Peran Media Dalam Meningkatnya Kejahatan Seksual


 

Oleh Yuli Ummu Raihan
Aktivis Muslimah Tangerang

Miris. Seorang eks narapidana kasus pelecehan seksual disambut bak pahlawan negara saat keluar dari penjara. Seolah diberi karpet merah ia safari dari satu media ke media lain membuat opini seolah ia terzalimi. Ia adalah pelaku kejahatan sosial, namun membangun opini seolah menjadi korban. Videonya menjadi viral hingga menuai pro dan kontra. 

Sutradara Angga Sasongko adalah salah seorang yang protes terkait pemberian panggung kepada SJ di layar kaya. Melalui akun Twitter-nya @anggasasongko ia memutuskan memberhentikan semua pembicaraan kesepakatan distribusi film Nussa Rara dan Keluarga Cemara dengan stasiun TV terkait karena tidak berbagi nilai yang sama dengan karya yang ramah anak. Ia juga mengatakan pemberitahuan ini bermaksud untuk mendukung gerakan melawan glorifikasi kepada pelaku kekerasan seksual pada anak di media. 

Sebuah petisi untuk memboikot SJ di layar kaca dibuat oleh akun Let's Talk and Enjoy telah mengantongi 309.353 suara. (Pikiran Rakyat.com, 5/9/2021). Isinya meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pusat agar mencegah SJ untuk tampil lagi di layar kaca dan YouTube. Ini demi memperhatikan nasib korban yang masih trauma meskipun SJ telah menyelesaikan masa hukumannya. 

Senada dengan petisi ini publik figure Dedy Corbuzier di akun Twitter-nya @Corbuzier menanyakan diamnya KPI atas kejadian ini padahal protes masyarakat sudah banyak. Ia juga menyentil KPI yang ternyata juga sedang menghadapi masalah serupa di dalam lembaganya. 

Cium 'Bau Bangkai' komentar Komika Ernest Prakasa menanggapi  penyambutan dan pemberian panggung terhadap SJ. Masih banyak lagi publik figure dan masyarakat yang protes dan kontra terkait kejadian ini. Namun tidak sedikit juga yang justru membela eks napi ini. Mereka mengatakan jangan mematikan rezeki orang lain karena dia telah menjalankan hukuman atas perbuatannya. Semua orang punya sisi kelam, biarkan mereka berubah dan berkarya kembali. 

SJ hanya satu dari sekian banyak tindak kejahatan seksual yang seolah diberi ruang untuk eksis di muka umum. Ada apa dengan media kita hari ini? 

Masyarakat berharap KPI mampu bersikap tegas terhadap kasus ini. Namun, rasanya jauh panggang dari api karena KPI sendiri tersandung kasus serupa. KPI sedang menjadi sorotan karena diduga melakukan pembiaran terhadap dugaan kasus kekerasan seksual dan perundingan yang telah terjadi bertahun-tahun dalam lembaganya. 

Media dalam sistem kapitalisme lebih mementingkan keuntungan materi ketimbang kualitas tayangan. Demi mendapat rating tinggi tayangan receh dan unfaedah   ditayangkan terus menerus. Tayangan yang tidak layak bahkan merusak justru bisa tayang di prime time. Kalau pun ada tayangan yang baik dan mendidik tidak sebanding porsinya. 

Begitu juga media sosial hari ini yang bak hutan belantara, berisi segala macam konten baik positif dan negatif. Postingan atau konten kekerasan, penyimpanan seksual, pornografi dan pornoaksi berseliweran setiap saat tanpa ada filter apalagi sanksi. 

Media dalam sistem kapitalisme tidak memiliki visi untuk mengajarkan kebaikan dan nilai-nilai luhur. Media berada di bawah kendali korporasi, disetir sesuai arahan mereka. Materi adalah tujuan utama. Mirisnya negara kehilangan peran untuk memantau, dan menentukan tayangan yang layak atau tidak. Tidak ada sanksi yang tegas terhadap media-media yang telah nyata menayangkan acara yang tidak mendidik meski telah banyak laporan dari masyarakat. 

