Suntik Vaksin Kosong, Bukan Sekadar Kecelakaan Biasa

 



Oleh Nahida Ilma

 Mahasiswa Kesehatan


Salah satu upaya penanganan pandemi COVID-19 adalah penggalakan program vaksinasi. Bukti bahwa sudah melakukan vaksinasi menjadi persyaratan administrasi wajib ketika hendak berpergian. Tak heran, program vaksinasi kerap kali ramai diserbu warga. Berharap bisa segera vaksin, mendapatkan kekebalan tubuh yang lebih meningkat sehingga peluang terinfeksi virus lebih kecil. 


Kasus suntik 'vaksin kosong' diduga kembali terjadi. Kali ini, seorang wanita yang sedang mengikuti vaksinasi tak sengaja memergoki petugas kesehatan tengah menyuntikkan sebuah vaksin kosong ke tubuhnya. Saat ditegur, petugas kesehatan tersebut pun langsung buru-buru memberikan suntikan ulang dan mengatakan hal itu merupakan kesalahannya. Video yang merekam kejadian itu pun kemudian viral di media sosial. (Merdeka.com, 26 Agustus 2021)


Sebelum itu, kasus suntik vaksin kosong juga sempat viral. Seorang tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin kosong kepada seorang anak. Tersangka mengakui lalai tidak memeriksa kembali vaksin yang disuntikkan. EO mengaku pada hari itu sudah memvaksinasi sekitar 599 orang (Merdeka.com, 20 Agustus 2021). Kelalaiannya dirasa berasal karena waktu kerja yang overload. Selain meminta maaf, ia juga mendapat tindak lanjut dari kepolisian. 


Tenaga kesehatan memang memiliki peran yang vital dalam menghadapi pandemi yang masih belum juga usai. Para pejuang garda terdepan harus bertaruh nyawa setiap detiknya untuk menangani pasien terdampak pandemi. Tak sedikit dari mereka yang gugur di tengah masa pengabdiannya, menjadikan para prajurit yang tersisa harus mengerahkan tenaga ekstra. Waktu kerja yang overload, menjadikan para nakes kewalahan bahkan ada juga yang mengundurkan diri. Bagaimana tidak, jam kerja yang panjang namun jaminan seperti insentif yang dijanjikan tidak kunjung datang, butuh waktu yang sangat lama. Bahkan tak sedikit dari mereka yang telah gugur, tapi masih belum mendapatkan insentif dari pihak berwenang. 


Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan. Jam kerja yang terlalu banyak juga akan mempengaruhinya. Mempengaruhi produk yang dihasilkan, jika itu sebuah jasa, maka kualitasnya akan menurun. Sama halnya dalam kasus penyuntikan vaksin kosong. Sejatinya itu bukanlah kecelakaan biasa. Ketersediaan nakes yang terkesan kurang, sehingga satu orang harus menyuntik 599 orang. Itu termasuk jumlah yang sangat besar. Kelelahan menjadikan nakes kurang fokus sehingga pemberian layanan tidak maksimal atau bahkan dapat menimbulkan kecelakaan kerja. 


Permasalahan terkait ketersediaan SDM nakes memang sudah menjadi momok di masa pandemi ini. Salah satu hal yang berpengaruh yang menyebabkan kolapsnya sistem kesehatan. Namun seringkali hal seperti ini tak kunjung mendapat perhatian khusus oleh pihak berwenang. Pihak yang seharusnya bertanggungjawab atas penanganan pandemi ini justru seakan-akan lepas tangan dan memberikan semua tanggungjawab kepada nakes. Tapi jaminan kepada nakes tak kunjung diberikan.


Hal ini tentu jauh berbeda dengan Islam. Sistem kesehatan Islam yang mampu menjadikan rumah sakit bagaikan hotel. Bahkan menarik turis untuk berkunjung dan menikmati pelayanannya. Dalam Islam, kesehatan merupakan salah satu hak warga negara yang harus dipenuhi dan dijamin. Jaminan kepada penerima dan pemberi pelayanan kesehatan diberikan. Semua warga negara berhak menerima pelayanan kesehatan secara gratis, bahkan orang yang sakit akan mendapatkan pesangon sebagai bekal selama masa pemulihan di rumah.


Kualitas tenaga kesehatan pun akan sangat terjamin. Negara akan memberikan sarana prasara kepada tenaga kesehatan guna memberikan pelayanan yang terbaik. Persebaran yang rata dan jumlah yang banyak tidak akan menjadikan nakes harus bekerja dengan waktu yang sangat panjang. Pendidikan kedokteran pun tidak akan semahal saat ini, sehingga akan banyak peserta didik yang tertarik. Tentu saja dengan semangat menuntut ilmu dan tekad yang kuat, yang lahir dari aqidah yang menghujam di dada. Suasana yang kondusif untuk menunjang pendidikan menjadikan mencetak dokter-dokter yang profesional bukanlah perkara yang sulit.


Waalahu a’lam bi ash-shawwab.