Radikalisme dan Intoleran, Hidangan Hangat yang Masih Jadi Rebutan


Oleh Zulhilda Nurwulan

(Relawan Opini Kendari)


Pasca kemenangan Taliban atas Afganistan, peta politik dunia ikut bergeser tak terkecuali di Indonesia. Kemenangan Taliban diangap sebagai ancamn bagi sebagian pihak yang mencitraburukkan kedudukan Taliban. Sejarah kepemimpinan Taliban di masa lalu menjadi cambuk bagi masyarakat dan segelintir orang yang membenci kepemimpinan Islam. Menanggapi isu Taliban memang perlu analisis politik yang mendalam. Secara kasat mata, kepemimpinan Taliban memang terkesan ekstrim terlebih dalam metodenya menerapkan sistem Islam. Namun, sejatinya ada hal baik yang perlu diambil dari penerapan sistem oleh Taliban, yakni usaha mereka menegakkan hukum Allah di muka bumi terlepas cara mereka menjalankan metodenya. 

Kemenangan Taliban atas Afganistan dianggap sebagai awal munculnya kembali aliran radikalisme dan intoleran sehingga kampanye 'war of terrorism' kembali bergejolak. Kampanye nasional ini menjalar bahkan hingga ke pelosok negeri. 

Seperti dilansir dari ANTARA news, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Sulawesi Tenggara bersama Kepolisian Daerah (Polda) setempat menyiapkan buku untuk mencegah paham radikal dan intoleran. 

Ketua NU Sultra KH Muslim di Kendari, Kamis mengatakan, buku tersebut dibuat melibatkan akademisi dari Universitas Halu Oleo (UHO) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari sebagai upaya menangkal paham-paham yang dapat memecah belah bangsa dan negara.

Perang melawan radikalisme dan intoleran merupakan proyek mega bintang yang terus-menerus dihembuskan ke telinga masyarakat sebagai jalan masuknya ide-ide liberal demi mengukuhkan ide Islam moderat yang tengah menjalar di sebagian lapisan masyarakat.

Selaras dengan hal tersebut di atas, Daniel Pipes, Presiden Middle East Forum—wadah pemikir konservatif Amerika, sudah sejak lama menyatakan bahayanya Islam militan atau Islam radikal, dan pada 2007 menyatakan bahwa Islam militan adalah musuh, Islam moderat adalah solusinya. Sehingga, untuk melakukan kontra terorisme, selain dengan melaksanakan operasi militer, langkah yang tidak kalah efektif adalah memerangi pemikiran-pemikiran yang memotivasi mereka. Tambahnya, salah satu langkah utama adalah merumuskan dan menyebarluaskan Islam yang modern, moderat, demokratis, liberal, hidup bertetangga secara baik, manusiawi, serta menghargai kaum perempuan.

Sayangnya, definisi mereka tentang radikalisme dan intoleran sangat jauh dari arti yang sebenarnya.  Yang mendapatkan sebutan radikal, teroris, jihadis, ataupun fundamentalis adalah kelompok kaum muslimin yang berjuang ingin menerapkan aturan Islam kafah dalam bangunan Khilafah Islamiah. Dengan demikian, sangat jelas target dari perang melawan radikalisme dan intoleran ini. Lantas, siapakah dalang dibalik seruan 'war of terrorism'?

Ketakutan Barat Terhadap Ideologi Islam

Kemenangan Taliban atas Afganistan ternyata membawa dampak yang sangat kuat terhadap isu radikalisme di Indonesia. Sebagian pihak menganggap bahwa kemenangan Taliban sebagai kemenangan kelompok radikal, sehingga akan berpengaruh terhadap kelompok radikal di manapun kelompok itu berada. Anggapan itu jelas akan meningkatkan kembali perang melawan terorisme dunia. Terlebih adanya ledakan bom Kabul yang digunakan oleh dunia internasional sebagai bukti masih adanya terorisme.

Sejatinya, perang melawan terorisme telah dikumandangkan oleh Presiden AS George W. Bush pascaserangan 11/9/2001. Program ini mendapatkan dukungan PBB dan negara-negara di dunia. AS kemudian membangun koalisi dengan negara-negara di seluruh dunia dan mengadakan Operation Enduring Freedom (OEF), yang dimulai pada 7/10/2001, memerangi Taliban yang dianggap bekerja sama dengan Osama bin Laden dalam peristiwa 11/9/2001.