Media dalam sistem kapitalisme menjadi corong menyebarkan ide, dan publik figure sebagai role modelnya. Tentu kita masih ingat kasus artis LM dan A yang tetap eksis di layar kaca pasca kasus video syur mereka. Belum lagi kasus prostitusi online beberapa artis. Bahkan fenomena artis hamil di luar nikah, selingkuh, seks bebas, pacaran seolah hal yang biasa dan bukan tindakan kriminal. Hal ini dipertontonkan dengan jelas oleh media.

Hak Asasi Manusia atau HAM selalu didengungkan untuk membenarkan perbuatan mereka. Bahkan pelaku penyimpangan seksual diberi panggung untuk menceritakan ketidaknormalan mereka.

Masyarakat digiring untuk memaklumi mereka, dan menyoroti sisi positif mereka seperti prestasi di dunia keartisan, karya musik atau filmnya. Fakta mereka melakukan kejahatan dan penyimpangan seksual diabaikan. Bahkan ketika ada yang bersuara dianggap sok suci. "Toh semua kita pendosa, hanya level dosanya yang berbeda. Jadi, tidak perlu mengurusi hidup orang lain." Begitu narasi yang berkembang. Astaghfirullah. 

Kita sangat sadar bahwa tontonan itu bisa berubah menjadi tuntunan. Ketika media terus menerus menyiarkan hal-hal semacam ini maka tidak menutup kemungkinan beberapa tahun lagi masyarakat menjadi biasa dengan hal ini. Menjadikannya tuntunan hidup. Masyarakat yang jauh dari pemahaman agama sering kali menduplikasi tokoh idolanya. Dari gaya berpakaian, bicara, kebiasaan sehari-hari idolanya diikuti demi menunjukkan kecintaannya. 

Dengan dalih kebebasan berekspresi yang dijamin oleh sistem kapitalisme, aturan agama dan norma pun diabaikan. Aturan agama hanya boleh di ruang pribadi. Bahkan bisa jadi dicampakkan saat berbenturan dengan aturan manusia. 

Dalam Islam tidak ada kebebasan mutlak. Islam mengatur segala urusan manusia. Islam juga mengatur media agar menjalankan fungsi utamanya sebagai sarana informasi bagi masyarakat. Dalam Islam media berfungsi strategis untuk melayani ideologi Islam baik di dalam maupun di luar negeri Islam. Pemerintah wajib mengontrol media dan memastikan media tidak berseberangan dengan ideologi Islam. 

Media berperan membangun masyarakat yang teguh keimanannya. Oleh karena itu media hanya boleh menayangkan acara-acara yang menghadirkan suasana keimanan. 

Media dalam Islam juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang pelaksanaan kebijakan dan hukum Islam di dalam negeri. Media akan menjadi sumber informasi masyarakat, dan sarana komunikasi yang efektif dan efisien antara pemerintah dan rakyatnya. 
Ini adalah fungsi media di dalam negeri. 

Sementara fungsi media di luar negeri adalah menyebarkan dakwah Islam baik dalam kondisi perang atau damai. Media akan menjadi sumber informasi bagi dunia terkait keagungan Islam dan ajarannya. 

Media juga akan membongkar kebobrokan kufur, mempropagandakan Islam, menggetarkan musuh, memudahkan,  penggabungan negeri-negeri Islam menjadi bagian dari daulah Islam. 

Begitu pentingnya peran media, maka kita rindu media yang berpihak pada Islam. Media yang memberikan tayangan manfaat. Kita rindu media yang membuat keimanan kita meningkat, rasa bangga dan kagum kita terhadap Islam bertambah. Media yang tidak membuat kita was-was karena tayangannya positif dan mendidik. Semua itu hanya bisa jika negeri ini menerapkan Islam secara kafah dalam bingkai negara Islam yaitu daulah Khilafah. 

Maka, sudah saatnya kita berjuang bersama mewujudkan negara yang memegang kendali penuh atas media. Menjadikan media sarana  penunjang kebaikan untuk masyarakat. 
Wallahu a'lam bishawab.