Perda Pesantren Benarkah demi Kesejahteraan?


Oleh Tsamratul Ilmi 

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Pesantren adalah lembaga pendidikan non formal, tempat santri menimba ilmu agama. Banyak sudah ulama, ustadz, kiai, yang dilahirkan dari pesantren. Ulama atau orang yang berilmu diibaratkan oleh Rasulullah saw. sebagai bintang di langit, memberikan cahaya di tengah kegelapan minimnya ilmu yang dimiliki masyarakat pada umumnya. Dari perkataan ulama lah, umat mengetahui dan memahami visi misi kehidupan agar tak  salah arah.

Di Kabupaten Bandung khususnya, pondok pesantren tersebar luas dan banyak jumlahnya. Sebagai bentuk perhatian pemerintah dalam waktu dekat akan dibuat Perda Pondok Pesantren, yang merupakan turunan dari Undang-undang Pondok Pesantren dan Perpres nomor 82 tahun 2021. Demikian disampaikan oleh Bupati Bandung, Dadang Supriatna.(AYOBANDUNG.COM)

Masih menurut Dadang, Perda Pesantren ditujukan demi kesejahteraan pesantren yaitu untuk membantu para kiai dan santri. Sebelumnya sudah ada sekitar 17 ribu ustaz dan ustazah yang mendapat insentif setiap bulannya, juga diberikan BPJS kesehatan dan ketenagakerjaannya.

Niat baik pemerintah semoga cepat terealisasi, walaupun tentu saja yang kita harapkan bukan hanya pesantren yang mendapat perhatian. Masyarakat secara umum juga membutuhkan kepedulian pemerintah, apalagi di masa sulit karena pandemi.

Bukan tanpa alasan munculnya pertanyaan, ada apa sebenarnya di balik perhatian pemerintah terhadap pondok pesantren? Mengingat masih banyak yang memerlukan uluran tangan pemerintah yang sifatnya darurat, seperti kelaparan. Mengapa tidak mereka yang didahulukan sebab berkaitan dengan nyawa. 

Selain itu, program moderasi Islam yang sudah digulirkan dan massif dikampanyekan, memungkinkan pemerintah berkehendak diajarkan juga di pesantren-pesantren. Moderasi Islam yang nyata-nyata bukan dari Islam dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam biar diakui oleh para santri maupun kiai sebagai ajaran yang Islami, ketika disematkan kata "Islam". Islam moderat adalah Islam versi Barat, sesuai kehendak Barat yaitu Islam yang menerima nilai-nilai Barat yang bertentangan dengan Islam.

Islam moderat atau moderasi Islam tidak lebih merupakan program global yang direkomendasikan oleh Rand Corporation untuk melemahkan umat Islam. Islam dikotak-kotak menjadi Islam fundamentalis, Islam moderat, Islam tradisionalis dan yang lainnya, tidak lain kecuali untuk menciptakan perpecahan dan menjauhkan umat dari ajaran Islam yang benar. Ajaran Islam dipasung. Jihad yang sudah biasa diajarkan di pesantren, dan merupakan amalan tertinggi meraih surga,  dituduh sebagai ajaran yang bisa memicu radikalisme. Sejalan dengan Perda dimungkinkan ada pesanan agar jihad tidak diajarkan dalam artian memusuhi musuh Islam, tapi cukup dengan mengajarkan jihad sebagai melawan hawa nafsu saja. Tidak peduli Allah murka karena sama saja dengan mengebiri ajaran Islam. 

Jika benar perhatian pemerintah semata-mata hendak menyejahterakan pesantren, seharusnya menerapkan sistem ekonomi Islam bukan kapitalisme. Dengan penerapan ekonomi Islam bukan hanya pesantren yang sejahtera, juga masyarakat pada umumnya. Kemiskinan, kelaparan, PHK, biaya hidup semakin tinggi, semuanya buah diterapkannya ekonomi kapitalisme. Kesenjangan semakin lebar, uang susah didapat, harga-harga terus meningkat, kontradiktif dengan kenaikan harta pejabat.

Kapitalisme bukanlah jalan menuju kesejahteraan secara umum. Hanya orang-orang kapital baik swasta maupun asing mendapatkan bagian terbesar kekayaan negeri ini. Keberpihakan pemerintah bukanlah kepada rakyat. Rakyat hanya menjadi sapi perahan dengan berbagai pungutan pajak. Pembangunan atau investasi tidak begitu dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Besarnya investasi tidak ada korelasinya dengan beranjaknya masyarakat menuju kesejahteraan. 

Penguasa tidak mampu menghantarkan masyarakat terhadap kelayakan hidup. Maka jangan sampai pesantren dibidik sesuai kepentingan penguasa untuk membungkam penjarahan kekayaan alam oleh asing, atas restu penguasa. Sementara pemilik sah kekakayaan negeri ini hanya nonton dengan perut lapar.

Kapitalisme sangat bertentangan dengan Islam. Teroris adalah tuduhan yang selalu disematkan kepada orang Islam, ulama difitnah, yang tidak menerima nilai-nilai barat disebut ekstrimis, khilafah, syariat dimonsterisasi. Maka dari sini seolah tidak ada relevansinya dengan perhatian pemerintah yang hendak mensejahterakan pesantren dengan cuma-cuma.

Kita hanya bisa menunggu benarkah Perda Pesantren sesuai dengan tujuannya? Perlu kita cermati agar pesantren tidak dikhianati. 

Penguasa dalam sistem Islam sepanjang sejarah telah mampu secara nyata mengantarkan masyarakat sejahtera. Pendidikan, kesehatan, keamanan nyaris tanpa biaya. Belum lagi lapangan kerja begitu mudah didapat. Tidak boleh ada warga negara yang sudah terkategori wajib mencari nafkah berdiam diri tidak bekerja. Penerapan ekonomi Islam yang tidak membolehkan kekayaan alam dikuasakan kepada asing  ditunjang dengan sistem sosial, pemerintahan, sanksi, politik yang berbasis akidah Islam mengokohkan bangunan sistem Islam mengurusi segenap rakyatnya tanpa campur tangan asing. Kaya, miskin, muslim, non muslim semuanya diayomi.

Sistem shahih ditopang pemimpin shalih yang amanah, bukan hanya lembaga pendidikan yang diperhatikan tapi segenap rakyat, individu per individu mendapatkan perhatian yang sama, sesuai syariat. Rasulullah saw. bersabda:

 "Seorang pemimpin adalah penanggung-jawab, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh urusan rakyatnya". (HR. Bukhari)   

Wallahu a'lam bi ash shawwab