Ritual Pesugihan Hancurkan Moral dan Iman


Oleh Ummu Najla

(Komunitas Ibu Peduli Generasi)


Aksi kanibalisme pencongkelan mata anak yang dilakukan orang tua dan keluarganya sendiri menghebohkan masyarakat. Peristiwa yang terjadi di Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, memakan 2 tumbal. Korban adalah kakak beradik berinisial AP (6) mengakibatkan mata kanannya rusak. Selain itu DS (22), diduga tewas usai dicekoki 2 liter air garam oleh pelaku ritual pesugihan pada Rabu (1/9/2021).

Mirisnya, banyak kasus-kasus serupa yang terjadi di Negeri ini. Suburnya praktik pesugihan kerap dilakukan masyarakat untuk mencapai tujuannya. Bahkan sesajen dan tumbal pun menjadi kewajiban untuk mensukseskan ritualnya. Tak peduli harus mengorbankan nyawa keluarga dan buah hatinya sendiri.

Konon, beberapa praktik pesugihan masih sering dilakukan masyarakat, di antaranya: pesugihan Susuh Angin Salatiga, pesugihan Nyi Blorong. pesugihan Gunung Kemukus di Sragen Jawa Tengah, pesugihan Gunung Kawi Malang, pesugihan tuyul, pesugihan babi ngepet, pesugihan Gunung Talamau, pesugihan sumur kembar Gilimanuk, pesugihan Nyai Puspo Cempoko, pesugihan bulu genderuwo. 

Hawa Nafsu Runtuhkan Iman dan Moral

Ironis, ritual sesat penghamba setan dan nafsu sukses mengebiri peran orang tua. Mereka yang seharusnya menjadi tumpuan bagi sang anak, tempat berlindung dan berkasih sayang. Justru  menjadi sang penjagal hanya demi pesugihan. Hilang sudah hati nurani dan moral hanya demi dunia yang receh.

Lagi-lagi, krisis ekonomi dituduh menjadi biang kerok dari semua permasalahan ini. Hutang yang membelit. Kesenjangan sosial yang semakin curam dan menganga. Juga apatis dan pragmatisnya masyarakat dengan lingkungan sekitar. Ditambah lagi pemerintah yang abai mengurusi rakyatnya. Bahkan mereka sibuk dengan konstelasi politik dan perang baliho untuk pencalonan capres 2024. Sukses, menjadikan rakyat semakin gelap mata.

Lebih-lebih, Kapitalisme dengan paham sekulernya yang memisahkan dan menjauhkan agama dari kehidupan, terbukti menjadikan hawa nafsu mendominasi jiwa dan mengikis iman. Prinsipnya yang menghalalkan segala cara demi mencapai manfaat yang sebesar-besarnya sukses meruntuhkan iman dan moral kaum durjana. Karena, kekayaan materi adalah kebahagian dan tujuan dalam kehidupannya.  

Begitulah jika hawa nafsu sudah mendominasi. Ditopang pula oleh sistem yang rusak tanpa solusi. Jelas, melahirkan sosok-sosok pribadi yang tidak punya hati nurani bahkan lebih hina dari binatang ternak, sebagaimana firman Allah: 

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al- A’raf: 179).

Islam Menjamin Kesejahteraan 

Seharusnya, umat Islam kembali pada syariat Islam yang kafah. Maka, orang tua akan menyadari perannya. Mereka pun akan sadar bahwa anak adalah anugerah. Sekaligus amanah dari Sang Kuasa. Anak adalah investasi dunia akhirat dan tumpuan di hari tua. Bahkan, anak yang saleh bisa menjadi penyelamat orang tua di akhirat kelak. 

Rasulullah saw. bersabda:

 "Apabila manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak saleh yang berdoa baginya." (HR. Imam Muslim).

Islam pun telah mengajarkan bahwa rezeki itu adalah jaminan Allah. Manusia hanya dituntut untuk berusaha dengan cara yang halal. Sementara, hasilnya Allah yang menentukan. Allah Swt. berfirman:

”Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pemberi rizki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58).

Sayangnya, banyak umat yang terlena akan silaunya dunia. Atau putus asa dan frustasi hingga menghamba pada setan dan nafsu.  Bahkan menghalalkan segala cara, hingga hal keji sekalipun dilakukan. Padahal, Allah Swt. berfirman:

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada (anak-anak) mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al-Isra’: 31).

Apalagi melakukan praktik pesugihan jelas sebuah kemusyrikan yang sesat dan diharamkan. Bahkan pelakunya diancam neraka. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Al-Maidah ayat 72:

 “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka Allah pasti mengharamkan surga kepadanya, dan neraka adalah tempatnya.”

Allah Swt. pun telah berjanji bahwa ketika umat Islam kembali kepada syariat kafah, maka bumi akan dimakmurkan gemah ripah loh jinawi. Namun sebaliknya, jika kita ingkar maka hukumanlah yang akan kita tuai. Allah Swt. berfirman:

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?" (QS. Al-a’raaf: 96-98).

Sungguh, sudah terbukti selama 1400 tahun. Mulai dari masa kenabian hingga Khilafah Turki Utsmani tahun 1924. Umat Islam hidup sejahtera dan penuh kesejahteraan, bahkan surplus sebagaimana masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Terbukti untuk mendistribusikan zakat saja, mereka tidak menemukan 8 asnaf, karena rakyat makmur dan hidup sejahtera. Itu semua karena ketaatan mereka kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Sebaliknya, fakta yang terjadi saat ini, adalah bukti kehancuran umat. Akibat syariat  Islam ditinggalkan dan beralih pada hukum manusia yang menghamba kepada hawa nafsu. Maka, mari selamatkan umat dan negeri ini, dengan kembali kepada syariat Allah yang kafah dan haq. Waallahua'lam Bishawab.