Kondisi Afghanistan dan Narasi Perang Melawan Terorisme


Oleh Dewi Tisnawati, S. Sos. I

(Pemerhati Sosial)


Juru bicara Taliban urusan politik, Mohammad Naeem mengatakan kepada Al Jazeera Mubasher TV bahwa perang telah usai. Taliban pun menduduki Kota Kabul, saat Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani meninggalkan istanannya pada hari Minggu, (15 Agustus 2021).

Pada awal Juli 2021, Kementerian Pertahanan AS mengumumkan, progres penarikan pasukannya dari Afghanistan mencapai 90 persen. Sisanya 10 persen pasukan AS yang ada di Afghanistan, akan dipulangkan pada akhir Agustus alias beberapa hari sebelum tanggal penarikan yakni pada 11 September.

Setelah mayoritas pasukan asing hengkang, Taliban secara cepat menduduki sejumlah wilayah di Afghanistan. Mulanya, Taliban menduduki daerah-daerah pedesaan dan pinggiran Afghanistan. Setelah itu, kelompok ini berhasil merebut wilayah perbatasan penting. 

Pada 7 Agustus, Taliban merebut ibu kota provinsi pertama mereka, Zaranj di Provinsi Nimroz. Meski di beberapa tempat mereka mendapat perlawanan sengit, Taliban terus membuat kemajuan. Bahkan, para milisi Taliban berhasil mengambil alih kendali Jalalabad, kota utama di timur Afghanistan, tanpa perlawanan.

Tak butuh waktu lama setelah merebut Jalalabad, Taliban memasuki Kabul setelah merebut 23 ibu kota provinsi pada 15 Agustus. Pada saat yang sama, AS sedang mengevakuasi para diplomatnya dari kedutaan besar dengan helikopter. Ghani lantas meninggalkan negaranya saat Kabul dikepung Taliban. Setelah itu, dideklarasikan bahwa perang di Afghanistan telah berakhir. 

Biden dan pejabat tinggi lainnya terkejut oleh kecepatan Taliban dalam mengambil alih Afghanistan. Masuknya Taliban ke Kabul menandai kembali berkuasanya kelompok tersebut setelah digulingkan invasi pasukan koalisi pimpinan AS pada 2001.

Diakui atau tidak, fakta Taliban saat ini menjadi representasi pengusung syariat dalam bentuk pemerintahan, dan ini merupakan ancaman bagi eksistensi nilai-nilai barat sebagaimana dikemukakan oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell pada Kamis (19/8/2021). 

Dia menggambarkan kondisi yang terjadi di Afghanistan seperti sebuah bencana kehancuran. Dia pun melihat ada sebuah kegagalan dari intelijen dalam mengantisipasi upaya kelompok yang dilabelnya ‘radikal Taliban’ dalam merebut kekuasaan pemerintah Afganistan, sebagaimana dikutip dari Tempo (20/8/2021).

Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri mengungkap adanya dampak terhadap Indonesia dari kemenangan kelompok Taliban setelah menguasai sebagian besar wilayah Afghanistan. Polri menyebut kemenangan Taliban bisa memicu ketertarikan kelompok-kelompok radikal di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kabag Ban Ops Densus 88 Mabes Polri Kombes Aswin Siregar. Aswin awalnya memaparkan kondisi Afghanistan sejak 1980-an, yang merupakan tempat berlatih para teroris, termasuk dari Indonesia, seperti disiarkan lewat YouTube Sang Khalifah, Selasa (24/8/2021).

Hal senada diungkapkan oleh Pakar terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib. Dia mengatakan kemenangan Taliban ini bisa memicu semangat kelompok radikal untuk mendirikan negara Islam pada Kamis (19/8/2021).

Kemenangan Taliban kini telah mendapat pengakuan oleh banyak pihak. Sayangnya, kemenangan ini justru diwaspadai oleh beberapa pihak. Opini terus disebarkan agar waspada pemanfaatan situasi ini oleh kelompok radikal, karena dianggap akan muncul pihak yang  menggunakan isu Taliban untuk terus mengangkat narasi radikalisme dan negara Islam. 

Ini adalah bukti nyata perang global melawan teror tidak lain adalah perang global melawan setiap geliat penerapan syariat secara formal.

Taliban ini tadinya adalah kelompok milisi yang dibentuk oleh Amerika melalui tangan Pakistan. Namun, dinamika di lapangan pada akhirnya menyadarkan Taliban bahwa mereka dibentuk untuk memudahkan jalan bagi Amerika menjajah Afghanistan. Pada akhirnya Taliban sadar Bush Junior menjalankan perang salib. Untuk itu pilihan satu-satunya adalah melawan.

