Sistem Islam Meningkatkan Kesejahteraan Umat

 


Oleh Nazwa Hasna Humaira

Pelajar dan Aktivis Dakwah


Virus corona yang sedang melanda berbagai negara, hingga saat ini masih tak kunjung mereda. Salah satunya negara Indonesia, yang saat ini kondisinya memprihatinkan. Sebab, segala sektor masyarakat menjadi terkendala, terutama dalam sektor pariwisata yang menjadi ladang perekonomian negara. Tempat wisata saat ini masih tutup sementara karena adanya pembatasan kegiatan masyarakat.


Sehingga, kapasitas yang dimiliki oleh para pelaku usaha hanya dapat 50% saja dari biasanya. Membuat mereka terdampak dalam proses produksinya dan kunjungan wisatawan yang semakin berkurang. Namun, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung, H Yosep akan membantu dan memfasilitasi pelaku usaha wisata dengan tidak menutup total dan menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat di wilayah yang selalu dikunjungi oleh wisatawan.


Bukan hanya itu, ia mengatakan diharuskannya wisatawan yang berkunjung untuk membawa bukti rapid test antigen yang menyatakan bahwa dirinya negatif dari covid-19 dan juga bukti telah divaksin. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan kembali sektor ekonomi pariwisata di Indonesia. Ia pun membantu pelaku usaha rumah makan/restoran agar dapat terus meningkatkan omsetnya di masa pandemi. (Galajabar.com, 19/08/2021)


Indonesia memang terkenal dengan tempat wisatanya yang indah, seperti Bali, Yogya, dan lainnya. Tak lupa Indonesia pun memiliki berbagai suku, adat budaya, dan aneka macam makanannya yang berbeda-beda, sehingga menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara datang berkunjung. 


Namun, di kala corona virus ini melanda, semua masyarakat bahkan negara pun terkena dampaknya, seperti kehilangan pekerjaan, kemiskinan meningkat, perekonomian negara morat-marit, kondisi sosial memprihatinkan yakni dengan maraknya tindak kemaksiatan serta kriminal, bahkan  hilangnya nyawa akibat wabah  tak terhindarkan.


Sebagai seorang pemimpin negara, sudah seharusnya ia bertanggung tanggung jawab penuh terhadap rakyatnya untuk memenuhi kebutuhannya juga mengatasi persoalan yang ada. Akan tetapi, sejauh ini pemerintah belum mampu untuk menjalankan amanah tersebut, sehingga membuat rakyatnya terperosok dalam zona kemiskinan yang berkepanjangan. Akses perekonomian masyarakat menjadi tertunda dan terbatasi, sedangkan biaya hidup semakin menghimpit. 


Dan sekarang, demi kepentingan pemasukan negara, pemerintah membuka kembali tempat-tempat pariwisata, padahal penyebaran virus masih mengancam. Lalu, bagaimana dengan dampak yang ditanggung oleh masyarakat?

 

Pemerintah yang selalu berpandangan bahwa solusi dari setiap masalah itu ada pada materi akan senantiasa bertindak untuk hal yang mendatangkan manfaat saja tanpa memperdulikan resiko yang akan rakyatnya terima. Inilah yang dinamakan sistem kapitalisme sekuler, meraup keuntungan secara maksimal untuk pribadi dan kelompok, sementara kemashalatan publik yang harusnya diutamakan justru minimal.


Namun, sistem Islam akan berbeda dalam menjalankan sebuah amanah untuk menjaga ataupun menyelesaikan setiap masalah yang dialami oleh rakyatnya. Pemimpin Islam akan bersegera untuk turun tangan bila ada sesuatu yang terjadi dengan rakyatnya. Seperti masalah pandemi saat ini, ia akan segera menyelesaikan masalah tersebut dengan cepat tanpa adanya dampak yang berkepanjangan bagi rakyatnya. Lebih dari itu, negara menjamin kebutuhan pokok yang dibutuhkan untuk sehari-hari, kepala per kepala, hingga tidak ada lagi masyarakat yang kelaparan.


Dalam sektor pariwisata, Islam merekomendasikan untuk berwisata ke tempat yang meningkatkan keimanan, seperti berziarah ke makam dan ke tempat-tempat yang bersejarah. Ataupun ke tempat-tempat yang memperlihatkan kebesaran-kebesaran Allah Swt. Islam pun tak memberatkan rakyatnya untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut dengan harga tiket yang mahal, sebab tempat wisata yang banyak dikunjungi itu adalah tempat-tempat milik umum seperti gunung, danau, pantai, dan lain-lain. Sehingga, masyarakat bebas untuk mengunjungi dan melihat kebesaran alam ciptaanNya. Allah Swt. berfirman:


“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS al-Hajj: 46). 


Maksud ayat di atas adalah bahwasannya ketika berkunjung ke suatu tempat, bukan hanya kesenangan dan kepuasan diri saja yang didapat, melainkan untuk mengambil pelajaran, hikmah, dan mentadabburi apa-apa yang telah Allah Swt. ciptakan di alam semesta ini.


Dan dalam sistem Islam tidak ada wisata yang membuat masyarakat muslimnya terperosok dalam jurang kemaksiatan, seperti khalwat dan ikhtilat  (bercampurnya pria dan wanita yang bukan mahram). 


Pemimpin Islam akan sigap dalam mengatur negara dan masyarakatnya agar selalu menghadirkan Allah di setiap aktivitasnya. Sehingga, antara kegiatan yang haq dan bathil di kehidupan sehari-hari tidak bercampur baur.  Allah Swt. berfirman,


"Dan janganlah kalian campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 42)


Sehingga, masyarakat muslim akan terjaga dari perilaku-perilaku yang menyimpang, atau bahkan kemusyrikan. Dan hanya akan terfokuskan pada perintah-perintah Allah Swt. kepadanya. Senantiasa mengerjakan amar ma'ruf nahi mungkar dalam kehidupan agar kenyamanan serta penjagaan antar individu, masyarakat dan negara terwujud.


Inilah sistem Islam yang akan membuat umat muslim senantiasa tunduk dan patuh terhadap perintah-perintah Allah Swt. dalam Al-Qur'an, dan ucapan Rasulullah (hadis) sebagai pedoman kedua bagi umat muslim untuk menjalani kehidupan. Namun, saat ini sistem Islam belum tegak dalam kehidupan, sehingga kita harus berjuang untuk bisa menerapkan Islam secara kaffah dengan berdakwah. Sebagai bentuk upaya umat muslim untuk menegakkan kembali sistem Islam dalam mengatur kehidupan.


Wallahu a'lam bi as-Shawwab