Bahaya Besar, Jika Medsos Didominasi Konten Negatif


Oleh Lilis Lina Nastuti

Ummu Bagja Mekalhaq


Dilansir oleh Konten.Co.Id., sampai tanggal 31 Desember 2019 Kementerian Komunikasi dan Informatika telah melakukan pemboikotan terhadap 1.857.907 konten negatif di internet. Pemboikotan tersebut terdiri dari 1.2 juta konten situs web dan 600 ribu konten media sosial. 

Secara detail, statistik penanganan situs-situs internet berbau negatif sampai dengan 31 Desember 2019 ada sebanyak 1.203.948 situs. Di mana situs pertama didominasi oleh situs pornografi berjumlah 1.025.263. Posisi kedua didominasi oleh situs perjudian berjumlah 166.853. Posisi ketiga konten kasus penipuan berjumlah 8.689. 

Demikianlah, uraian konten negatif yang bisa ditulis di sini serta masih banyak konten negatif lainnya, jika ditulis di sini tidak akan tuntas, saking banyaknya. 

Memang, benar apa yang disaksikan saat ini terkait konten negatif sangat bermunculan di media sosial, bersaing ketat untuk menarik pengguna media tanpa  memikirkan dampak buruknya. akibat tontonan tersebut. 

Perlu diketahui, tontonan negatif ini banyak bermunculan pula di saat anak main game online, muncullah iklan pornografi, iklan seronok tidak layak ditonton, sangat meresahkan. 

Jika kondisi tontonan sudah separah ini, siapakah yang berani untuk menghentikannya? 

Karena ketika diblokir oleh komisi penyelenggaraan siaran, hanya sedikit pengaruhnya, bahkan pornografi, makin merajalela. Ini tanggung jawab siapa? 

Padahal, semua orang tua pasti menginginkan kebaikan dari anak-anaknya, begitupun saat menonton, pasti  mengharapkan kebaikan dari yang ditontonnya. 

Masih ingat film Upin Ipin, Nusa dan Rara, dan lain-lain tontonan baik, kitapun suka nonton bareng anak jika yang ditonton baik.

Begitulah aslinya orang tua menginginkan tontonan yang baik yang ditonton oleh anaknya, apalagi bagi para ibu muda yang memiliki batita dan balita, pasti pernah mendidik anaknya dengan tontonan yang baik, sekaligus agar anak anteng.

Karena kita tahu, tontonan itu sangat  mempengaruhi jiwa. Jadi, sebaiknya apa yang ditonton anak atau siapapun, harus bisa mengedukasi ke arah positif. Itulah yang diharapkan para orang tua ataupun para pendidik/guru di sekolah. 

Tontonan itu harus menambah ilmu dan wawasan keislaman, atau perkara baik lainnya, agar menjadi pribadi baik, berakhlak mulia, membentuk kepribadian Islam yang sempurna. 

Boleh jadi, tontonan baik pun akan menjadi bekal terbaik untuk masa depan anak. Karena, sekali lagi, tanamkan dalam hati anak dengan penuh kekuatan, tidak bisa dipungkiri bahwa, Tontonan Itu sangat mempengaruhi jiwa. Jika menonton yang baik-baik? Maka kebaikanlah yang didapat. Sebaliknya, jika yang ditonton buruk? 

Keburukkan pula yang didapat. Tetapi, banyak orang yang tidak menyadari asal nonton saja tanpa berpikir panjang, tontonan itu buruk tidak dipermasalahkan, yang penting ada hiburan. Inilah yang perlu diluruskan, jangan asal nonton.

Tips menonton yang baik pun perlu disampaikan kepada anak-anak, agar tidak salah nonton. Ingatkan kepada anak-anak, jangan nonton yang tidak bermanfaat, tontonan buruk itu ibarat sampah yang tidak berguna. Sebaliknya jika nonton yang baik, akan bermanfaat, maka pilihlah tontonan yang baik-baik saja. 

Berikan penjelasan kepada anak sejak dini, sebaiknya pula ada pendampingan kepada anak saat mereka nonton, teruslah diingatkan agar tidak terjebak kepada tontonan buruk seperti pornografi yang diharamkan. 

Ingatkan pula kepada anak- anak untuk cerdas memilih tontonan, beri  panduan menonton, jika tontonan baik maka menenangkan, sebaliknya jika yang ditonton buruk? Berdampak keresahan hati tidak tenang, bikin hati deg-degan, galau tidak tentram. Intinya, jika deg-degan dan hati tidak nyaman? Berarti jangan ditonton. Jelaskan pula efek bahayanya, agar anak paham dan tidak mencari jawaban dari luar. 

