Impor Garam Lagi Kapan Mandiri?


Oleh Sumisih


Indonesia negeri yang kaya makmur karena luar biasa Allah ciptakan kebutuhan manusia untuk hidup sudah disediakan tinggal manusia mengolahnya. Ada tumbuhan, tanaman apa pun subur, pangan, perkebunan, perairan juga luar biasa menghasilkan ikan yang melimpah.  Ditambah pantainya juga luar biasa menghasilkan garam.

Negeri yang kaya ironisnya selalu melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Sudah berulang setiap tahun pemerintah melakukan impor. Bulan lalu petani cabe menjerit. Sekarang berulang impor garam dengan alasan yang sama, yaitu tidak terpenuhinya kebutuhan dalam negeri khususnya kebutuhan industri. 

Selama priode 2015-2020 impor garam dilakukan dengan alasan yang sama. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa pemerintah telah memutuskan untuk mengimpor garam. Keputusan ini telah diambil dalam rapat Kementerian Bidang Perekonomian beberapa waktu lalu. "Impor garam sudah diputuskan karena sudah masuk UU Cipta kerja". Alasannya masih rendahnya kualitas garam rakyat. Sehingga tidak memenuhi standar untuk kebutuhan industri. Jakarta Pusat, Senin (5/10/21).

Sesungguhnya ada kesungguhan kebijakan negara untuk mengatasi masalah berulang. Persoalan kualitas dan kuantitas bisa diatasi dengan kemauan politik untuk swasembada.

Untuk menyamai kualitas garam impor, maka negara harus menyiapkan petani garam untuk melakukan pengembangan teknologi sehingga garam yang dihasilkan kualitasnya sama dengan Impor.

Tapi yang terjadi petani dibuat menjerit dengan kebijakan pemerintah mengimpor garam, alih-alih menyejahterakan petani garam serta menciptakan lapangan pekerjaan tapi malah membuat sakit petani garam.

Kenapa ini terjadi?

Seharusnya pemerintah bisa mengusahakan dan meningkatkan kemandirian negara untuk memenuhi kebutuhan pangan dan memberdayakan masyarakat petani lokal untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas garam lokal. Pemerintah bersungguh- sungguh dan serius untuk swasembada garam dengan kualitas yang memenuhi standar. Juga harus ada data yang jelas supaya produksi dan konsumsi yang dibutuhkan masyarakat tercukupi begitu juga pendistribusiannya berjalan dengan baik.

Impor garam yang membuat petani garam menjerit ini adalah buah dari sistem ekonomi kapitalis. Karena apa pun yang di lakukan demi meraih manfaat dan di sini yang diuntungkan para pemilik modal, pejabat yang memuluskan jalan para pelaku importir.

Maka cara untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah kembali pada sistem Islam. Di mana penguasaan mengelola sumberdaya alam sesuai dengan aturan Islam yang datang dari Sang Khaliq. Untuk kemakmuran umatnya, termasuk swasembada garam dan kebutuhan pangan lainya. Bukan diserahkan kepada pemilik modal. Penguasa akan mengelola milik negara. Termasuk memberi pelatihan dan edukasi kepada para petani garam dan petani lainnya. Untuk meningkatan produksinya yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena penguasa bertanggung jawab atas urusan rakyatnya.

Wallahu a'lam bissawab.