Daring Membuat Masyarakat Jenuh

 



Oleh  Zia Sholihah
(Pemerhati Kebijakan Publik)

Orang tua murid sudah banyak yang mengeluh. Mereka lelah dengan daring. Tugas sekolah dan guru, lebih banyak dipegang orang tua. Kesulitan itu bertambah-tambah karena kesibukan mereka dalam bekerja. Pekerjaan mencari nafkah, atau pun sebagai ibu/ bapak rumah tangga terbengkalai.

Selama masa pembelajaran jarak jauh, tugas bisa saja hadir setiap hari. Situasi rumah yang kadang tidak kondusif untuk belajar dan tak adanya pengajar yang hadir, berpotensi membuat anak kerap bosan dan menolak untuk belajar.

Tak sedikit guru yang juga mendapat keluhan orangtua tentang kondisi anak yang enggan untuk belajar. Sehingga pekerjaan rumah (PR) bisa menumpuk setiap harinya.

Diakui atau tidak situasi ini membuat orang tua dan anak bertambah stres. Bahkan tak jarang guru yang menginginkan tatap muka saja, karena akan lebih mudah mengajarkan pelajaran sesuai kurikulum yang ada.

Desakan demi desakan pada pemerintah pun bermunculan. Masyarakat ingin sekolah dengan tatap muka. Hingga pemerintah mulai membolehkan pelaksanaan sekolah tatap muka di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, ada ratusan ribu sekolah di berbagai daerah di Indonesia yang sudah mulai menggelar pembelajaran tatap muka terbatas.

"Per tanggal 22 Agustus 2021 sebanyak 31 persen dari total laporan yaitu 261.040 satuan pendidikan yang berada pada daerah dengan PPKM level 3, 2, dan 1 ini telah menyelenggarakan pembelajaran tatap muka secara terbatas dengan protokol kesehatan yang ketat," kata Wiku dalam konferensi pers daring, Kamis (26/8/2021).

Untuk mengawasi jalannya protokol kesehatan selama sekolah tatap muka, Wiku meminta satuan pendidikan membentuk satgas.

Kendati demikian, ia mengatakan, pengawasan pembelajaran tatap muka bukan hanya tanggung jawab satuan pendidikan, tetapi juga orang tua murid di rumah.

"Dan unsur lingkungan lainnya di bawah pengawasan posko berbagai satgas yang juga dibentuk di berbagai fasilitas umum dan sosial," ujarnya.

Wiku menyebutkan, pelaksanaan sekolah tatap muka didasari pada regulasi keputusan bersama Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid- 19.

Namun demikian, ada beberapa kendala yang nyatanya sulit untuk mewujudkannya. Di antaranya adanya
desakan kondisi menuntut pemerintahkan menyiapkan PTM, namun tidak seiring dengan kebijakan penyiapkan infrastuktur sempurna untuk kebutuhan PTM di tengah pandemi.

Kebijakan mengijinkan PTM dengan syarat vaksinasi 70%  tidak bisa menjamin perlindungan semua unsur sekolah dari penyebaran virus.

Menampakkan lemahnya negara dalam memberi jaminan pemenuhan kebutuhan rakyat (pendidikan, kesehatan dan rasa aman).
Lalu bagaimana Islam memandang fenomena tersebut?

Akar Permasalahan

Jika kita uraikan satu persatu persoalan utamanya ada pada sistem yang diadopsi negeri ini. Sistem kapitalis yang menggunakan asas manfaat dalam setiap kebijakannya, terbukti gagap dalam menghadapi pandemi. Kebijakan yang diambil pun terkesan tambal sulam. Hal ini menyebabkan pandemi tak kunjung usai

Kembali Pepada Aturan Ilahi

Kesadaran kita terhadap hadirnya Allah Swt sebagai pemberi solusi sangat minim. Begitu pula dengan menjadikan Islam sebagai solusi yang membangkitkan kesejahteraan dan ketenangan dalam kehidupan ini. Oleh karena itu kita harus menggencarkan syiar supaya umat sadar bahwa kita tidak bisa berharap dengan sistem yang ada.

Sejarah mencatat bahwa Islam pernah memiliki peradaban yang gemilang. Manakala sistem Islam diterapkan secara kafah, kesejahteraan rakyat terjamin. Bahkan ketika terjadi pandemi, pemegang kebijakan akan mengambil solusi tuntas untuk menyelesaikannya. Mereka tidak takut melakukan penutupan wilayah (lock down) pada daerah yang terkena pandemi. Dengan  cara seperti itu wabah segera teratasi dengan tuntas. Roda perekonomian juga tetap berjalan stabil sehingga tidak menimbulkan gejolak di tengah masyarakat.

Ketika Islam diterapkan mampu mendatangkan keberkahan bagi seluruh alam.
Wallahua'lam bishawab