Karena yang bisa menilai baik buruknya tontonan, dikembalikan pada hati. Memberi pengertian kepada anak, hati itu filter yang bisa menyaring dan membedakan mana yang baik, dan mana yang buruk. 

Karena ada pula, banyak orang di luar sana, yang tidak mau peduli dengan jenis tontonan yang ditontonnya, ia tidak memiliki kepekaan terhadap jenis tontonan. Sehingga pantas terjebak pada tontonan "pornografi".

Perlu diketahui, kapan seseorang menonton pornografi? Biasanya, di saat kesepian. Tidak merasa ditatap oleh Allah. Padahal di mana pun dan kapan pun seseorang itu berada? Yakin tidak terlepas dari tatapan dan perhatian Allah Swt. 

Firman Allah dalam Al-Qur'an surat an-Nisa ayat 108, yang berbunyi:

Yastakhfuuna minannaasi walaa yastakhfuuna minallaahi. Artinya, Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah. 

Apalagi seseorang yang tidak kuat iman, sering terpengaruh perkara laghwi/perkara yang sia-sia, apalagi dalam sistem kapitalis yang dipraktikkan saat ini, tidak memikirkan dosa dan pahala. 

Jika diingatkan pun tidak merasa bersalah dan tidak mau peduli.Bahkan dengan bangganya berkata nafsi-nafsi, terserah dan semau gue. 

Inilah bukti buruk dari sistem kapitalis telah menghancurkan generasi masa depan dan menghancurkan kehidupan Islam sehancur-hancurnya. 

Sehingga keimanan dan keteguhan kepada Allah tidak menjadi tolok ukur hidupnya. Komplit sudah masalah yang dihadapi saat ini. 

Kalau agama tidak dipraktikkan dalam kehidupannya, seperti inilah tampak jelas keburukan yang didapatkan. 

Apalagi hal ini rentan dihadapi para generasi muda mudi, jika tanpa bimbingan dan arahan orang tuanya, mau dibawa kemana mereka? 

Mestinya, kita saling memperhatikan di antara sesama muslim. Ada kontrol individu, masyarakat dan yang utama adalah kontrol negara.

Negara seharusnya memberikan perhatian besar terhadap pengawasan media sosial, ketika ada kontrol negara semoga tontonan negatif bisa terminimalisir. 

Tugas ini tugas semua elemen, saling memperhatikan dan saling peduli tidak bisa bersikap "masa bodoh". 

Karena tugas ini berat, dan harus dilakukan oleh semua elemen masyarakat, sehingga ada kontrol pribadi, lingkungan masyarakat juga terpenting negara yang mengawasi, dengan penuh keseriusan, agar tidak berdampak buruk bagi kehidupan selanjutnya. 

Islam memberikan arahan yang jelas terhadap apa yang harus dilakukan oleh semua muslim, agar tidak terjerumus kepada perkara buruk, akibat tontonan yang buruk. 

Tidak ada jalan lain, harus dengan penguatan akidah Islam yang benar,  bersumber wahyu Allah, Al-Qur'an, dan qoul Rasulullah saw./hadis, jika sudah kokoh akidah Islamnya, maka insyaallah akan taat kepada syariat Islam. 

Karena, hanya dengan syariat Islam semua orang bisa terkontrol, sehingga memiliki jiwa-jiwa pemberani penolak kebatilan. 

Jika kebatilan dihilangkan akan memunculkan dan menguatkan keimanan seseorang hingga terhindar dari hal yang buruk, akhirnya tontonan buruk pun bisa terhindarkan. 

Hanya ada dalam Islam, mereka yang beriman takut akan ada hidup setelah mati yakni akan ada hari penghisaban,  sehingga bersih dari perbuatan yang buruk, seperti mengklik dan menonton pornografi. 

Hanya kembali kepada aturan Islam semua masalah bisa teratasi, begitupun terkait tontonan buruk selain pornografi, ada perjudian, kekerasan dan lain-lain yakin akan bisa diatasi manakala negara benar-benar mengurus rakyatnya dengan aturan Islam. 

Karena Islam mengatur semua urusan manusia dengan detail penuh keseriusan dan terpenting akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta'ala. 

Wallahu a'lam bissawab.