BLOK WABU, INCARAN BARU?

 


Oleh Siami Rohmah

Pegiat Literasi


   Hangat, masalah blok Wabu mengemuka setelah Menteri Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan melaporkan Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik, atas pernyataan bahwa Luhut berada di balik bisnis di blok Wabu.

    Blok Wabu adalah konsensi emas yang dilepas atau diciutkan oleh Freeport Indonesia pada tahun 2018, karena menurut UU No.3 Tahun 2020, semua perusahaan tambang asing yang sudah beroperasi 10 tahun wajib menciutkan lahan. Jadi Freeport mau tidak mau harus mengembalikan blok Wabu ke negara, bukan Freeport tidak tertarik.

      Blok Wabu berjarak 50 Km dari tambang emas Grasberg di Mimika (Papua) yang dimiliki Freeport Indonesia dan Mind ID.

Setelah dikembalikan, MIND ID dan PT Aneka Tambang Tbk tertarik dan siap masuk ke Blok Wabu, tiba-tiba ada data terbaru dari Kontras dkk bahwa Blok Wabu sudah diperusahaan swasta, katanya terafiliasi dengan anak usaha PT Toba Bara Sejahtera, yang mana Luhut punya saham di sana.

   Data Kementerian ESDM tahun 2020, potensi sumber daya Blok Wabu sekitar 117.26 ton bijih dengan rata-rata kadar emas 2,16 gram per ton emas (Au) dan 1,76 gram per ton perak. Artinya, setiap 1 ton materal emas dari tanah memiliki kadar sebesar 2,16 gram per ton emas dan 1,76 gram per ton perak. (Gatra.com)

     Jika cadangan di atas diukur dengan harga emas sekarang mencapai US$1750 per troy once emas, artinya potensi pendapatan dari siapapun perusahaan yang mengolah Blok Wabu mencapai US$14 miliar atau jika dirupiahkan mendekati angka Rp 300 triliun.

     Dengan potensi sebesar itu, blok ini menjadi lahan basah yang diperebutkan perusahaan, apalagi dalam sistem kapitalisme, yang penuh dengan mafia tender. Menjadi hal yang sangat biasa apa yang terjadi di blok Wabu. Siapa yang kuat koneksinya, yang kuat modalnya, dialah yang akan menang dan mendapatkannya.

      Bayangkan, berapa rakyat yang bisa tersejahterakandengan  hasil tambang dari potensi Blok Wabu ini, yang potensinya tiga kali lipat dibanding Freeport. Kembali lagi kapitalisme, dimana kapital yang akan menang. Hal serupa pernah terjadi pada blok Cepu, yang saat itu Pertamina siap mengelola, pemerintah malah menyerahkan kepada AS, Exxon Mobile.

   Adalah hal biasa dalam kapitalisme, dimana negara hanya berperan sebagaimana regulator dan pengamat, yang bermain dan memegang kendali adalah para pemilik kapital. Negara tak pernah berpikir bagaimana rakyat sejahtera, tapi yang dipikirkan adalah bagimana posisinya aman dan bos senang.

     Dalam Islam, barang tambang yang jumlahnya banyak dan depositnya tidak terbatas, semisal Blok Wabu, hal ini tergolong kepemilikan umum bagi seluruh kaum Muslimin, sehingga tidak boleh dimiliki atau diberikan kepada seseorang atau beberapa orang. Juga tidak ada keistimewaan bagi seseorang atau lembaga untuk mengeksploitasinya. 

    Negaralah yang wajib mengelolanya atas nama kaum Muslimin, dan hasilnya disimpan di Baitul Mal.

Sebagimana hadits yang diriwayatkan Abidh bin Hamal al Mazaniy meriwayatkan,

    Sesungguhnya dia bermaksud meminta tambang garam kepada Rasulullah. Maka beliau memberikannya. Tatkala beliau memberikannya, berkata salah seorang laki - laki yang ada di dalam majlis, 'Apakah engkau mengetahui apa yang telah engkau berikan itu laksana memberikan air yang mengalir.' Akhirnya beliau bersabda: Kalau begitu tarik kembali' . (HR. Tirmidzi)

        Pemimpin yang jeli dan paham memang hanya ada dalam Islam, yang bisa menempatkan mana milik umum, milik negara, dan milik individu. Jika dalam kapitalisme, hal seperti ini jauh panggang dari api. Yang ada adalah bagaimana penguasa mengamankan jabatan, dan pengusaha memenuhi pundi-pundi. Jadi, tak ada pilihan lain agar semua kepemilikanberada pada posisi yang tepat, selain menggunakan aturan yang tepat, yakni Islam. 

Wallahualam bissawab.