SYARIAT MAMPU MEWUJUDKAN KEADILAN

 



Oleh Ummu Yusup



Hukum dan peradilan di negeri ini semakin diskriminatif dan jauh dari rasa keadilan. Hukuman yang  banyak dipengaruhi oleh berbagai kepentingan baik dari kalangan pejabat dan koneksi. Bagi yang mempunyai jabatan atau mereka yang dekat dengan kekuasaan kerap dihukum ringan. Sebaliknya kasus yang dilakukan oleh rakyat biasa yang terkadang dilakukan dengan terpaksa karena terdesak keadaan, hukumannya bisa cukup memberatkan.  


Fakta-fakta yang ada menjadi bukti betapa tidak adilnya hukum dan peradilan saat ini terutama di tengah pandemi saat ini sangat jelas terlihat ketika ada rakyat biasa yang melanggar PPKM karena berjualan didenda 5jt, tapi pejabat yang melanggar hanya teguran dan denda yang tidak sampai 1 juta pun. Bahkan terasa amat zalim. Terutama terhadap pihak-pihak yang berseberangan  dengan kekuasaan, bagi penguasa dan pihak-pihak yang pro penguasa, hukum dan peradilan begitu memanjakan mereka. 


Ketidakadilan dan kezaliman di negeri ini setidaknya dipengaruhi oleh 2 faktor :


1. Sistem hukum dan peradilan sekulerisme melahirkan sistem demokrasi. Sistem ini menyerahkan pada manusia sepenuhnya dalam menetapkan hukum tanpa melibatkan agama (Islam). Ketika hukum dan peradilan direkayasa oleh manusia maka yang akan terjadi adalah hukum bisa berubah-rubah sesuai dengan kepentingannya serta Hukum akan berpihak kepada siapa yang berkuasa. Persamaan di depan hukum menjadi tidak ada. Inilah cacat hukum produk demokrasi.


2. Karakter kepemimpinan para penegak hukum yang jauh dari tuntunan agama (Islam) membuat mereka terpedaya dengan kepentingan materi baik uang, jabatan, perempuan dan godaan duniawi lainnya. Akhirnya, mereka banyak yang terlibat jual-beli perkara. Kepemimpinan dipandang bukan suatu yang amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan sang Khaliq maka mereka berani berbuat sewenang-wenang dalam menjalankan tugasnya. Rasulullah saw. telah mengingatkan dalam sebuah hadits, “Hakim itu ada tiga jenis, dua berada di neraka dan satu berada di surga. Seorang hakim yang menetapkan hukum dengan keliru, sementara ia mengetahui mana perkara yang benar maka ia akan berada di neraka. Seorang hakim yang jahil (bodoh), lalu ia menghancurkan hak-hak manusia karena kejahilannya, maka ia akan berada di neraka, dan seorang hakim yang menetapkan hukum dengan benar maka ia akan masuk surga.” (HR At-Tirmidzi, shahih lighairihi)


Berbeda halnya dengan sistem buatan manusia yakni sistem sekuler-kapitalis-demokrasi belum genap satu abad sudah jelas terlihat satu persatu kerusakannya, sistem Islam yang bersumber dari wahyu yaitu dari sang Pencipta-Allah Swt., Zat yang Mahaadil dengan sistemnya yang sempurna telah terbukti dan mampu menjadi mercusuar dunia selama 14 abad lamanya. Salah satu puncak keberhasilan dan kejayaan Islam dalam negara khilafah adalah sistem peradilannya. Keadilan dan Islam adalah satu kesatuan. Oleh karena itu, para ulama mendefinisikan keadilan (al-‘adl) merupakan  sesuatu yang tidak mungkin terpisah dari Islam. Sedangkan Menurut Imam Ibnu Taimiyah, keadilan adalah apa saja yang ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunah (kullu ma dalla ‘alayhi al-Kitab wa as-Sunnah), baik dalam perkara-perkara hudud maupun perkara-perkara yang lainnya (Ibnu Taimiyah, As-Siyasah as-Syar’iyyah, hlm. 15).


Sistem Islam yang diterapkan mampu membentuk karakter para pemimpin yang adil karena sistem Islam tegak di atas dasar keimanan dan kesadaran kepada Allah, sehingga besar rasa takutnya kepada Allah ketika mereka memimpin rakyat dan negaranya dengan tidak amanah. Banyak kisah teladan para pemimpin/khalifah dimasa sistem kekhilafahan yang membuat takjub akan kepemimpinannya.


Misalkan kisah Ali bin Abi Thalib yang rida menerima keputusan dari qadhi/hakim ketika sengketa baju besi dengan orang Yahudi dimenangkan oleh Yahudi tersebut padahal posisi beliau saat itu sebagai khalifah tapi karena tidak punya bukti kuat terkait dengan kepemilikan baju besi tersebut padahal baju itu adalah milik Ali. Akhirnya, Yahudi tersebut menyatakan masuk Islam karena melihat keadilan hukum. Kisah berikutnya adalah kisah Umar bin Khattab saat ada orang Yahudi yang mengadukan gubuknya yang reyot itu hendak digusur oleh gubernur di Mesir, Amr bin ‘Ash . Amr ingin membangun masjid yang indah di gubuk tersebut tapi orang Yahudi itu tidak rida. Akhirnya Umar sebagai khalifah saat itu memperingatkan Amr bin ‘Ash dengan tegas, membuat gubernur Mesir itu mengurungkan niatnya dan tersadarkan dengan peringatan khalifahnya.  


Keadilan semacam itu tidak akan kita dapatkan jika negeri ini yang masih meneruskan kesalahan dengan menerapkan hukum manusia. Jadi sudah saatnya umat melihat kepada Islam sebagai satu-satunya yang dapat membuktikan keadilan, tidak hanya bagi muslim saja tapi juga nonmuslim. Meraih kekuasaan sangatlah penting bagi terwujudnya sistem yang benar (sistem Islam) dan pemimpin yang adil lagi amanah. WalLahu a’lam. []