Banjir Menerjang, Salah Wargakah?


Oleh Inayah

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


“Telah tampak kerusakan di langit dan di bumi dikarenakan ulah tangan manusia.”

Cuplikan ayat Al-Qur'an ini menggambarkan bahwa kerusakan atau bencana yang terjadi adalah karena ulah tangan manusia. Termasuk masalah banjir yang menjadi langganan bagi wilayah-wilayah tertentu.

Problem banjir memang selalu menjadi obyek permasalahan yang senantiasa dialami oleh masyarakat yang wilayahnya menjadi langganan banjir. Di antaranya adalah 3 desa yang berada di Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung. Dan penanganan banjir ini memang tidak mudah, karena memerlukan rekayasa yang bersifat teknis.

Hal ini disampaikan oleh Bupati Bandung Dadang Supriatna. Bahwa banjir yang menjadi langganan Desa Sayati, Marghahayu Tengah, dan Margahayu Selatan adalah akibat air yang berasal dari Cikahiyang yang selalu meluap saat musim hujan tiba. Dan penanganannya diperlukan normalisasi sungai di Kecamatan Margahayu.

Selain itu juga, Bupati menghimbau rakyat untuk hidup lebih disiplin yaitu dengan tidak membuang sampah ke sungai, melainkan pada tempatnya. Warga pun harus memilah sampah-sampah yang bisa didaur ulang, sehingga bisa bernilai ekonomis dengan ditabung ke bank sampah yang sudah banyak berdiri di Kabupaten Bandung. (AyoBandung.com, Selasa 21/9/2021).

Disebutkan dalam laman yang sama bahwa dengan pola hidup disiplin dari masyarakat  diharapkan dapat mengurangi terjadinya banjir. Tapi apakah betul hanya dengan pola kedisiplinan sebagian rakyat dapat tertuntaskan masalah banjir?

Kalau kita menelusuri tentang masalah banjir yang menjadi fenomena tahunan di musim penghujan ini, maka jelaslah bahwa tidak bisa pemerintah menimpakan kesalahan pada masyarakat saja. Karena pada faktanya penyebab banjir bukan hanya dari luapan air sungai saja, akan tetapi juga dikarenakan buruknya tata ruang wilayah dan sistem drainase.

Sementara terjadinya luapan air sungai jika diamati bukan semata-mata dari penumpukan sampah saja akan tetapi  penyebab  utamanya adalah terjadinya pendangkalan sungai. Dan ini terjadi pada seluruh sungai-sungai yang ada. Maka penanganannya diperlukan keseriusan dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan dan sebagai pemimpin dalam mengurus rakyatnya.

Bukan saatnya kini untuk saling menyalahkan, tapi dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan juga masyarakat. artinya bagaimana pemerintah memperbaiki tata kelola kota. Berkaitan dengan pembangunan gedung-gedung, apartemen, perumahan, pabrik-pabrik dan lain-lain. Jangan sampai hanya melihat dari keuntungan sesaat lantas dengan mudahnya memberikan izin pada perusahan swasta baik lokal terlebih asing, dalam mendirikan bangunan, sementara demikian minim dalam perkara drainase pembuangan limbah.

Hidup di alam kapitalisme sekuler yang standarnya adalah materi maka jelas hanya keuntungan materi saja yang dijadikan tujuan.  sementara kebahayaan dan keburukan di kemudian hari kerap tidak diperhitungkan.

Berbeda dengan sistem Islam, yang begitu memperhatikan tata kelola kota. Dalam membangun gedung-gedung, pabrik-pabrik, senantiasa memperhatikan bagaimana drainasenya, penyediaan daerah serapan air. sehingga tidak akan terjadi banjir yang berulang atau langganan banjir, karena sudah diantisipasi ketika musim penghujan tiba.

Karena memang seorang pemimpin sebagai rain, yaitu khalifah sebagai pengatur urusan rakyatnya. Maka khalifah akan menyelesaikan persolan banjir dengan komprehensif dan menyeluruh, dia tidak akan menyalahkan rakyat, justru akan mengevaluasi kinerjanya artinya selalu melakukan evaluasi yang menyeluruh terkait masalah banjir khususnya. 

Dengan mengeluarkan kebijakan terkait dengan tata kelola bangunan, dan tidak memberikan izin pada korporasi baik asing ataupun domestik, maka dengan kebijakan  negara seperti ini, akan mampu mencegah terjadinya banjir atau genangan air.

Bukti sejarah gambaran  keberhasilan Islam dalam mengatur dan memanfaatkan lahan yaitu pada masa Khalifah Abdurahman Adh-Dhakil. Khalifah mampu mengubah Kota Cordoba menjadi kota terindah setelah Islam datang. Homesct F Glik dalam sebuah artikelnya,    mengungkapkan jalanan wilayah  pemukiman dirancang tidak terlalu lebar hanya sekitar tiga meter. jalan dibuat berkelok-kelok agar sesuai  dengan kontur alam yang ada. Ini bertujuan agar drainase berfungsi secara maksimal tatkala hujan turun.

Tata letak pemukiman menggunakan blok dan setiap blok terdiri dari delapan sampai sepuluh bangunan rumah. Hal ini dilakukan  dengan bertujuan agar dapat mengatur kerapian tata kelola bangunan. Bahkan luar biasanya, hasilnya masih bisa dirasakan oleh penduduk Cordoba sampai hari ini.

Ketika terjadi banjir atau bencana maka negara  merecoveri korban bencana dan memulihkan kesehatan mereka, agar mendapatkan penanganan dan pelayanan dengan baik selama dalam pengungsian dan memulihkan psikis mereka, supaya terhindar dari stres, depresi, atau dampak-dampak  psikis buruk lainnya.

Melalui  lembaga mashalih ad-daulah  khusus biro ad-daulah  atau lembaga urusan bencana, maka negara  menugaskan lembaga ini untuk memberikan bantuan atas setiap bencana mendadak yang menimpa mereka. Sementara dananya berasal dari baitul mal (kas negara). 

Begitulah cara Islam dalam menangani permasalahan banjir, sehingga kehidupan tertata dengan baik dan terhindar dari bencana banjir yang berulang.

Wallahu a’lam bi ash shawwab.