Kesadaran itu mencatatkan sebuah perlawanan keras untuk melepaskan diri dari cengkeraman Amerika dan Pakistan. Hal itu ditunjukkan dengan adanya penolakan terhadap tekanan Pakistan untuk melaksanakan tuntutan Amerika, dan mengusir delegasi pemerintah Pakistan yang memberikan tekanan keras tersebut.

Taliban sama sekali tidak mau tunduk pada tuntutan Amerika. Tidak ada pilihan bagi Amerika dan sekutunya Inggris kecuali melancarkan perang brutal terhadap kaum muslimin. Mereka menggempur kota-kota dengan rudal Tomahawk dan memuntahkan sejumlah bom serta berbagai jenis senjata lainnya.

Serangan tersebut bertolak dari wilayah udara, laut dan darat milik kaum muslimin, yang penggunaannya diizinkan oleh Pakistan dan Uzbekistan. Serangan itu terus berlanjut hingga berminggu-minggu tanpa henti. Meski kaum muslimin mengerahkan keberanian hebat dan ketegaran yang luar biasa, akan tetapi ganasnya serangan brutal menyebabkan kejatuhan Afghanistan ke tangan Amerika pada 2001M.

Melalui tangan PBB, ditetapkan kesepakatan Bonn bersamaan dikeluarkannya konstitusi baru Afghanistan. Konstitusi ini memberi peranan bagi Amerika untuk mengendalikan seluruh urusan Afghanistan. Amerika menobatkan dirinya sebagai penguasa Afghanistan. 

Kenyataan ini memicu perlawanan kaum muslim. Kelompok-kelompok mujahidin yang di masa lalu berselisih akhirnya saling mendukung mengusir penjajah. Amerika, pasukan intenasional (ISAF) dan NATO dibuat babak belur dalam perang terlama ini. Kondisi ini memaksa Amerika mengambil langkah-langkah politik.

Diselenggarakanlah berbagai aktivitas diplomatik dalam skala luas, di antaranya dengan mengajak Taliban bergabung dalam pemilu tahun 2004. Namun, tidak berhasil. Amerika tidak menyerah, bersama koalisinya terus melakukan upaya menundukkan Taliban.

Namun semua upaya itu gagal, perlawanan kaum muslimin semakin dahsyat. Opini perang telah berubah menjadi opini perang melawan pendudukan negara kufur atas tanah kaum muslimin. Ruh jihad telah mengkristal dalam benak bangsa Afghanistan, dan kekuatannya semakin meningkat. Perlawanan itu telah berakhir dengan angkat kakinya Amerika dan berkibarnya bendera La Ilaha illa Allah di langit-langit Afghanistan.

Sejarah panjang penindasan, baik oleh kapitalisme maupun komunisme telah menempa jiwa-jiwa kaum muslim Afghanistan untuk mengikatkan dirinya hanya kepada Islam. Islamlah yang menjadikan mereka tetap berdiri meski jatuh berkali-kali. Serangan yang menghantam mereka bukan hanya serangan fisik bahkan serangan media global dalam bentuk fitnah, framing dan kampanye hitam terhadap perjuangan mereka.

Seharusnya kita mampu melihat kemenangan Taliban sebagai bagian dari kebangkitan kaum muslimin. Kita belajar melalui pengalaman Afghanistan dalam memandang kejelasan urusannya sehingga tidak akan berada dalam kendali musuh. Taliban harus belajar dari kesalahan masa lalu untuk meraih kemuliaannya sebagai kaum muslimin.

Namun demikian, ada beberapa catatan yang perlu diketahui bahwa wajib bagi umat Islam untuk tidak melakukan kerjasama apa pun dengan orang kafir asing, tidak memberikan kepercayaan kepada mereka dalam kondisi bagaimana pun. Sebab orang kafir tidak akan pernah menginginkan kebaikan bagi umat Islam.

Selain itu, meniadakan kepercayaan kepada kaki tangan Amerika. Pemerintahan Pakistan adalah pihak yang berada di balik terbentuknya Taliban, akan tetapi ketika kepentingan Amerika menuntut hal lain, maka mereka melemparkan Taliban dan bersama-sama menindasnya.

Terakhir, bahwa Islam tidak menerima kompromi. Kewajiban Taliban ketika telah sampai pada kekuasaan adalah menerapkan pemerintahan Islam yang akan menerapkan syariat Allah. Sebab itu, adalah kewajiban umat Islam dari Allah Swt. dan ketaatan kepada Rasulullah saw. 

Namun, partisipasi dalam pemerintahan campuran Islam dan sekularisme tidak diterima oleh Allah Swt., karena Allah Yang Mahaperkasa, hanya menerima yang baik, sebagaimana firman Allah Swt. yang artinya, “Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” (QS Yunus [10]: 32). Maka, langkah yang harus ditempuh adalah mengikuti kebenaran. Wallahu a'lam bissawab.