Standar Amal Baik


Oleh Hasna Huseini, S.Kom


Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna di antara makhluk ciptaan yang lain. Allah lebihkan manusia dengan akalnya sebagai penimbang baik dan buruk. Sehingga berperan sebagai orang baik ataupun buruk itu adalah pilihan. Karena dunia Allah jadikan sebagai panggung ujian, untuk menguji siapa yang paling baik amalannya. “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha perkasa, Maha pengampun.” (QS. al-Mulk: 2).

Begitu juga manusia diciptakan oleh Allah Swt. ke dunia tidak lain adalah untuk menghamba kepada Allah Swt. Menghamba atau beribadah bertujuan untuk mendapatkan rida Allah Swt. Tentunya, kita sebagai manusia mendambakan pahala dari ibadah tersebut untuk bekal di akhirat. Sehingga ketika rida Allah adalah tujuan kita dalam rangka menunaikan ibadah, sudah tentu kita akan melakukan amalan sesuai standar yang ditetapkan Allah. 

Ibadah itu pun bukan hanya amalan ritual belaka seperti, salat, sedekah, zakat, puasa, dan haji. Tapi lebih dari itu, Islam  juga mengatur hablum minannas (hubungan dirinya dengan sesamanya), misalnya adab anak kepada orang tua, adab bertetangga, saling menasehati dan yang lainnya. Dan tidak ketinggalan Islam juga mengatur hablum binafsi (hubungannya dengan dirinya sendiri), seperti pakaian dan makanan.

Sehingga aktivitas sehari-hari bisa jadi ibadah. Misalnya, menutup aurat, menjaga tata pergaulan, taat kepada orang tua, makan, minum, bertamu, mendidik anak, bahkan hanya sekadar mengurusi rumah bisa menjadi amalan yang baik. Tetapi aktivitas tersebut harus memenuhi dua syarat atau standar dalam Islam.

Pertama, niat ikhlas karena Allah. Suatu amalan tergantung niatnya. Amal dikatakan baik diawali dengan niat yang ikhlas karena Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Setiap amalan yang diniatkan untuk selain Allah, maka amalan itu bukan karena Allah. Setiap amalan yang tidak sesuai dengan syariat Allah, maka bukan karena Allah pula. Bahkan tidak akan menjadi karena Allah, kecuali amalan yang menggabungkan dua sifat tadi. Yaitu agar amalan itu murni untuk Allah dan sesuai dengan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya." Al-'Ubudiyyah (120).

Kedua, caranya benar sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Firman Allah dalam Al-Qur’an surah al-Hasyr ayat 7  "... Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya."

Jika ingin aktivitas kita menjadi amalan yang baik, kedua syarat di atas harus terpenuhi. Sebagai contoh, keluar rumah menutup aurat dengan sempurna bukan agar terlihat alim atau supaya kulit tetap glowing, tetapi niat karena perintah Allah. Begitupun juga caranya harus benar sekalipun orang lain mengganggap berlebihan, pakaiannya harus lebar atau longgar, tidak tabaruj, tidak mencolok, tidak tembus pandang, tidak menyerupai pakaian pria dan tidak mengunakan parfum. 

Begitu pula salat, niat karena Allah dan caranya sesuai yang dicontohkan oleh Rasul. “Dan salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.”(HR. Bukhari). Makan dan minum pun demikian, bisa jadi amal yang baik jika kita lakukan karena Allah untuk memenuhi hajatul udhawiyah (kebutuhan jasmani) disertai dengan cara yang benar, makanannya halal juga baik, cuci tangan, menggunakan tangan kanan, baca doa, tidak bersandar, jangan mencela makanan dan lainnya. 

Dengan demikian ketika semua aktivitas kita memenuhi syarat (niat ikhlas karena Allah dan caranya benar) maka, kegiatan itu akan menjadi amal baik. Sekalipun orang lain menganggap hal itu asing. Benar tetaplah benar sekalipun sedikit atau tidak ada orang yang melakukannya, salah tetaplah salah sekalipun banyak orang yang melakukannya. 

Maka dari itu, ketika kita melakukan sesuatu perbuatan, kembalikan pada standar Allah, fokus pada penilaian-Nya, taat pada aturan Allah, salah dan benar Allah yang menetapkan. “Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. an-Nur: 51). Wallahu a'lam bishshawab.[]