Syariat Islam Menjaga Kemuliaan dan Kehormatan


Oleh Ati Solihati, S.TP

(Praktisi Pendidikan dan Aktivis muslimah)


Sistem kehidupan yang melingkupi kehidupan umat manusia saat ini sungguh telah semakin jauh dari sistem kehidupan yang diridai Allah Swt. Sang Pencipta alam semesta beserta isinya. 

Aturan-aturan yang ditetapkan Allah,  sejatinya akan mengantarkan umat manusia pada kehidupan yang bahagia. Dimana kebutuhan setiap insan terjamin. Kemuliaannya terpelihara. Peradaban yang maju tercapai. Di sisi lain, keseimbangan alam, termasuk tumbuhan, hewan, bahkan jasad renik, terpelihara dengan baik.  Gunung, hutan, sungai, laut, udara, tanah, dan segenap alam semesta beserta isinya, dalam harmoni.

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Umat manusia dan segenap isi langit dan bumi pernah merasakan keberkahannya selama hampir 14 abad. Suatu harmoni kehidupan yang tidak pernah berhasil diwujudkan oleh peradaban lain. 

Sebaliknya, ketika aturan Sang Pencipta dicampakkan, dan dengan pongahnya menerapkan aturan buatan manusia sendiri, maka yang terlahir darinya hanyalah kesengsaraan, kehinaan, dan kesempitan hidup bagi insan. Penderitaan dan kerusakan bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan,serta jasad renik. Ketidakseimbangan alam semesta. Semuanya adalah manifestasi dari ketidakberkahan serta hilangnya rahmat Allah. Karena sejatinya hanya Islam yang bisa menghadirkan rahmat tersebut.

Itulah yang kita rasakan saat ini. Bertubi-tubi permasalahan demi permasalahan menjerat kehidupan manusia, tanpa ada solusi yang efektif menyelesaikan permasalahan tersebut dengan sempurna. Hukum yang ditetapkan sering sekali tidak berpihak kepada korban. Hukum kepada pelaku kejahatan terlalu lunak. Terlebih lagi jika pelaku tersebut dari kalangan berduit. Hal yang kasat mata, dalam sistem kehidupan saat ini, hukum berlaku tumpul ke atas namun tajam ke bawah. Keadilan hukum hanyalah khayalan dalam angan-angan.

Beberapa waktu lalu, ramai dibicarakan di media. Terkait seorang pria, pegawai KPI Pusat, mengaku sebagai korban perundungan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh tujuh pegawai di Kantor KPI Pusat selama periode 2011-2020. Pengakuan korban itu muncul ke publik lewat siaran tertulis yang diterima oleh sejumlah media nasional di Jakarta. Dalam pengakuan itu, korban mengaku mengalami trauma dan stres akibat pelecehan seksual dan perundungan yang menjatuhkan martabat dan harga diri korban.

Sebelumnya korban sempat melapor ke Komnas HAM dan kepolisian. Namun, polisi yang menerima laporan meminta korban menyelesaikan masalah itu di internal kantor. Namun, aduan ke kantor ternyata hanya berujung pada pemindahan divisi kerja, sementara pelaku tidak mendapat hukuman. Dan perundungan terus dilakukan oleh pelaku kepada korban. (www.republika.co.id, 2/9/2021).

Seakan melengkapi tidak seriusnya sistem kehidupan saat ini dalam mengatasi permasalahan yang ada, terutama dalam kasus ini, yaitu pelecehan seksual. Media pun diramaikan dengan kabar bebasnya Saipul Jamil, yang telah menyelesaikan hukuman penjara selama 5 tahun usai tersandung kasus pelecehan seksual.

Hal yang sangat paradoks. Seorang mantan napi pelaku pelecehan seksual, pedofilia, santer dikabarkan sudah banyak job  panggung hiburan yang menanti.

Hal ini menuai banyak penolakan dari masyarakat. Masyarakat sudah sangat geram dengan semakin maraknya tindakan kejahatan seksual. Seruan boikot pun ramai ditujukan untuk Saipul Jamil. 

Seksolog Zoya Amirin menjadi salah satu pihak yang menentang keras kembalinya Saipul Jamil ke TV usai bebas dari penjara. Dan media diramaikan dengan #CanclepedofiliadiTVNasional. Walaupun tidak sedikit yang tetap mendukung mantan napi pedofilia ini, terutama dari kalangan artis. 

Demikianlah buah dari sistem kehidupan yang mencampakkan aturan Sang pencipta. Tidak mampu memberikan solusi yang efektif. Yang terjadi malah memunculkan masalah baru. Sanksi hukum pun demikian lunak. Sehingga tidak melahirkan efek jera bagi pelaku kejahatan. Yang berimbas tidak memunculkan rasa takut bagi yang lain dari melakukan kejahatan serupa. 

Betapa kita teramat merindukan sistem kehidupan yang menerapkan aturan Sang Pencipta. Aturan yang sangat memahami fitrah manusia. Melimpahkan kemashlahatan dan keadilan bagi seluruh umat manusia. Berkah dan rahmatnya menyelimuti seluruh alam semesta beserta isinya. 

Wallaahu a'lam bishshowab.