air bersih begitu maju dengan pesat.

Namun sayang, ditengah krisis air bersih yang terjadi aparat justru memberikan ijin kepada pihak swasta maupun asing dalam menguasai beberapa  sumber mata air yang ada di negeri ini.  Sementara di sisi lain, masyarakat harus rela berjalan berkilo meter hanya untuk mendapatkan satu dua ember air, bahkan tidak jarang  ada yang harus rela minum dari kubangan. Mereka tidak sanggup membayar air bersih perpipaan yang cukup mahal itu. 

Di sisi lain, daerah yang masih mempertahankan mata airnya dari privatisasi, alih-alih terbangun kesadarannya untuk ikut berempati atas penderitaan saudaranya, mereka justru terbawa euforia dengan menghambur-hamburkan air bersih untuk hal-hal yang tidak penting.

Semua fakta ini telah cukup sebagai bukti kegagalan sistem kapitalis sekuler dalam mengurusi urusan umat. Minim dari visi orisinil, jauh dari ketulusan, kasih sayang dan empati terhadap penderitaan sesama adalah karakter yang begitu menonjol dengan paradigma dan logika-logika yang bathil menjadikan air dan hutan sebagai barang komersial. 

Sementara sistem pemerintahan neoliberalisme yang menganut demokrasi justru menyokong hal tersebut, tidak menghentikannya bahkan justru bertindak sebagai fasilitator bagi kerusakan ini.

Maka untuk menyudahi semua penderitaan yang dialami umat,  diperlukan sistem pengganti yang sahih yaitu Islam yang telah diterapkan dan  terbukti mencapai puncak kesejahteraan masyarakat selama 13 abad meliputi dua per tiga dunia.

Lantas bagaimanakah sistem Islam menyelesaikan krisis air bersih ini? Dalam Islam air termasuk dalam kepemilikan umum. Rasulullah menegaskan:

“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput/hutan, air dan api”. (HR. Abu Dawud dan ahmad)

Maka dalam sistem khilafah, negara benar-benar hadir dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, yaitu dengan mengembalikan mata air agar sepenuhnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Mengadakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh masyarakat agar mereka mampu mengakses air bersih kapanpun dan di manapun dengan mudah. Menjaga dari praktek privatisasi kepemilikan umum. 

Begitulah Islam, dengan seluruh aturannya yang sempurna mampu mengatasi semua permasalahan yang ada, sudah seharusnya umat bersegera mewujudkan sistem yang sahih yang mampu memberikan kesejahteraan dan terlebih mendapatkan ridha dari Allah Swt.

Wallahu a’lam bi ashawwab.