Perlakuan yang Terbalik


Oleh Rohmah SE, Sy


Baru-baru ini berita pembebasan seorang penyanyi dangdut yang terkenal disambut bak pahlawan. Pembebasannya seakan sangat dinantikan. Miris. Penyanyi dangdut Saipul Jamil, seorang pelaku kejahatan koruptor dan pencabulan anak di bawah umur, bebas dari penjara dan mendapat sambutan luar biasa. Selain itu Saipul Jamil juga mendapat banyak tawaran job di layar kaca. Seperti tidak masalah sama sekali akan statusnya.

Fakta itu membuat sebagian masyarakat gerah. Di satu sisi, Saipul Jamil disambut bak pahlawan, sementara di sisi lain, korban pencabulan masih berjuang untuk menghilangkan trauma yang dialaminya akibat perbuatan penyanyi dangdut tersebut.

Kegerahan publik itu kemudian diluapkan dalam bentuk petisi online. Hingga Sabtu (5/9/2021) pukul 10.37 WIB, sebanyak 288.583 orang sudah menandatangani petisi boikot Saipul Jamil. Dilansir oleh laman change.org. (Kompas.com, 5/09/21).

Masih dilansir dari kompas.com, 5 september 2021, seorang Pakar hukum pidana, Abdul Ficker menyayangkan penyambutan Saipul Jamil yang seperti pahlawan itu. Padahal Saipul Jamil terjerat kasus tercela, yakni pencabulan dan penyuapan (korupsi).

Kasus pencabulan terhadap remaja yang dilakukan oleh Saipul Jamil terungkap pada tahun 2016. Selain melakukan pencabulan, Saiful Jamil juga terjerat kasus suap. Ia terbukti melakukan suap kepada panitera Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Rohadi, sebesar Rp50 juta.

Mirisnya kondisi sekarang hukum bisa dijualbelikan bak makanan yang enak sesuai dengan harganya dan sayangnya kejadian itu tidak menjadi pelajaran bagi mereka yang melakukan kemaksiatan. Malah menjadi ajang, banyak yang masuk dan keluar penjara dengan tidak tobat alias masih mengulangi perbuatannya.

Dari kasus tersebut Saiful Jamil hanya di penjara beberapa tahun saja. Sedangkan trauma yang di alami korban belum kunjung sehat. Entah berapa lama waktu yang diperlukan. 

Beginilah jika kita masih mengagungkan sistem buatan manusia. Tidak ada keadilan yang didapat oleh masyarakat.

Bebasnya Saiful Jamil jelas mengejutkan publik apalagi keluarga korban pencabulan yang dilakukan Saiful, yang lebih menyakitkan lagi trauma yang dialami oleh korban pelecehan tidak bisa hilang dalam waktu singkat 

Inilah buah dari penerapan sistem buatan manusia yaitu sistem sekularisme yang tidak mengenal pengaturan agama dalam institusi negara. 

Sehingga hukum bisa diubah dan diatur sesuai selera pemilik kekuasaan. Pemberian remisi bagi pelaku dua tindak kejahatan ini merupakan perlakuan yang seharusnya tidak terjadi. 

Pencabulan merupakan perbuatan nista yang jelas diharamkan dalam Islam. Pelakunya akan dijatuhkan hukuman yang berat, apalagi telah menimbulkan trauma pada korban. 

Inilah jika hukum Allah tidak dijadikan sebagai pemecah permasalahan manusia. Padahal Allah telah memerintah manusia baik laki-laki maupun perempuan untuk selalu menjadikan syariat sebagai pemutus dari segala permasalahan. 

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 36, berikut:

وَمَا كَا نَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا

"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata."

Allah Swt. dalam surat ini memperingatkan pada manusia bahwa adalah tidak pantas mengambil pilihan lain setelah Allah menetapkan suatu perkara.

Wallahu a'lam bishshawab.