Sejahteranya Guru dalam Islam


Oleh Dara Millati Hanifah, S.Pd

Pemerhati Pendidikan


Seleksi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) bagi tenaga pendidikan sudah berjalan beberapa bulan. Namun, masih saja menuai protes dari berbagai pihak, karena dinilai tidak etis jika guru honorer harus diseleksi untuk mendapatkan kesejahteraan dari pemerintah. 


Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Demokrat Irwan Fecho menolak keras terkait ide pemerintah yang akan mengangkat guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau (PPPK) melalui jalan seleksi. Selain itu ia pun sangat menyayangkan sikap pemerintah yang membiarkan guru honorer mengikuti proses seleksi PPPK atau CPNS tanpa melihat masa pengabdiannya. Beliau mempertanyakan perhatian Mendikbud Ristek Nadiem Makarim terhadap pengabdian para guru. (Sindonews.com, 19/9/21)

Pasalnya selain sulitnya akses para guru honorer ini untuk lolos dalam ujian CPNS, gaji mereka pun amat sangat tidak sesuai dengan usaha yang mereka curahkan untuk memberikan pengajaran. Permasalahan gaji yang kecil inilah yang juga menjadi pemicu dari permasalahan terkait kesejahteraan guru. 

Pakar Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Cecep Darmawan mengatakan bahwa permasalahan guru honorer muncul karena pemerintah tidak memiliki rancangan induk (grand design) tentang guru.

"Dalam UU ASN, UU Guru dan Dosen, tidak dikenal dengan guru honorer, yang ada hanya guru ASN dan guru Yayasan. Kenapa bisa muncul guru honorer? Karena kelalaian pemerintah dalam mengangkat guru-guru menjadi ASN, banyak guru pensiun sementara namun yang diangkat minim," kata Cecep. 

Menurutnya, Pengangkatan guru honorer ini hanya mengandalkan anggaran dana BOS yang jumlahnya terbatas, akibatnya gaji para guru honorer tidak layak. Seharusnya Pemerintah membuat pemetaan untuk mengangkat guru honorer dengan memprioritaskan mereka yang memiliki pengabdian mengajar cukup lama. (Kompas.com, 22/02/2021)

Fakta di atas menunjukkan bahwa kesejahteraan guru saat ini masih sangat minim. Padahal, guru merupakan garda terdepan dalam upaya mencerdaskan generasi dan mengubahnya menjadi lebih baik. Namun, itu nyatanya pengorbanan mereka (dalam bentuk beban mengajar) tidak sejalan dengan apa yang yang diberikan satuan pendidikan serta gaji yang diterima oleh seorang guru.

Sungguh miris, saat melihat guru tidak mendapatkan kesejahteraan yang layak. Mengingat, kebutuhan untuk hidup sehari-hari semakin besar. Seharusnya pemerintah memberikan kesejahteraan bagi guru dalam bentuk besaran kompensasi alias gaji yang layak mengingat pekerjaan yang mereka lakukan bukanlah pekerjaan yang mudah.

Permasalahan minimnya penghargaan pada guru saat ini sebenarnya berpangkal pada sistem yang diterapkan kini  Sebab sistem yang menuntut manusia untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya, mengedepankan kepentingan para pemodal dan mengacuhkan rakyat kecil, termasuk para guru di dalamnya. Sungguh sulit mengharapkan kesejahteraan dari pemerintah saat ini. 

Berbeda halnya  jika sistem Islam yang diterapkan. Islam sangat memuliakan pekerjaan guru, terutama soal kesejahteraan mereka. Sejarah telah mencatat betapa sejahteranya kehidupan guru pada masa kekhilafahan, utamanya pada masa kepemimpinan Umar bin Khaththab.

Saat itu, Khalifah Umar bin Khaththab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63.75 gram emas; bila saat ini harga 1 gram emas Rp800rb saja, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar Rp51.000.000).

Pemberian gaji yang dilakukan pada masa itu tidak memandang status seorang guru, apakah ia pegawai negeri atau bukan. Semua yang berprofesi guru diberikan hak yang sama. Alhasil para guru saat itu benar-benar fokus dalam memberi pendidikan kepada para siswanya tanpa perlu mencari tambahan pendapatan, seperti yang dialami oleh para guru honorer secara umum pada saat ini.

Selain itu, Negara pun bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan pendidikan, baik di daerah maupun perkotaan. Negara akan menetapkan anggaran pendidikan dengan menggunakan uang dari Baitulmal. Juga memberikan sarana dan prasarana yang layak untuk pendidikan.

Maka tak heran saat Islam digunakan sebagai sistem hidup, terlahirlah banyak ilmuwan yang cerdas dan bertakwa. Mereka menghasilkan beragam karya yang bermanfaat, bukan hanya untuk keuntungan pribadi mereka, melainkan bagi Islam dan umatnya. Sungguh, hanya Islamlah yang layak digunakan dalam sistem pendidikan saat ini, bukan yang lain.

Wallahu a'lam bi ash-shawwab.