Bentengi Anak dengan Agama di Era Digital


Oleh Hana Sopiana


Di era digital yang semakin berkembang di zaman milenial ini, para orang tua sangat dilema dan waswas akan adanya hal-hal buruk yang akan mempengaruhi anak-anaknya melalui gadget. Karena tidak adanya pengarahan, yang sangat memungkinkan perkembangan digital ini dapat membahayakan penggunanya. 

Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Bandung menggelar Pertemuan Orientasi Pola Asuh Anak, Remaja (PAAR) dan Lansia.

Dalam acara tersebut diikuti sebanyak 62 orang, terdiri dari ketua kelompok kerja (Pokja) 1 kecamatan, dan anggota kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) kecamatan se-Kabupaten Bandung.

Ketua TP PKK  mengatakan, pola asuh anak dan remaja yang benar serta sesuai harus dibina sejak dini. Di era digital ini, lanjutnya, mendidik anak tidak hanya menjadi tugas orang tua tetapi harus menjadi tugas bersama.

Beliau menambahkan, "Di tengah perkembangan zaman saat ini, penanaman nilai moral sangat penting untuk meningkatkan akhlak serta karakter seorang anak dan remaja." katanya. (dara.co.id, 14/9/2021).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bisa dibendung lagi, melaju begitu pesatnya di bawah arahan sistem sekuler kapitalis yang rusak. Tranformasi budaya barat begitu mudah didapat hingga sampai masuk ke rumah-rumah kaum muslim, sarana informasi TV, internet (gadget) sangat kuat menggeser budaya Islam, jika ada pada diri muslimah, rasa malu akan hilang, dan jika berada pada anak-anak remaja, demi sebuah konten akal sehatnya menjadi hilang.

Islam yang tegak bersama kelima sistemnya, dunia pendidikan khususnya buat anak-anak selalu diperhatikan oleh khalifah sebagai penjaga agama. Tetapi karena sekarang ini kita hidup dalam sistem kapitalis,  kita tidak bisa melakukan banyak upaya, meskipun berbagai sarana untuk perbaikan sudah dilakukan, baik seminar dan pembinaan mereka tingkatkan. 

Namun sayang mereka tidak memahami persoalan masyarakat yang dihadapinya, bagaimana pemahaman masyarakat tentang agamanya, bagaimana cara mencari nafkah seorang ayah bagi anak-anaknya, dari mana sumber kerusakan ini tiada lain adalah: Meraka yang mengatakan, "Tenggelam dalam kenikmatan dan kemewahan tidak membahayakan pribadi anak", "Mengikuti segala keinginan hawa nafsu dan kelezatan dunia tidak akan membahayakan pribadi anak", "Mendengarkan lagu-lagu seronok tidak akan membahayakan pribadi anak", "Bercampur baur tidak akan membahayakan pribadi anak", "Berprilaku seperti wanita itu tidak akan membahayakan pribadi anak". Jika anggapan ini dibenarkan, tentu sangat mustahil menuju perbaikan.

Kemudian, perkembangan komunikasi di era digital mulai terjadi dengan hadirnya smartphone yang memiliki fitur sangat canggih.

Dan banyak mengeluarkan aplikasi-aplikasi yang semakin berkembang saat ini, terutama aplikasi tiktok yang banyak digandrungi  para remaja. Dengan sukarela mereka gadaikan demi mendapatkan ribuan viewers, followers dan like yang tidak sedikitpun memberikan pengaruh dalam hidup mereka, tapi mereka sudah rela melepaskan semua kewajiban mereka sebagai seorang muslim yang tidak selayaknya dilakukan. 

Sudah sangat jelas kita melihat kerusakan dan banyak sekali kekerasan pada anak remaja disebabkan karena sistem kapitalis ini, untuk itu solusinya tidak cukup dengan advokasi perlindungan hukum saja tapi dengan menebas tuntas akar permasalahannya yaitu sistem kapitalisme. Sudah saatnya umat bangkit dari keterpurukan, adalah dengan mengembalikan seluruh persoalan pada jalan yang telah digariskan oleh Allah Swt. Semua itu adalah karena ajaran-ajaran Qur'ani yang telah Allah turunkan agar menjadi kabar gembira dan peringatan supaya menjadi pelita dan petunjuk bagi generasi selanjutnya.

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ

"Sesungguhnya, Al-Qur'an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar." (QS. al-Isra' [17]: 9).

Wallahu a'lam bissawab.