Kondisi Pendidikan Negeri di Masa Pandemi

 



Oleh Raissa Aditya Putri

(Aktivis Dakwah Millenial)

Generasi unggul tidak hanya sekedar mahir dalam pengetahuan saja tetapi yang lebih utama harus berkepribadian Islam sehingga nanti mampu menjadi generasi yang unggul dan berkualitas


Pemerintah mulai memperbolehkan pelaksanaan sekolah tatap muka di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (Pembatasan Kegiatan Masyarakat(PPKM). "Per tanggal 22 Agustus 2021 sebanyak 31 persen dari total laporan yaitu 261.040 satuan pendidikan yang berada pada daerah dengan PPKM level 3, 2, dan 1 ini telah menyelenggarakan pembelajaran tatap muka secara terbatas dengan protokol kesehatan yang ketat," kata Wiku dalam konferensi pers daring, Kamis (26/8/2021). 


Pelaksanaan sekolah tatap muka didasari pada keputusan bersama Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tentang Panduan pelaksanaan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid 19. Selain itu, Instruksi Mendagri Nomor 35, 36, dan 37 Tahun 2021 terkait Pelaksanan PPKM juga menjadi landasan pelaksanaan kegiatan tersebut ujar Wiku. (kompas.com, 27/08/21)


Berita ini jelas disambut gembira oleh para peserta didik dan juga para wali murid yang sudah mulai merasa jenuh dengan pembelajaran berbasis daring serta pembatasan bersosialisasi yang berkepanjangan. Namun berbeda halnya dengan reaksi para guru yang menyayangkan kebijakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim yang membolehkan belajar tatap muka dengan syarat terbatas di sekolah yang berada pada PPKM Level 1-3, walaupun para siswanya belum di vaksinasi. Menurut Iman Zanatul Haeri selaku Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru, tindakan ini sangatlah gegabah, vaksinasi anak dan guru seharusnya dapat dituntaskan di sekolah sebelum dilaksanakannya pembelajaran tatap muka terbatas.


Sistem pendidikan Indonesia saat ini masih jauh dari kata ideal. Terlihat bahwasanya pemerintah tidak memperhatikan seperti apa dampak yang akan dialami oleh para siswa dan siswi ketika melaksanakan pembelajaran tatap muka sementara vaksinasi belum dituntaskan.  Mereka juga belum dapat menjamin bahwa anak dapat mematuhi protokol yang disyaratkan.


Bahkan jauh sebelum pembelajaran daring diberlakukan, sudah banyak terlihat potret buram serta  belum meratanya sistem pendidikan di Indonesia dikarenakan penerapan sistem pendidikan sekuler. Sistem sekuler kini sudah masuk ke berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Sudah jelas pendidikan yang berbasis sistem sekuler ini rusak, maka adakah solusi yang baik? Yang nantinya dapat membawa generasi muda menjadi unggul dan berkualitas? Sistem ini adalah sistem pendidikan yang berbasis akhlak.


Islam dengan segala aturannya yang terperinci dan menyeluruh, yang tidak hanya fokus kepada aspek kognitif saja. Tetapi segala aspek harus ditanamkan khususnya akidah. Oleh karna itu, kurikulum yang digunakan harus berbasis akidah. Karena kurikulum ialah strategi. Jika kurikulumnya baik dan sesuai maka tujuan utama dari pendidikan akan tercapai yaitu membentuk kepribadian Islami pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat.  


Dapat kita lihat bahwasanya masa gemilang Islam telah banyak mencetak generasi unggul peradaban. Buktinya pada masa kejayaan Bani Abbasiyah, empat mazhab yang kita kenal yaitu Imam Syafi’I, Imam Hanbali, Imam Maliki, dan Imam Hanafi mereka adalah buah dari penerapan pendidikan islam. Ada pula Musa Al-Khawarijmi beliau adalah penemu angka 0 (nol) yang kita sering kita gunakan dalam matematika.


 Bayangkan jika tidak ditemukan angka 0 para ulama modern tidak akan tercipta teknologi. Kemudian Abu Bakar Ar-Razi, Az-Zahrawi, Ibnu Sina, Ibnu Al-Khattib mereka telah melangitkan namanya sebagai bapak kedokteran. Ilmu yang mereka dapatkan sampai saat ini masih digunakan oleh para dokter dan para tenaga kesehatan. Tanpa mereka tidak akan mengenal anatomi, tanpa mereka tidak akan mengenal suntikan dan alat-alat bedah modern, tanpa mereka tidak akan mengenal macam penyakit. Itulah fakta bahwa sistem pendidikan Islam mampu melahirkan para ilmuan hebat disertai dengan ulama yang bertakwa.


Perlu digaris bawahi bahwasanya generasi unggul tidak hanya sekedar mahir dalam pengetahuan saja tetapi yang lebih utama harus berkepribadian Islam sehingga nanti mampu menjadi generasi yang unggul dan berkualitas. Namun itu semua tidak akan tercipta dari sistem yang rusak seperti saat ini tetapi sistem pendidikan itu akan bisa dilakukan ketika Islam diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 


Wallahu a'lam bishawwab