Henry Kissinger, Asisten Presiden AS untuk urusan Keamanan Nasional 1969—1975 dalam sebuah wawancara pada 2004 menyatakan, “Apa yang kita sebut sebagai terorisme di Amerika Serikat, tetapi sebenarnya adalah pemberontakan Islam radikal terhadap dunia sekuler dan terhadap dunia yang demokratis, atas nama pendirian kembali semacam kekhalifahan.”

Jika menganalisis lebih jauh, sebenarnya Barat saat ini tengah berada pada posisi yang sangat lemah. Namun, sebagai negara adidaya yang telah memiliki banyak negara boneka tentu AS tidak akan mau menyerah begitu saja sekalipun sudah sangat jelas kelemahan yang mereka tampakkan. Kedudukan AS saat ini sudah diambang kehancuran. Hal ini dibuktikan dengan adanya perjanjian perdamaian yang mereka jalin dengan Taliban melalui pertukaran tahanan dan seruan menarik angkatan militer mereka dari Afganistan. Adalah pemandangan yang sangat tidak biasa mengingat AS adalah satu-satunya negara superpower yang mampu mengubah tatanan politik dunia. Namun, bagi negara apa pun yang bekerja sama dengan AS perlu menyadari bahwa mereka bukanlah negara yang bisa dijadikan sekutu, seyogianya sudah banyak negara yang menjalin kerjasama dengan AS, namun pada akhirnya mereka mengkhianati perjanjian.

Islam Akan Berjaya Sekalipun Terus Dimusuhi

"Sesungguhnya agama (yang sah) di sisi Allah ialah Islam." (QS. Ali 'Imran[3]: 19).

Sebagaimana kutipan ayat di atas, Islam adalah agama sekaligus ideologi yang sistematik. Islam hadir dengan pemikiran dan juga metode pelaksanaan hukum yang benar. Ideologi Islam yang benar dianggap ancaman bagi para penganut sekularisme dan juga bagi komunis. Akan tetapi, sebesar apa pun kebencian mereka terhadap Islam tidak membuat Islam itu kalah melainkan makin menguatkan semangat para pejuangnya untuk memenangkan Islam di muka bumi.

Tidak bisa dipungkiri, Islam pernah berjaya kurang lebih 14 abad dan mampu menaungi 3/4 belahan dunia yang sejatinya merupakan kemustahilan bagi sebuah ideologi penjajah untuk menciptakan hal ini. Kemenangan Islam tentu tidak akan terjadi tanpa pertolongan Allah Swt. Keimanan para pejuangnya menjadi semangat yang tak terbendung oleh kekuatan apa pun. Keyakinan mereka pada janji Allah dan berita yang dibawa Rasulullah saw. menjadi pegangan dan motivasi mereka dalam memperjuangkan Islam. Semangat mujahid yang senantiasa mengalir dalam diri para pejuang Islam adalah ketakutan bagi para sekuleris baik penjajah maupun pemerintah negeri muslim itu sendiri yang menganut sistem sekuler.

Di samping itu, para pejuang Islam meletakkan keimanan di posisi paling utama dalam mengarungi kehidupan. Kelak, jika Islam memimpin dunia, Islam mengharuskan negara berpegang teguh kepada aturan Allah dan Rasul-Nya, menjalankan syariat secara kafah, dan tidak tunduk kepada aturan kafir Barat lebih-lebih menjadi agennya. Dengan demikian, negara demokrasi yang tunduk kepada penjajah Barat tidak layak menjadi harapan. Alih-alih memberikan perlindungan, ia justru akan menyerahkan umat di bawah kendali penjajah dan menjauhkan umat dari Islam, yang jelas akan membahayakan agamanya.

Islam mengharuskan negara untuk memimpin dunia dan menjadi rahmat bagi seluruh alam, serta mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh manusia. Semua itu akan menjadi nyata dengan tegaknya Daulah Khilafah Islamiah.

Khilafah Islamiah akan menjadi pelindung umat dari serangan musuh Allah, baik secara militer maupun pemikiran. Khilafah akan menjadi perisai agar umat tetap istikamah menjalankan Islam dan mendapat rida Allah Swt. di dunia dan akhirat. Wallahu a'lam bishshawab.