Hukumku Sayang Hukumku Malang Bak Pungguk merindu Rembulan


Habibah Nafaizh Athaya Binti Sulaiman (Penulis) 


Sajak luka dari kaum jelata

+++++

Entah sudah puranama keberapa hati teriris berulang tanpa jeda

Baru kemarin rintihan para santri menggema ketika ulamanya di bui dengan kalasi paling memilukan


Entah sudah berapa denting waktu berbunyi, memecah kesunyian sedih melihat seorang suami yang dibui 8 tahun demi membela istri yang di rengguk kehormatannya.


Entah, sudah tetesan keberapa airmata membasahi bumi kerontang tempat berpijak seorang anak yang merelakan ibunya dibalik jeruji, asbab salah demi sesuap nasi, dan kehangatan minyak ka*u putih.


Entah, sudah sebanyak apa sijelata menyaksikan kehinaan diri diatas tanah yang memegang teguh nilai 

"KESEJAHTERAAN BAGI RAKYAT INDONESIA" KATANYA.


Hati yang perih kini iri

berbalut luka yang sembuhnya tak pasti, menyaksikan bagaimana berbunganya hati mereka 

yang merampok harta rakyat dengan balutan jas orange, melambaikan tangan seolah sedang berada dalam parade

tersenyum pada awak media dan mengatakan semua baik baik saja. 

Ah.. Ingin sekali kuteriaki hukum negeri ini!!!


Tidakkah kau lihat bagaimana berserinya wajah si kaya yang bebas dengan dalih memiliki anak yang perlu curahan kasih?


Ia pulang menggandeng status tak pasti, padahal ia sempat menghebohkan rakyat dengan gelar pemersatu bangsa. 

Namun cukuplah ia sesekali berkunjung dengan secarik kertas dan sekalimat indah, bahwa ia menjadi manusia yang kini lebih baik..


Sialnya, jerat hukum menggerayat jauh mencari siapa yang menyebarkan kilasan detik2 menjijikan itu kejagad maya. 

Bukan pelaku yang telah berbuat asusila


Atau.. Mungkin kita harus tersenyum getir dengan pesta pora ulang tahun pejabat wilayah negeri yang mewajibkan aturan social distancing bagi rakyat.

Ah entahlah, apakah sulit untuk menterjemahkan kata itu untuk dimengerti.

Atau sulit merendah diri sebab merasa tinggi.


Atau yang baru-baru ini, yang benar-benar menghilangkan diri dari secerca harap pada hukum negeri.

Ketika 11 anggota penegak hukum dengan pangkat cukup tinggi ternyata menjadi pengedar benda haram penghancur generasi?


Aish..

Bagaimana mungkin..

Bagaimana mungkin hatiku bisa baik baik saja???

Kau tahu?


Mataku telah lama perih menyaksikan kegamangan ADIL dinegeri ini.


Hatiku telah tercabik dengan hilangnya wibawa penegak hukum, terkubur demi seonggok materi. Lalu lenyap tak tanggung tahu diri.


Membungkam hukum supaya menjadi pelampung

Agar tak tenggelam ia pada jerat jeruji yang dingin..


Akulah si jelata yang merintih atas segala keadaan paling mengerikan ini..

Kau ingat? 

Ibu yang mencuri ubi? 

Atau kau ingat nenek yang mencuri semangka beberapa tahun silam?

Wajah mereka masih membayang

Sungguh.. Ini sungguh memilukan.


Mereka tak pernah menginginkan langkah hina itu!!!

Hati mereka menjerit menentang kaki yang melangkah gontai

meronta dengan fikiran mereka tatkala jemarinya mulai menyentuh sesuap kehidupan yang sulit mereka dapatkan..


Ah Tuhan.. Kenapa manusia begitu kejam sebagian?

Kenapa mereka tak bertanggungjawab pada rakyatnya? membiarkan perut mereka berteriak histeris lalu melahirkan pikir tak logis, dan berakhir tragis oleh hukum yang paling bengis..


Sedang mereka?

Makan dengan banyak sisa, gaji yang banyak luar biasa, belum lagi dana terkucur karna perjalanan tugas dan bonus atau gaji tahunan. 

Mungkin karena mereka adalah wakil rakyat.

Maka kenikmatan untuk rakyatpun di wakilinya.


Yah.. Masih banyak yang ingin jemari mengabarkan, betapa terlukanya si jelata 

Ah.. Sudahlah, hati sudah teramat sesak untuk mengingat lebih banyak lagi.


Kau tahu? Kita masih berada dibawah langit yang sama, hanya karena kami yang jelata berbeda denganmu yang entahlah...

Lantas hukumpun seolah tumpul dan tajam entah kearah mana.


Benarkah aturan itu ADIL?

atau definisi adil itu kini abu-abu tak menentu?

Bagaimanakah kami harus menjabarkan "KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA?"

jika nyatanya sosial yang berbeda akan mendapatkan hukum yang berbeda?


Huftt.. Rasanya kelupaan itu hampir menyelimuti sadarku.

Tidakkah ini adalah sistem yang tak lurus?

Lantas atas dasar apa tuntutan adil harus tegak pada sesuatu yang sedari awal telah bengkok?

Ini hanya seperti kisah sang pungguk yang merindukan rembulan bukan?

Tidakkah ini menyedihkan?


Yah.. Semenyedihkan itu hidup di atas tanah yang katanya merdeka ini..

Merdeka yang mengantarkan ayam mati diatas lumbung padi 

Sebab ayam mencuri ganjarannya adalah jeruji.

Merdeka yang memenjarakan sijelata dan membebaskan si entahlah. 

Hanya karena sosial meruntuhkan tembok hukum di satu sisi.

Merdeka yang membuat 46,7 Rakyat hilang percaya pada hukum dinegeri ini.

Sebab kenyataan yang terlalu menyayat hati

Merdeka? Entahlah..


Nyatanya, rembulan barulah akan bersemi jika sipungguk berubah menjadi ciderella.

Sebagaimana sibengkok yang akan lurus.

Tidak bisa kubayangkan nasib si jelata jika itu terjadi.

Tidak bisa kujabarkan senyum apa yang akan mereka persembahkan dengan keadilan yang hakiki..

Tidak bisa tergambar bagaimana bahagia dengan hidup yang nyata adil dan sejahtera.


Kusibak satu perkara yang mungkin kalian telah lelah membacanya. Sebuah sejarah luar biasa yang bisa didapati buktinya di mana-mana. 

Yah.. Tidak ada pungguk merindukan sang rembulan.

Hanya ada sejahterah dan keadilan.


Bukankah pernah seorang yahudi yang merasa kehidupannya dalam negeri yang berlabel lurus dizolimi?

Hingga ia berjalan jauh demi mengadu pada pemilik kuasa negeri lurus itu.

Meminta hak keadilan meski beda agama, ras dan strata.

Tapi..

Karena keadilan yang luar biasa, bukankah ia berakhir dengan syahadatnya?

Indah bukan?


Tidakkah kita rindu itu semua? 

Belumkah kita ingin move on dari kesakitan tak berkesudahan ini?


Kutunggu kau di persimpangan jalan

Akan kugenggam tanganmu menuju kemenangan

Dengan lurus dan keadilan yang bukan sekedar ucapan

Tapi sebuah indah kenyataan.


Salam peradaban